
"Rin, kamu jemput aku ya? Aku pulang hari ini," minta Diko yang membuat Sherina memekik kegirangan.
"Kamu pulang hari ini?! Astaga, Ko. Kamu ini bener-bener ya!" Sherina benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.
"Udah, Rin. Nggak usah marah-marah. Jemput sekarang, ya? Nanti kita mampir ke makam ibu sekalian," ucap Diko mencoba menenangkan Sherina yang mungkin saja akan mengeluarkan seribu ceramahnya untuk dirinya.
Sherina pun menyetujui permintaan Diko. Wanita itu berjalan masuk kembali, dan hal itu membuat Nessie menatap Sherina dengan tatapan bingungnya.
Sebenarnya ada rasa penasaran dalam diri wanita itu. Tapi yang wanita itu pikirkan untuk saat ini adalah bagaimana caranya agar setelah melahirkan anak yang sedang dirinya kandung ini, Sherina akan meninggalkan Ivander.
Setelah semua siap, Sherina yang sudah berganti pakaian dengan pakaian santainya itu pun segera turun ke bawah.
Saat dirinya akan keluar dari rumah, pertanyaan yang diberikan oleh suaminya berhasil membuat Sherina menghentikan langkahnya.
"Hari sudah hampir larut, dan kau akan pergi?" ujar Ivander yang langsung membuat Sherina tersenyum.
"Aku ada urusan sedikit, dan kemungkinan aku akan pulang lebih malam, nanti. Jika kau membutuhkan sesuatu, minta tolonglah pada calon istrimu itu. lagipula, sebelum-sebelum ini kau sama sekali tak pernah ikut campur dengan urusanku, bukan? Jadi lebih baik jika kauk melakukan hal yang sama."
Setelah mengatakan hal tersebut, Sherina pun segera menaiki mobilnya untuk bergegas ke bandara. Dalam perjalanan, wanita itu membayangkan betapa bahagianya jika dirinya berjumpa dengan Diko.
Ya, persahabatan yang sudah mereka jalin sejak kedatangan Sherina ke kota, membuat keduanya sudah mengenal satu sama lain dengan sangat baik.
__ADS_1
Tak lama sertelah itu, mobil yang Sherina kendarai telah tiba di bandara. Wanita itu segera keluar dari mobil dan menadatangi tampat yang sudah sahabatnya katakan.
"Apakah benar dengan Bapak Diko?" tanya Sherina dengan nada bercandanya, yang membuat seorang pria bertopi hitam itu mendongakkan kepalanya.
"Sherina?!" Dengan begitu leganya, pria itu segera bangkit dan memeluk Sherina denga begitu erat.
Sherina yang tenggelam dalam pelukan hangat pria itu, hanya dapat tertawa dengan begitu bahagia. Dia tidak menyangka, jika akhirnya setelah 4 tahun lamanya, kini dirinya dapat berjumpa kembali dengan Diko.
"Aku kangen kamu, Rin." Diko berbisik lembut saat dirinya masih memeluk Sherina.
Sherina yang mendengar hal itu pun hanya dapat tersenyum tipis, sembari mengelus punggung kekar milik sang sahabat.
"Salah sendiri ganti nomor tapi nggak ngabarin!" ujar Sherina sembari memukul lengan berotot milik Diko, setelah pria itu melepaskan pelukannya.
"Diko! Jangan usil, Ko!" Sherina mencoba menjauhkan tangan besar milik Diko dari atas kepalanya.
Saat melihat wajah kesal Sherina, barulah pria itu dapat tertawa dengan puas. Pria itu mengajak Sherina untuk pergi ke parkiran dengan alasan karena hari semakin sore dan waktu mereka sedikit terbatas.
"Kalau hari ini udah nggak sampai, ya bisa besok pagi kan bisa. Nggak harus dikejar hari ini, Ko." Sherina menolehkan kepalanya, dan menatap Diko yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya.
"Aku berangkat ke Jerman pamit sama ibu, makanya aku pulang juga mau ketemu sama ibu." Diko tersenyum santai sembari menolehkan kepalanya untuk menatap Sherina.
__ADS_1
Sherina yang melihat besarnya tekad Diko untuk bertemu dengan sang ibu pun tersenyum bangga. Dia sangat beruntung karena memiliki sahabat yang sangat bisa diandalkan seperti Diko.
Setelah beberapa saat, keduanya pun telah tiba di tempat pemakaman. Keduanya segera turun dan tal lupa membeli bunga di toko sebelum masuk makam.
"Aku mita maaf ya, Rin. Aku nggak ada buat kamu, pas ibu nggak ada. Andai aku tahu pas hari ibu nggak ada, aku pasti pulang." Pria itu merangkul pundak milik Sherina yang langsung menganggukkan kepalanya sembari mengacungkan jempolnya kepada Diko.
"I'am fine, Bro. Santai," ujar Sherina mencoba menenangkan Diko.
Merke berdua pun menghabiskan waktu mereka hingga senja hampir tenggelam. Sebelum mereka bangkit untuk pulang, Diko tiba-tiba memegang tangan kecil milik sahabatnya itu.
Sherina yang terkejut pun menatap Diko dengan tatapan bingungnya. "Kenapa?" tanyanya.
Diko yang mendengar pertanyaan Sherina itu, menarik napasnya panjang-panjang sebelum akhirnya dia ikut berdiri.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Diko sembari mengambil sebelah tangan Sherina lagi.
Sherina semakin bingung dengan tingkah dari sahabatnya. Kenapa tiba-tiba Diko berubah menjadi se-serius ini.
"Apa sih, Ko? Nggak usah tegang-tegang gini, ah! Nggak lucu!" tanya Sherina sembari berusaha melepaskan kedua tangannya yang digenggam dengan lembut oleh pria itu.
"Sebenernya tujuan aku pulang dan sekalian ajak kamu ketemu ibu itu, karena aku mau serius sama kamu. Aku tau, aku salah karena pergi ninggalin kamu dengan begitu aja. Tapi percaya sama aku, aku ngelakuin itu semata-mata biar aku fokus kuliahnya. Aku susah lupain kamu, Rin."
__ADS_1
Sherina dibuat terkejut bukan main dengan perkataan Diko. Wanita itu benar tidak menduga jika pria yang ada di hadapannya ini memendam perasaan padanya.
"Aku mau lamar kamu ya, Rin? Aku cinta sama kamu."