
Jet pribadi milik Marvin mulai lepas landas meninggalkan negara penuh kisah itu. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Marvin mengecup kenging Sherina. Dirinya benar-benar sangat menyayangi wanita itu.
"Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa pergi dariku." Marvin mengaitkan jemarinya dengan jari-jari lentik milik Sherina, lalu menciumnya.
Dia tidak akan pernah bosan untuk memandang wajah cantik itu. Dia sudah mempersiapkan semuanya, bahkan acara pernikahannya dengan Sherina pun sudah dirinya siapkan.
Sementara di seberang sana, seorang pria yang tengah duduk di balkon rumahnya itu, masih menatap pesan yang sejak tadi dirinya tatap tanpa rasa bosan.
Sementara Anne, wanita yang baru saja terbangun karena Kanwa menangis itu, bergegas masuk ke kamar Ivander. Wanita itu mengernyit ketika tidak melihat adanya Ivander di atas ranjang.
"Hallo, Sayang. Kenapa kau menangis, hm? Apakah kau lapar?" Anne naik ke atas ranjang dan mulai mengangkat tubuh gempal bayi itu.
Ya, awalnya Ivander memang merasa sangsi dengan Anne. Tapi pada akhirnya, perkembangan tubuh putranya lah yang menjawab keraguannya kepada Anne. Bobot tubuh putranya itu berangsur naik drastis, menyusul angka yang sudah ditargetkan oleh dokter pribadi bayi tersebut.
__ADS_1
Anne mulai menyu*sui bayi laki-laki itu, dan menunggunya hingga kembali tertidur. Selama menunggu Kanwa tertidur, wanita itu selalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
"Dimana, Tuan Ivander?" lirih Anne sambil mengedarkan tatapannya.
Setelah berhasil menidurkan Kanwa kembali, Anne segera beranjak. Niat hari ingin langsung kembali ke kamarnya, dia justru mendengar suara batuk Ivander di balkon.
"Anda di sini, Tuan?" Ivander tidak menjawab, dia hanya menoleh sejenak kepada Anne yang menatapnya dari batas pintu balkon.
"Saya sudah selesai menidurkan tuan Kanwa. Tugas saya sudah selesai, jadi saya kembali terlebih dahulu."
Anne yang merasa jika tidak diajak berbicara dengan Ivander itu belum menyahut. "Aku berbicara padamu, Ann."
Anne seketika gelagapan ketika pria dingin itu menatapnya. Dia menghela napasnya lalu mengisyaratkan agar Anne duduk di bangku yang ada di seberangnya.
__ADS_1
"Cemburu itu wajar, Tuan. Karena bagaimana pun Sherina pernah menjadi istri Anda. Tapi jika Tuan memiliki niat buruk untuk merusak kebahagiaannya, itu baru tidak wajar." Anne tidak membalas tatapan pria itu.
Sedikit canggung memang, karena memang dirinya tidak pernah berbicara dengan Ivander, kecuali jika menyangkut tentang Kanwa. "Bukan seperti itu. Aku juga sama sekali tidak memiliki niatan untuk merusak kebahagiaannya. Dan ya, kau tidak perlu terlalu formal padaku. Kau bekerja untuk putraku, bukan untukku. Jadi hanya dialah yang bisa kau anggap tinggi."
Anne hanya mengangguk. Dia menatap langit gelap di hadapannya itu dengan mata sendunya. "Sherina terlalu sempurna jika hanya terus-terusan mendapat luka. Dia berhak bahagia, dia sudah cukup menderita."
Ivander hanya mengangguk, menyetujui apa yang Anne katakan. "Apakah kau masih mencintainya?" Anne coba bertanya pada Ivander.
Dengan mantap pria itu mengangguk. "Tentu saja, dia cinta terakhirku. Aku tidak akan pernah mencari penggantinya."
Anne tersenyum mendengarnya. Terdengar naif memang, tapi dirinya tahu bagaimana rasanya mencintai orang yang sudah tak lagi mencintainya.
"Baguslah. Setidaknya kau akan merasakan karma yang seharusnya kau dapat." Ivander tersenyum miring sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kemasi barang-barangmu. Kita akan kembali ke negaraku."