Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 108


__ADS_3

"Vin, anak-anak tidur di bawah. Aku mau pindah ke atas, takut nggak bisa tidur lagi nanti." Sherina memelankan suaranya ketika melihat jika suaminya masih melakukan meeting online dengan rekan bisnisnya.


Wanita itu menutup pintu kamarnya dengan perlahan, dan berjalan di depan suaminya yang masih menyimak pembicaraan sembari meliriknya sesekali.


Langkah Sherina seketika terhenti ketika melihat isyarat tangan dari suaminya. Dia menaikkan kedua alisnya, dan menatap Marvin dengan penuh tanya.


Marvin tidak menjawab, dia hanya menunjuk bajunya dan mengarahkan telunjuknya kepada sang istri. Sherina yang sedikit paham, hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan ganti baju terlebih dahulu." jawab Sherina yang disambut dengan senyum tipis suaminya.


Marvin membiarkan Sherina mengganti pakaiannya dan menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum selesai bahkan hingga selarut ini. Entah sudah berapa lama dirinya berada di kamar, melewatkan makan malamnya bersama dengan keluarga kecilnya.


Tidak lama setelahnya, Sherina yang sudah selesai membersihkan tubuhnya itu, berjalan mendekati ranjang, berdiri di tepi dan menunggu Marvin selesai dengan pekerjaannya.


Marvin yang sudah melihat wajah lelah sang istri itu, mengangkat laptopnya ke meja kecil yang dirinya bawa ke atas kasur, dan menepuk pahanya. "Kemari saja. Aku hampir selesai."


Sherina menatap layar laptop milik suaminya, dan setelah memastikan jika suaminya sudah mengamankan keadaan. Setelah tahu jika Marvin sudah menonaktifkan kamera serta mikrofonnya, Sherina bergegas naik ke atas ranjang.


"Masih lama?" tanya Sherina sembari naik dengan kedua lututnya yang dirinya gunakan sebagai tumpuan.


"Sebentar lagi." jawab Marvin dengan suara serak lalu menunjuk bibirnya saat melihat Sherina hendak merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


Sherina melipat bibirnya sejenak, lalu mengecup bibir suaminya sekilas. "Semangat cari uangnya, Sayang."


Sherina langsung merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha milik suaminya sebagai bantal.


Marvin tersenyum nakal dan mengelus kepala istrinya. Dia kembali ke pekerjaannya, dengan tangan yang masih saja mengelus surai panjang milik istrinya.


Sherina masih menyimak pembicaraan Marvin dengan salah satu komisaris utama suatu perusahaan yang kini tengah bekerja sama dengan perusahaan milik suaminya. Tapi tidak berapa lama, tiba-tiba saja Sherina mulai terpejam.


Marvin yang melihat hal itu, tersenyum tipis dan mengusap bibir sang istri yang sejak saat dirinya mengambil ciuman pertama milik Sherina di cafe waktu itu, sudah menjadi candu untuknya.


Marvin tahu jika itu merupakan kelemahannya, maka dari itu dia memutuskan untuk menyudahi meeting dadakannya ini.


"Mohon maaf sekali, Pak. Saya rasa ini sudah masuk waktunya untuk kita beristirahat. Mari kita diskusikan ini ketika di kantor, besok." Marvin mencoba berkata dengan begitu ramahnya, yang membuat rekannya itu tersadar.


Setelah mematikan laptopnya dan meletakkannya di atas nakas, Marvin beralih menatap sang istri yang sudah terlelap dengan begitu nyenyaknya. Tangan kekarnya mengangkat leher Sherina, dan sebelahnya yang lain dirinya gunakan untuk membopong tubuh sang istri.


Marvin merebahkan Sherina, dan menatap wanitanya itu dengan lekat-lekat. Senyum hangat pria itu muncul, dan dengan cepat dirinya mengecup bibir pink milik Sherina.


Dia masih belum menyangka jika wanita yang setiap hari mengurusnya, yang setiap hari dirinya tatap ketika pertama kali membuka mata, tidak lain adalah wanita yang selama ini dirinya mimpikan. Meskipun Marvin akui, caranya mendapatkan Sherina bisa dibilang cukup menjijikan, tapi semua usahanya tidak sia-sia.


"Aku beruntung karena merebut mu dari Ivander, Rin. Aku mencintaimu." Marvin menarik tubuhnya dan menatap sang istri yang menggerakkan tubuhnya karena merasa terusik dengan kecupan sang suami.

__ADS_1


"Sst ... tidurlah," bisik Marvin sembari mengelus pipi istrinya.


Pria itu beranjak dan pergi untuk mengganti bajunya. Tidak lama setelahnya, Marvin kembali dengan bertelanjang dada, dan mematikan lampu kamarnya.


Dia berjalan menuju ranjang, dan masuk ke selimut yang sama dengan selimut yang dirinya gunakan untuk menutupi tubuh Sherina. Pria itu memeluk tubuh Sherina yang mulai berisi, dan mengecup keningnya.


"Aku tidak mungkin membangunkan mu, malam ini. Jadi, tahan saja Vin." Gumam Marvin lalu segera menghempaskan keinginannya sejak sore tadi.


Pria itu mulai memejamkan matanya, dan menyusul sang istri ke alam mimpi.


****


Keesokan harinya, Sherina yang sudah sejak tadi merasa ketakutan itu, seketika terkejut ketika tiba-tiba Marvin sudah berdiri di sebelahnya.


"Kenapa, hm?" tanya Marvin dengan mata yang masih terasa lengket karena mengantuk.


Sherina menggigit bibir bagian bawahnya, sembari menggerakkan tangannya yang tengah menggenggam sesuatu.


Marvin yang kebingungan itu, segera memindai tubuh sang istri. Kegugupan wanita itu membuat Marvin langsung kehilangan rasa kantuknya.


Tatapan Marvin seketika berhenti di tangan Sherina yang di sembunyikan darinya. "Itu apa sayang? Kemarikan."

__ADS_1


Walaupun pada awalnya Sherina menolak untuk memberikan benda itu, tapi Marvin berhasil mengambilnya. Tatapan pria itu seketika membeku saat melihat benda itu.


"Aku baru sadar jika aku belum haid, dan terlambat dua minggu. Vin, aku hamil. Aku harus bagaimana?"


__ADS_2