
"Pa, boleh aku tahu tentang Sherina?" tanya pria itu pada sang Papa, yang membuat seseorang yang ada di seberang sana seketika terdiam untuk beberapa saat.
Orang tersebut, yang tidak lain merupakan pak Henry, seketika tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena selama 31 tahun putra tunggalnya melajang, baru kali ini sang putra menanyakan tentang seorang wanita pada dirinya.
"Pa? Papa mendengar Kevin, bukan?" tanya Kevin mencoba mengetes, apakah sang papa mendengar pertanyaannya atau tidak.
"Oh, tentu saja Papa mendengar pertanyaan mu." Jawab pak Henry, yang membuat Kevin menahan nafasnya untuk beberapa saat.
"Papa diam karena Papa sedikit terkejut. Akhirnya putra papa menunjukkan sedikit ketertarikannya pada seorang wanita. Jujur saja ayah sangat bahagia, Nak." ucap pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu dengan suara harunya.
"Tidak. Kevin tidak tertarik pada Sherina atau sejenisnya. Kevin hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang siapa Sherina." jawab Kevin mencoba berkilah pada sang papa, yang membuat pria itu tergelak sedikit lucu.
"Vin, kau tidak bisa membohongi papa. Meskipun sebenarnya Papa sangat senang karena kau menyukai seorang wanita. Tapi kali ini, Papa minta maaf karena kau salah sasaran." ucap pak Henry, yang membuat Kevin mengernyitkan dahinya.
"Kau percaya atau tidak. Dia sudah menikah, empat tahun yang lalu. Kau tahu Marvin? Salah satu pemilik perusahaan yang cukup terkenal juga di sana? Ya, dia adalah suami Sherina." ucap papanya yang membuat Kevin seketika terdiam.
"Oh, dia sudah menikah? Hmm... tidak ada yang menyayangkannya juga. Jadi kenapa papa terlihat tengah memelaskan putra papa ini?" Kevin berkata dengan sedikit tidak terima.
"Ya ya ya, tapi bagaimana pun aku ini papamu. Kau mungkin bisa berbohong dengan semua orang, tapi tidak denganku." Pria tua itu tertawa di seberang sana dengan begitu puas.
Lantaran kesal dengan sang papa, dia dengan cepat langsung memutus panggilannya. Dia meletakkan ponselnya dengan begitu saja di atas meja, dan kembali memijit pelipisnya.
"Apa yang kau pikirkan, Vin! Lupakan!" Kevin menggeleng dan segera membuka laptopnya.
Dia memulai pekerjaannya, begitu juga dengan Sherina.
Sementara di perusahaan Marvin, lebih tepatnya di ruangan yang mana hanya terdapat dirinya dan Alissa. Kini wanita itu tengah berjalan dan langsung berdiri tepat di sebelah Marvin.
"Apa kau membutuhkan kopi? Kau harus minum kopi sebelum mulai bekerja, bukan?" Seolah paling tahu dengan kebiasaan Marvin, wanita itu mencoba menawarkan bantuannya untuk membuatkan kopi.
"Menyingkirlah. Aku sedang bekerja!" Marvin yang tidak ingin diganggu oleh Alissa itu, menggeser kursinya sedikit menjauh dari wanita berpakaian ketat itu.
"Marvin! Aku bingung dengan sikapmu! Kenapa kau berubah!?" Marvin sedikit terkejut ketika pertama kali mendengar bentakan yang Alissa keluarkan dari bibirnya.
"Oh, atau mungkin kau sudah tidak lagi membutuhkanku? Apa itu karena istrimu sudah bangun dari komanya?" Wanita itu bertanya dengan nada sinis, dan menjijikan.
"Aku benar-benar tertipu dengan semua ucapan manismu, selama ini! Ternyata kau sama saja!" Seolah paling tersakiti, wanita itu mulai berakting, di hadapan Marvin.
Marvin yang lagi-lagi disuguhi dengan drama menyebalkan wanita itu, terkekeh perlahan dan membalikan kursinya ke belakang. Dia tersenyum miring, lalu menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang bersikap manis padamu? Oh, apa kau menganggap semua itu sebagai salah satu bentuk tanda aku ingin memberimu harapan lebih? Ck, jangan berharap lebih akan hal itu!" Marvin tertawa licik untuk beberapa saat, yang membuat Alissa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Lihat wajahmu! Mau bahkan tidak lebih baik daripada istriku! Pergi dan mengacalah!" Marvin berdecih perlahan, lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Pria itu berjalan keluar dari ruangannya dan menutup pintu dengan begitu keras. Beda halnya dengan Alissa yang sudah meneteskan air mata bencinya, dengan tangan yang mulai mengepal.
"Kau yang sudah merebut Marvin dariku! Dan bahkan jika aku harus pergi ke neraka untuk mendapatkannya, maka aku akan melakukannya!" Tekad Alissa dengan amarahnya.
****
"Ma? Kanwa sudah pulang?" Seorang anak laki-laki dengan mata biru terangnya, bertanya pada sang mama yang tengah membawa tumpukan pakaian ke kamar atas.
"Loh, memang sudah pulang? Mama belum denger adik kamu pulang," Anne menghentikan langkahnya, dan menatap putra tampannya.
"Kelasnya kosong, Ma. Kanwa tidak ada di kelas." Anne mencoba memahami ucapan putranya yang bahkan masih belum fasih menggunakan bahasa Indonesia, meskipun sudah 4 tahun berada di sini.
"Pulang sama adiknya mungkin. Kan biasanya bareng Kala." Anne mencoba menatap pintu yang terbuka, dan langsung melemaskan bahunya ketika melihat dua anaknya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Nah itu dia adikmu. Coba Louis tanya kenapa pulang dahulu. Mama masukin bajunya sebentar." Anne segera menuju ke kamar dan cepat-cepat kembali ke bawah, karena samar-samar melihat jika gadis kecilnya tengah menangis.
"Niskala kenapa menangis? Kanwa?" Kakak laki-lakinya itu dengan sorot matanya langsung menatap sang adik.
"Bukan Kanwa, Kak." Dengan lucunya, bocah itu menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tangannya seolah tidak ingin dituduh yang tidak-tidak dengan sang kakak.
"Are you okay, Kala? Ada apa?" Bocah berusia 6 tahun hendak ke 7 tahun itu, menepuk perlahan puncak kepala adiknya.
Niskala tidak menjawab. Dia hanya menaikan rok sekolahnya, dan menampilkan lututnya yang mengeluarkan darah karena terjatuh.
"Kakak... Itu adiknya jatuh tapi santai-santai aja?" Anne berjalan mendekat dengan cepat, dan menepuk punggung Kanwa dengan begitu lembut.
"Baiklah, kemari. Ibu akan mengobatinya." Anne langsung menggendong bocah dengan rambut yang dikepang rapi itu, dan membawanya ke kamar.
Kanwa dan Louis mengikuti langkah cepat Anne ke kamar, dan menunggu adik mereka yang masih menangis.
"Diam ya, Kala. Jangan menangis. Mama akan mengobatinya, jadi diam..." Louis membawa telunjuknya ke bibir, dan bersikap lucu seolah tengah mendiamkan adiknya.
"Tidak apa-apa, Kal. Kau akan memiliki tato yang keren di lututmu. Tunjukan saja pada tato mu itu pada anak-anak yang lain, katakan jika kau anak yang kuat." Anne yang tengah membalut luka milik Niskala itu, seketika tertawa geli.
Empat tahun dia habiskan untuk membesarkan anak-anak ini. Hanya rumah, dapur, kamar, pekerjaan rumah tangga, dan mereka yang selalu dirinya lihat. Meskipun berulang kali Ivander menawarkan dirinya untuk berlibur, tetapi bersama dengan anak-anaknya saja membuat Anne merasa nyaman.
Anne menggelengkan kepalanya dan tersenyum hangat pada anak-anaknya. Tepat setelah dirinya berhasil menutup luka basah milik putrinya, wanita itu menolehkan kepalanya ke samping ketika mendengar suara klakson mobil di depan.
"Kala di sini dulu, ya? Ibu ke depan sebentar. Ada tamu," ucap Anne lembut yang langsung mengelus puncak kepala gadis kecil itu.
Setelahnya, Anne berjalan menuju ke depan dan melihat mobil milik kedua orang tua Ivander. Dengan cepat dia langsung membukakan gerbangnya, dan langsung disambut oleh mama Ivander.
Tanpa aba-aba, wanita tua itu langsung memeluknya dengan begitu erat. Anne yang tidak paham dengan apa yang terjadi itu, kemudian mulai membalas pelukannya setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
"Mama merindukan mu, Nak." Mama Ivander itu menarik tubuhnya dari Anne dan menatapnya dengan begitu lembut.
"Anne juga, Ma." Anne mengelus lengan wanita itu, dan menolehkan kepalanya ke papa Ivander yang baru saja keluar dari mobil.
"Papa apa kabar?" Tanya Anne dengan senyumnya, yang membuat pria itu tersenyum tipis dan menatap istrinya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan oleh Anne.
"Lebih baik kita masuk dahulu. Papa dan mama pasti lelah." Anne membawa kedua orang tua Ivander masuk ke dalam rumah, dan menyuguh mereka dengan sangat baik.
"Apakah Ivander belum pulang?" Anne yang tengah menurunkan cangkir berisi teh hangat itu, menolehkan kepalanya kepada sang papa.
"Belum, Pa. Biasanya jam makan siang dia akan pulang. Mungkin lima belas menit lagi,"
Papa Ivander hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali menatap sang istri dengan wajah seriusnya. Begitu juga dengan mama Ivander, wanita itu menatap Anne dengan tatapan yang begitu dalam.
"Oh ya. Dimana cucu-cucu mama? Kenapa mereka tidak menyambut nenek kakeknya dengan keriuhan seperti biasanya?" Lantaran tidak ingin suasana berubah menjadi canggung, mama Ivander memutuskan untuk mengalihkan topik.
"Oh iya, sebentar Ma. Mereka baru saja pulang sekolah." Anne membawa nampannya dan berjalan menuju kamar anak-anak.
Kedua orang tua itu menatap Anne dengan tatapan yang sedikit tidak tega. Ada masalah penting yang harus mereka katakan pada Ivander. Tapi melihat bagaimana sempurnanya Anne, membuat mereka merasa bimbang.
"Mama tidak bisa, Pa. Dia terlalu baik." Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tak kuasanya.
"Tapi kita harus melakukannya. Aku yakin mereka bisa mengerti." Pria igu menggenggam tangan istrinya, seolah tengah menenangkan.
Tidak lama setelahnya, tiga bocah menggemaskan datang secara berhamburan pada mereka. Tapi yang dilakukan Niskala begitu menggemaskan, sehingga membuat Anne kembali tertawa.
"Tunjukan pada kakek dan nenek jika lututmu terluka. Benar yang kakakmu katakan, kau akan segera memiliki tato Sayang." Niskala tidak bereaksi, dia masih menyebikkan bibirnya dan menundukkan kepalanya.
"Eh eh, kenapa cucu nenek yang paling cantik ini? Kenapa kau bisa terjatuh, Sayang?" Wanita itu mengangkat tubuh mungil Niskala dan membawanya ke pangkuannya.
"Kala jatuh karena kejar itik." Anne dan semua yang ada di sana sontak terdiam mendengar jawaban lucu Niskala.
Mama Ivander yang kebingungan itu, menatap Anne yang tengah menahan tawanya. "Tepat di sebelah sekolah yang ada di ujung komplek, sekarang dibangun mini zoo buat anak-anak. Mungkin itiknya keluar dari sana."
Niskala yang tengah dibicarakan itu hanya mengintip neneknya melalui poni lucunya. Dia mengelus lututnya yang terluka dan lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa. Kala bilang ke bunda kalau Kala punya tato. Seperti milik ayah." Mereka kembali tergelak sebelum tiba-tiba Ivander kembali ke rumah.
"Wah ramai sekali... Sedang bicara apa ini?" Ivander melonggarkan dasinya, dan melepas jasnya.
Pria itu menatap Anne, dan memberikan jasnya kepada calon istrinya itu. Anne menerima dengan baik, dan membiarkan Ivander berbicara terlebih dahulu dengan kedua orang tuanya.
"Anne, bisa minta tolong bawa cucu-cucu papa ke atas terlebih dahulu? Papa dan mama ingin bicara dengan Ivander."
__ADS_1
Setelah cukup lama bercanda, Anne pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menggiring anak-anaknya ke lantai atas. Dia tidak berniat ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan. Tapi samar-samar wanita itu masih bisa mendengarnya walaupun mereka sudah tiba di atas.
"Tapi Ivander sudah memiliki calon istri, Pa! Ivander punya Anne! Dan sampai kapan pun itu, hanya Anne yang akan Ivander nikahi!"