Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 57


__ADS_3

Marvin terdiam mendengar penuturan Sherina yang memintanya untuk pergi. Dia menghela napasnya dan menatap ibu dari anaknya, yang tengah berusaha untuk berdiri.


Sherina mengatur napasnya dengan tangan yang mengelus perutnya, setelah dirinya berhasil berdiri. Wanita itu menundukkan kepalanya dan menatap Marvin.


"Keluarlah, aku ingin istirahat." Sherina memutus tatapan keduanya, dan bergegas mendekat ke ujung kasur.


Wanita itu langsung berbaring membelakangi pintu. Sementara Marvin, pria itu mulai bangkit dan menatap Sherina dengan tatapan lemahnya.


Marvin menghela napasnya dengan begitu berat, sebelum akhirnya menyusul Sherina. Pria itu berlutut tepat di sebelah ranjang Sherina, dan mengelus perut milik wanita itu.


"Sayang, bantu ayah untuk membujuk ibumu, ya? Ibu sedang marah saat ini. Jadi, ayah minta tolong ya, sayang?" Pria itu mengelus perut Sherina dengan sangat sayang, lalu mendaratkan kecupannya di perut Sherina.


Sherina tidak bergeming. Wanita yang sudah memejamkan matanya, dan siap untuk tertidur itu membiarkan Marvin bercakap-cakap dengan bayinya.

__ADS_1


"Apakah ibu selalu seperti ini, hm? Apakah itu selalu marah-marah padamu?" Marvin mendekat memeluk perut Sherina.


Dia benar-benar merindukan wanita ini. Dia melakukan banyak hal agar dia dapat bersama dengan Sherina. Setelah puas memeluk perut Sherina, pria itu bangkit.


Dia mengecup kening Sherina dengan begitu dalam sambil mengelus kepalanya. Sesaat sebelum menarik tubuhnya, dia juga mendaratkan kecupannya dia bibir wanita tersebut.


"Istirahatlah." Marvin menarik tubuhnya dan menyelimuti tubuh Sherina, sebelum keluar dari kamar wanita tersebut.


Marvin menutup pintunya dan memastikan jika Sherina sudah benar-benar tertidur. "Apakah dia tidur?"


"Kau benar. Andai saja aku langsung datang menemuinya malam itu, mungkin dia tidak akan sebenci ini padaku." Marvin menyandarkan tubuhnya di kursi makan, sambil pikirannya terlempar ke malam di mana dia datang menemui Anne.


"Tenang saja. Wajar saja jika Sherina marah, untuk saat ini. Tapi tunggu saja beberapa saat. Pasti dia akan kembali luluh denganmu. Mau diapakan pun, kau ini adalah ayah dari bayi Sherina. Tenang saja."

__ADS_1


Anne tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria di seberangnya itu. Dia menyodorkan teh hangat buatannya kepada Marvin yang langsung disambut oleh ucapan terimakasih dari pria itu.


"Bagaimana jika marahnya berkepanjangan? Aku tak ingin hal itu terjadi." Marvin memikirkan bagaimana jika Sherina tak memaafkannya.


"Itu sudah menjadi risikomu. Tugasmua sekarang adalah berjuang untuk mendapatkan maaf dari Sherina. Kau yang berbuat, maka kau juga yang harus bertanggung jawab."


****


Marvin kembali masuk ke dalam kamar Sherina untuk menyusul wanita itu. Dia berjalan menuju ranjang, setelah mengunci pintunya lagi.


Dengan begitu perlahan, pria itu naik ke atas ranjang dan tidur tepat di belakang tubuh Sherina. Tangan kekarnya langsung memeluk tubuh berisi milik Sherina dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Anne benar, akulah yang bertanggung jawab untuk semua ini. Aku berjanji akan membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku, dan melupakan pria itu." Tekad pria itu dengan sangat kuat, lalu mulai memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Sherina.

__ADS_1


Saat Marvin yang sudah mulai lelap dalam tidurnya, berbeda halnya dengan Sherina yang baru saja terbangun. Wanita yang menjadikan kedua telapak tangannya sebagai bantal itu diam-diam meneteskan air matanya.


Kenapa semua berbeda? Kenapa tak lagi ada debaran jantung saat dia menatap Marvin, seperti sebelum-sebelumnya?


__ADS_2