Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 12


__ADS_3

Dengan tatapan tajamnya, Sherina tersenyum tipis sembari berjalan mendekati ranjang milik suaminya. Wanita itu berdiri tepat di sebelah Nessie yang terlihat begitu gugup, dengan ponsel yang dirinya genggam erat.


"Apakah Anda puas, setelah berhasil mengikat suami saya dengan adanya janin di rahim mu? Kau tak malu pada kodratmu sebagai perempuan?" ujar Sherina dengan nada penuh tekanan, sembari mengangkat tangannya ke arah Nessie.


Nessie yang melihat hal tersebut pun segera memalingkan wajahnya, lantaran takut jika Sherina akan menampar dirinya. Tapi, setelah beberapa saat tak kunjung ada suara tamparan yang mendarat di pipi wanita hamil itu. Melainkan sebuah jari yang kini tengah menyusuri rambutnya yang tergerai indah.


"Bagaimana perasaan Anda setelah berhasil menggoda atasan Anda ini? Ada rasa puas, atau malah rasa kurang lantaran Anda belum bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuan Anda?" tanya Sherina dengan senyum licik yang dirinya tahan.


Tatapan Sherina terlempar pada sang suami yang kini tengah menatapnya dangan tatapan tajam. Sherina tahu bahwa mungkin saja sang suami sedikit tak terima ketika dirinya merendahkan kekasih gelapnya.


"Kenapa kau menatap ku dengan tatapan tajam seperti itu? Apakah kau tak tahu jika aku sangat ketakutan, sekarang? Atau jangan-jangan kau marah, karena aku menyentuh WANITA MU?" ujar Sherina dengan menekankan kata yang mungkin saja tidak tepat jika dia suguhkan untuk Nessie.


Ivander yang mendengar ucapan dari Sherina itu semakin menatap sang istri denga ntatapan tajamnya. Tatapan yang tertuju pada tangan Sherina yang kini tengah mentyusuri kepala milik kekasihnya itu, berhasil membuat Sherina tersadar.


"Jauhkan tangan mu dari kepala Nessie! Tangan kotor mu itu tak sedikit pun boleh menjamah bagian tubuh calon istriku, walau hanya seinchi pun!" bentak Ivander yang kali ini mampu membuat kedua wanita yang ada di hadapannya itu terkejut bukan main.


Calon istri? Bagaimana bisa Ivander langsung mengeluarkan pernyataan yang bahkan sama seklai tak pernah terpikirkan oleh Sherina. Taangan miliknya yang ada di atas kepala milik Nessie itu seketika terdiam kaku dengan tatapan yang etrtuju pada Ivander.


"Hei, mengapa kau membentakku? Aku benar-benar sungguh takut sekarang. Baiklah, aku akan menurunkan tangan kotorku ini dari puncak kepala CALON ISTRI MU." Dengan nada yang dirinya buat seolah-olah dirinya takut, Sherina berlagak tak terjadi sesuatu pada hatinya.


Padahal dalam relung hatinya, Sherina merasakan gencangan hebat yang dirinya yakin bahwa hal ini lah yang akan mengubah perasaannya.

__ADS_1


Tangan milik Sherina yang mulai dingin itu, dikepal olehnya dengan sangat erat sembari mengeratkan rahangnya. Wanita itu menatap kedua orang yang behasil mengkhianati dirinya dari belakang, dengan ttapan ang dapat dipastikan merupakan ttaapan penuh dendam.


"Kalian yang memulai permainan menjijikan ini terlebih dahulu. Dan kalian hendak menjadikan aku sebagai peran protagonisnya? Yang kalian harus tahu adalah, Nyonya Sherina tidak sebodoh itu Tuan dan Nona. Lihatlah bagaimana caraku membuat kalian hancur di permainanku!" tegas Sherina dengan tatapan yang dia tujukan untuk suammnya dan juga untuk wanita tak tahu diri itu.


"Kau mengatakan jika dia calon istri mu bukan? Segera buktikan padaku jika ucapan mu dapat menjadi sebuah kenyataan, Tuan Ivander! Tunggulah saat yang tepat, di mana kau akan tersadar jika wanita berhati busuk ini hanyalah mengincar hartamu!" imbuh Sherina yang dadana sudah dipenuhi oleh rasa sesak karena menahan semuanya.


"Jaga ucapanmu! Sudah jelas bukan, jika suamimu lebih memilih aku?! Dasar wanita gila harta!"


"Jaga ucapanmu! Sudah jelas bukan, jika suamimu lebih memilih aku?! Dasar wanita gila harta!" ucap Nessie dengan menggebu-gebu. Wanita itu bahkan maju selangkah dan menatap Sherina dengan tatapan tajam, seolah-olah sherina ini merupakan pengganggu di hubungan mereka.


Sherina yang mendengar ucapan bernada tinggi dari Nessie itu, tertawa sumbang dengan tatapan yang tertuju pada wanita yang berani membentak dirinya.


Wanita itu bahkan sampai meneteskan air matanya, lantaran merasa sangat geli dengan apa yang Nessie katakan pada dirinya. Bagaimana wanita murahan yang hanya mengincar harta suaminya itu, mengatakan jika dirinya merupakan wanita yang gila akan harta.


Ya, Sherina akui jika dirinya merupakan penggila harta. Tapi dapat dipastikan bahwa harta yang dirinya dapatkan merupakan hasil jerih payahnya sendiri. Wanita karier mana yang tak menginginkan banyak harta untuk aset masa depannya? Setidaknya dirinya memiliki sedikit tabungan jika terjadi sesuatu pada hidupnya.


"Dari mana kau bisa mengatakan jika aku penggila harta, Nona Nessie? Apakah kekasih mu ini menjelaskan semuanya sampai ke akar-akarnya, pada mu? Atau mungkin kau lah yang mencari tahu sendiri tentang permasalahan harta ini?" tanya Sherina yang semakin muak dengan drama yang dibuat oleh dua insan itu.


"Hentikan omong kosong mu! Jangan membuang waktu kekasihku hanya untuk menjelaskan hal konyol yang sama sekali tidak berarti untuk kemajuan hubungan kami berdua! Lebih baik sekarang kau pergi!" ujar Ivander yang seketika membuat Sherina melirikkan matanya pada laki-laki yang tengah menatapnya dengan tatapan bencinya.


"Hei, aku sedang berbicara dengan kekasihmu. Akan lebih baik jika kau tak ikut campur dengan pembicaraan kami. Apakah kau mau dicap sebagai orang yang sangat menngganggu dan berisik?" ujar Sherina sembari menunujukkan telunjuknya, lalu membawanya ke depan bibirnya.

__ADS_1


Ivander yang melihat tingkah Sherina semakin menjadi itu, memutuskan untuk mengusir Nessie dari ruangannya. Dirinya tak mungkin membiarkan mental kekasihnya dihajar habis-habisan oleh wanita gila seperti Sherina.


"Nessie, pergilah! Keluar dari ruangan ini!" titah Ivander dengan tiba-tiba yang membuat Nessie terkejut. Bagaimana bisa laki-laki itu justru malah mengusir dirinya.


"Apa yang kau katakan, Sayang? Aku datang kemari untuk merawatmu," lirih Nessie sembari menyentuh bahu milik kekasihnya. Wnaita itu masih tak terima jika dirinya diusir dari ruang rawat inap milik Ivander, dengan kesan yang kurang manis.


"Kemana sifat malu-malu mu yang tadi? Apakah lenyap dengan begitu saja? Telingaku masih cukup sehat jika hanya untuk mendengar panggilan manismu pada suamiku. Dasar wanita menjijikan!" ujar Sherina yang membuat Nessie kembali menghadapkan tubuhnya pada Sherina.


"Kenapa mulutmu selalu saja bicara? Apakah kau tidak bisa diam walau hanya sejenak?!" bentak Nessie yang baru Ivander lihat untuk pertama kali.


Selama Nessie bekerja dengannya, dirinya tak pernah melihat Nessie marah. Mungkin hanya beberapa kali wanita itu akan marah kecil jika dirinya tak meluangkan waktu untuk bersama.


"Ssst, kau yang harusnya lebih dulu diam! Kau tidak tuli bukan? Suamiku sudah mengusirmu dari ruangan ini, jadi segeralah enyah dari hadapanku. Rasanya aku ingin muntah jika terlalu lama melihatmu!" bentak Sherina sembari menarik tangan milik Nessie dengan begitu kuat.


Nessie yang tiba-tiba ditarik itu merasa terkejut dan tubuhnya sedikit limbung. Begitu juga dengan Ivander yang terkejut dengan perubahan Sherina. Mengapa Sherina begitu berubah, bahkan dirinya saja hampir tak mengenali sifat Sherina setelah seharian ini.


Dengan sedikit kasar Sherina mendorong Nessie hingga keluar dari ambang pintu. Nyatanya dorongan yang Sherina berikan pada Nessie berhasil membuat ibu hamil itu terjatuh. Ivander yang melihat aksi brutal dari Sherina itu membentak Sherina dengan nada tinggi yang baru kali ini Sherina dengar.


"Sherina! Apakah kau tak memiliki otak!" bentak laki-laki itu yang mempu membuat Sherina mengepalkan tangannya, dan menolehkan kepalanya ke belakang, dengan posisi tubuh yang masih menghadap ke arah Nessie.


"Kenapa? Kau tak suka dengan cara mainku?! Jatuhkan talak padaku, dan semuanya akan berakhir! Kau akan hidup miskin dan menderita setelahnya!"

__ADS_1


__ADS_2