Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 76


__ADS_3

Benar saja, malam bahkan belum menjelang, tetapi semua barang pesanan Sherina sudah tiba. Wanita itu dengan sangat semangat menatap satu persatu furniture yang akan memenuhi rumahnya. 


"Kau yakin itu semua tidak kurang?" Marvin mendekat dan berdiri di belakang Sherina. 


Pria itu memeluk tubuh berisi Sherina dari belakang, lalu meletakkan dagunya di bahu Sherina. "Kau terlalu berlebihan, Vin. Ini semua sudah cukup."


Sherina mengelus tangan kekar milik Marvin yang saat ini mengelus perutnya. Dia benar-benar merasa jika Marvin sangat menghargainya. "Bagiku semua ini masih kurang. Aku ingin kau selalu mengingat rumah ini. Aku takut kau melupakannya,"


Sherina mengernyit. Entah apa yang dikatakan oleh Marvin sampai-sampai dia mengatakan hal tersebut. "Kau kenapa, hm?" tanya Sherina lembut pada pria dibelakangnya. 


"Aku takut, Sher. Aku takut kau melupakanku dan semua yang sudah kita lalui." Marvin seketika merasakan sesak di dadanya.


"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku ya, Sher? Kali ini aku memohon padamu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi." Marvin memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sherina.


Entah mengapa Sherina pun merasakan sengatan aneh di hatinya. Dia juga merasakan ketakutan yang sama, seperti yang Marvin rasakan kali ini. "Aku berjanji akan tetap ada di sisimu. Kita memiliki keluarga kecil, sekarang. Di mana hanya ada aku, kau, dan putri kecil kita. Ingatkan aku jika aku lupa dengan janjiku ini." 


Marvin semakin mengeratkan pelukannya. Dalam diamnya pria itu menangis. Dia tidak tahu apa yang sedang mengganggu hati dan pikirannya. Sherina menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya untuk mengelus lengan Marvin. 


"Kau khawatir akan terjadi sesuatu padaku dan bayi kita?" Tebak Sherina yang langsung diangguki oleh Marvin. 


"Kau terlalu lelah, Vin. Ingin istirahat sekarang?" tawar Sherina sambil menolehkan kepalanya ke belakang. 


Marvin melepas pelukannya, dan tanpa mengucap sepatah kata apapun, dia menarik tangan Sherina. Marvin memberi isyarat pada asisten pribadinya untuk menyelesaikan sisanya. 


Pria itu membawa Sherina menuju kamar mereka, dan mengatakan jika dirinya ingin tidur di pelukan Sherina. "Aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu. Ini terlalu ketat." 


Sherina berjalan menuju kamar mandi dengan baju ganti yang sudah dirinya siapkan. Marvin menunggu Sherina berganti pakaian sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria yang masih merasa gelisah entah karena apa itu, menatap langit-langit kamarnya dengan wajah sayu. 


"Tuhan, tolong jaga Sherina untukku. Kau lebih tahu jika aku sangat-sangat mencintainya." Marvin menutup sebagian wajahnya dengan lengan kekarnya. 


Pria itu mulai memejamkan matanya, sambil menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan tenang. Sampai tiba-tiba dirinya merasa jika Sherina mulai naik ke atas ranjang dan memeluknya dengan begitu hangat. 


"Aku sangat menyayangimu, Vin." Sherina memeluk pria itu yang membuat Marvin langsung menyusup ke pelukan ibu hamil tersebut.


Pria itu kembali menangis tanpa suara. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Sherina. Perlahan Sherina mengetahui jika calon ayah itu menangis di pelukannya. "Kau menangis?"


Marvin menggeleng, seolah ingin berbohong dengan calon istrinya, dia semakin menenggelamkan dirinya. Sherina kembali teringat dengan kerasnya perjuangan Marvin untuk mendapatkannya. 


"Kau berhasil, Sayang. Kau berhasil mencapai garis finishmu. Aku bangga padamu," ucap Sherina dengan suara yang bergetar. 


"Aku sangat mencintaimu, Vin." Sherina akhirnya turut menangis saat merasakan apa yang Marvin rasakan saat ini.


Dengan cepat Marvin segera mengambil alih semuanya. Pria itu berganti memeluk Sherina dan berulang kali mencium kening Sherina. "Kita berhasil, Sher. Terimakasih sudah membalas perasaanku."

__ADS_1


Sherina semakin mengencangkan eratannya di baju milik Marvin. Tidak ada hal yang lain yang dapat menggambarkan betapa bahagianya keduanya selain tangisan itu.


"Tugas kita sekarang adalah menjaga agar bagaimana caranya kita tetap bisa selalu bersama. Aku akan menjagamu dan putri kita, Sher." Marvin kembali mengecup kening Sherina sebelum akhirnya mereka tertidur. 


Malam ini adalah malam pernikahan untuknya dan Sherina. Pria itu sangat bahgaia ketika mengetahui antusiasme sang istri ketika melihat semua persiapan yang sudah dirinya lakukan. Dia bersumpah tidak akan meninggalkan Sherina apapun yang terjadi.


Pagi harinya, Sherina yang sudah bangun terlebih dahulu, mulai membuka matanya. Wajah cantiknya menatap fitur wajah tampan milik calon suaminya. 


"Sayang, bangunlah." Sherina mengelus rang kokoh milik Marvin, sambil mengurai pelukannya. 


Dengan sigap Marvin segera menarik Sherina agar kembali dalam pelukannya. Pria itu mendekap calon istrinya dengan mata yang masih tertutup.


"Berikan aku ciuman terlebih dahulu." Sherina menautkan alisnya sambil menatap heran pada Marvin. 


Karena tidak ingin ada drama yang akan mengulur waktunya, Sherina segera mencium bibir Marvin dengan singkat, yang seketika membuat kedua mata Marvin terbuka. "Terimakasih."


Sherina hanya mengangguk lalu segera turun dari ranjang. Wanita sedikit menahan napasnya saat merasa kram di perutnya. Tapi mengingat jika sebentar lagi tukang rias yang sudah Marvin pesan akan datang, mau tidak mau dia harus segera bersiap. 


Marvin yang masih terduduk di atas kasur, menatap Sherina yang sudah berjalan kesana kemari. Senyum pria itu  terangkat ketika ingin jika hari ini adalah hari pernikahannya dengan Sherina. 


"Sayang," panggil Marvin dengan suara seraknya yang sama sekali tidak disahuti oleh Sherina. 


"Sayang!" kesal karena tak kunjung disahuti oleh Sherina, pria itu memanggil Sherina dengan nada tingginya. 


"Astaga! Kenapa kau berteriak, hm? Aku ada di sini," Sherina berjalan mendekati Marvin dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. 


Sherina memejamkan matanya sejenak, lalu memeluk Marvin agar dia tidak membuat drama di pagi hari. "bagaimana bisa kau akan segera memiliki bayi, sementara sikapmu ini masih seperti bayi."


Marvin tidak menjawab, dia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Sherina. Perlahan pria itu mengangkat tangan besarnya, dan mengelus perut Sherina.


"Bersiaplah, jangan lupakan jika kau membuat acara dengan ratusan tamu undangan." Sherina mengelus lengan Marvin dengan sangat sayang. 


Wanita itu juga menyentuh kepala Marvin dan merapikan rambutnya. "Ayo, Sayangku. Jangan buat aku keteteran,"


Marvin menarik napasnya dalam-dalam lalu mengangkat kepalanya. Dia tersenyum lalu melepas pelukan Sherina. "Sampai bertemu nanti, aku akan menunggumu."


Sherina tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya. Memang, Marvin akan bersiap di tempat yang berbeda dengan Sherina. 


Katedral yang ada di kompleks Villanya itu, akan menjadi tempat berlangsungnya acara perikahan keduanya. Keduanya bersiap untuk keluar kamar, sesaat setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya. 


"Aku pergi dahulu. Aku mencintaimu," pamit Marvin lalu mengecup kening Sherina lagi. 


Sherina menatap kepergian Marvin lalu menghembuskan napasnya sambil memejamkan matanya. 

__ADS_1


Kedua mata wanita itu seketika terbuka ketika mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya. "Sherina!"


Dengan cepat Sherina membuka kedua matanya dan terkejut saat melihat Anne yang berjalan menuju padanya dengan Kanwa didekapannya. Melihat wajah haru milik Anne, Sherina segera memeluk wnaita tersebut ketika dia sudah berada di depannya. 


"Selamat atas pernikahanmu, Sher. Aku turut bahagia," Anne menangis tipis dipelukan Sherina. 


Dia adalah satu-satunya orang yang menjadi saksi bagaimana sussahnya hidup Sherina selama berpisah dengan Marvin. Dia juga yang menemani masa-masa sulit Sherina selama hamil muda. 


"Terimakasih banyak, Ann. Ini semua berkat bantuanmu." Keduanya bercakap ringan sebelum Sherina mengajak wanita itu untuk menemaninya dirias. 


"Di mana Ivander? Apakah kalian datang hanya berdua saja?" Sherina memangku Kanwa dan menatap Anne.


"Ivander pergi lebih dulu dengan Marvin. Daripada aku harus datang ke sana lebih dulu, mengikuti mereka, lebih baik aku di sini. Menunggumu di rias hingga selesai." Sherina mengerutkan alisnya bingung, tetapi karena tak ingin tahu lebih banyak, wanita itu hanya bermain dengan Kanwa. 


Hampir satu jam Anne menatap Sherina dengan tatapan harunya. Dia segera menghapus air matanya ketika melihat Sherina yang sudah siap untuk pergi ke Katedral. " Anne jangan seperti itu, kau bisa membuatku menangis."


Anne tertawa lalu mendekat pada Sherina. Dia memeluk Sherina dengan begitu haru. "Cepat menyusul, oke? Aku akan sangat bahagia jika kau nanti akan menikah kembali."


Anne menepuk punggung Sherina dengan perlahan. Dia rasa hal itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Masa lalunya yang cukup kelam membuatnya enggan menikah kembali.


"Kita berangkat sekarang?" Sherina hanya menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk berangkat. 


****


Tepat di depan pintu auditorium, Sherina menggenggam tangan Anne dengan tangan yang dingin. Dia benar-benar merasa gugup dan ketakutan karena di dalam sana, acara sudah dimulai. 


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku yakin, tidak hanya Marvin yang akan terkejut saat melihatmu. Tapi semua orang. Kau benar-benar sangat cantik, Sher."


Sherina hanya tersenyum tipis disela kegugupannya. 


Beberapa saat setelahnya, Sherina mulai menarik napasnya dalam-dalam sambil melepaskan genggaman tangannya di tangan Anne. Tidak lama setelah itu, pintu auditorium terbuka. 


Seluruh orang yang berada di dalam auditorium itu, berdiri dan menatap Sherina dengan pandangan terkejutnya. Tak terkecuali dengan Marvin yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. 


"Tuhan, terimakasih." Marvin memejamkan matanya sejenak dan mengucapkan banyak terimakasih karena akhirnya dirinya berhasil memiliki Sherina. 


Langkah demi langkah Sherina lalui dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. Dia menatap lurus ke depan, di mana calon suaminya sudah menunggunya. 


Senyum tipis wanita itu seketika muncul ketika melihat Marvin yang saat ini menitikkan air matanya. Dia bahkan menundukkan kepalanya, dan menghapus air matanya dengan jari-jarinya. 


Tidak ada yang ditatapan oleh Sherina selain Marvin-nya. Termasuk Ivander sekalipun. Pria itu menatap penuh deja vu pada wanita cantik yang saat ini berjalan mendatangi Marvin di depan altar. 


Tepat saat Sherina melaluinya, pandangannya kini tertuju pada Anne yang masih berdiri di depan pintu aula, dengan putra kecilnya. 

__ADS_1


Andai dulu dia mendengarkan ucapan kedua orang tuanya, pasti saat ini Sherina lah yang berada di posisi Anne. Menggendong anak mereka, dan menghadiri setiap undangan bersama-sama. 


"Berbahagialah, Sher. Aku minta maaf. Aku menyesal."


__ADS_2