Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 82


__ADS_3

Sherina yang sudah berada di ruang bersalin, berulang kali menatap ke pintu masuk ruangan tersebut.


"Sebentar lagi kita mulai ya, Bu?" Sherina mengangguk dengan wajah yang mulai sembab.


Dia masih berharap jika suaminya akan dan menemaninya bersalin. Tapi nyatanya hingga akhir pun Marvin tak kunjung datang. Sherina sudah berpasrah dan tidak lagi mengharapkan suaminya datang.


Tapi saat proses lahiran hendak dimulai, tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka dan masuklah seorang pria yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus.


"Sherina, aku akan menemanimu. Doakan juga suamimu agar dia baik-baik saja. Kalian harus sama-sama berjuang untuk saat ini." Ivander berbisik tepat di telinga Sherina.


Kesadaran Sherina kembali penuh seketika. Dia menatap Ivander dengan mata merahnya. "Ada apa dengan suamiku? Dia baik-baik saja, 'kan?"


Ivander hendak menjawab tapi dirinya tahan. Dia menggelengkan kepalanya dan meminta dokternya untuk memulai persalinan. "Kau pasti bisa, Sher. Marvin akan sangat bangga padamu."


Sherina yang hendak kembali bertanya pada Ivander itu, memutuskan untuk fokus pada proses lahirannya. Apa yang dikatakan oleh Ivander benar, dirinya harus berhasil melahirkan putri yang sudah dirinya dan Marvin tunggu-tunggu.


Sherina tak segan menggunakan tangan Ivander sebagai tumpuannya. Tak jarang dia mencengkeram tangan itu untuk menyalurkan rasa sakitnya. Sementara Ivander, pria itu sama sekali tidak menghiraukan rasa sakit itu.


Hingga tak lama setelahnya, akhirnya suara bayi perempuan menggema di seluruh ruang bersalin itu. Sherina menghela napasnya dengan lega meskipun tersengal. Dirinya berulang kali mengucapkan syukur karena berhasil melahirkan putrinya.


"Niskala," lirih wanita itu saat seorang perawat membawakan putri kecilnya ke pelukannya.


Ivander tersenyum tipis saat melihat kebahagiaan Sherina. Dia mengelus punggung kecil milik bayi berjenis kelamin perempuan itu, dengan sebelah tangannya yang mengelus puncak kepala Sherina.


"Aku yakin Marvin akan bahagia. Kau ibu yang hebat, Rin." Sherina tidak membalas tatapan Ivander.


Wanita itu fokus menatap wajah putrinya, dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya, sang suami tidak menunggunya hingga putri mereka lahir.


"Maafkan ibu ya, Sayang?" ucap Sherina dengan air mata yang kembali turun membasahi pipinya.


Dia mengecup puncak kepala putrinya dengan hati yang terasa begitu sesak. Kenapa Marvin tidak datang? Sepenting apakah urusan pria itu hingga dirinya tidak langsung pulang ketika mengetahui jika dirinya akan melahirkan?


Dokter mengatakan jika bayi Sherina hendak dibersihkan dan akan diberikan kembali setelah Sherina pun kembali ke ruang rawat.


Ivander segera keluar dari ruang bersalin, dan menghampiri Anne yang masih setia duduk di depan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Semua selamat? Sherina dan putrinya sehat, kan?" tanya Anne dengan begitu khawatir.


Ivander mengangguk dan menyandarkan tubuhnya di sebelah Anne. Dia menatap putranya dengan tatapan yang tidak dapat Anne artikan.


Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya Nessie ketika melahirkan putranya. Terlebih lagi Nessie terpaksa harus dioperasi karena ada yang salah dengan kehamilannya.


Mengingat hal itu, Ivander segera mengambil putranya dari pangkuan Anne. Pria itu menatap putranya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Ternyata menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Aku baru menyaksikannya tadi," ucap Ivander dengan tiba-tiba yang membuat Anne langsung menolehkan kepalanya pada Ivander.


Dia tersenyum dan menggenggam tangan kecil milik Kanwa yang tersampir di tangan Ivander.


"Dengarkan aku. Seorang ibu melahirkan anak yang mereka kandung selama sembilan bulan, dengan perjuangan yang begitu berat. Mau seburuk apapun seorang wanita itu, jika dia sudah melahirkan seorang anak, dia akan memiliki pola pikir yang berbeda. Pola pikir yang lebih matang dan lebih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."


Ivander terdiam sembari mendengarkan ucapan Anne.


"Van, mau bagaimanapun Nessie masih istrimu. Dia juga merupakan ibu dari Kanwa. Tidak ada salahnya kau mencoba untuk mencoba memberi kesempatan baru kepada Nessie. Siapa tahu, wanita itu sudah berubah dan siap mengurus anak kalian bersama-sama." Saran Anna yang membuat Ivander langsung mengerutkan keningnya.


Sebenarnya apa yang baru saja Anne katakan sangatlah benar. Tapi entah mengapa ada rasa tidak rela ketika Anne menyarankan jika dirinya harus kembali kepada Nessie. Bukankah itu artinya dirinya tidak akan lagi membutuhkan Anne jika Nessie kembali?


"Kau kembali ke ruang rawat Sherina saja dulu. Setelah Sherina keluar, aku akan segera menyusul." Anne mengangguk patuh dan mengambil Kanwa dari pangkuan ayahnya.


Ivander menatap kepergian Anne menuju ruang rawat Sherina. Dirinya sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan wanita itu, sebelumnya.


Sementara Ivander, dirinya mencoba menghubungi salah satu orang suruhannya dan meminta kejelasan tentang bagaimana keadaan Marvin untuk saat ini.


"Apakah ada korban jiwa dalam kecelakaan jet pribadi milik Marvin? Lalu apa yang saat ini menimpa Marvin? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Ivander langsung to the poin yang membuat orang tersebut mencoba menjelaskan tentang bagaimana keadaan Marvin yang sesungguhnya.


"Tuan Marvin mengalami patah tulang di daerah kaki kanannya. Sehingga, mengharuskan dia untuk melakukan operasi sesegera mungkin. Jadi jika Anda meminta kami untuk membawa Tuan Marvin langsung pulang ke sana sepertinya itu tidak memungkinkan. Paling tidak kita harus menunggu sampai operasinya selesai."


Ivander sedikit terkejut saat mengetahui jika ada tulang yang patah di kaki Marvin. Tetapi setelah memikirkan bagaimana baiknya, Ivander pun menuruti saran dari orang suruhannya tersebut.


"Baiklah, kau urus semuanya sampai selesai. Kabari aku jika ada sesuatu yang dibutuhkan," ucap Ivander sebelum memutus panggilan keduanya, ketika ruang bersalin terbuka dan Sherina sudah bisa dipindahkan ke ruang rawatnya.


Setelah tiba di ruang rawat inapnya, Sherina menata Ivander dan juga Anne yang duduk di sofa, yang berada di seberang brankarnya.

__ADS_1


Ivander sudah bisa menebak, jika Sherina akan menanyakan tentang apa yang terjadi pada Marvin. Maka dari itu, dia itu sudah mencoba menata dan memilah-milah apa yang harus dirinya katakan dan apa yang harus dirinya sembunyikan.


"Van, apa yang terjadi pada Marvin? Kenapa dia belum pulang?" tanya Sherina dengan nada lemahnya sembari menatap Ivander.


Anne menatap bingung pada kedua orang tersebut. Ya wanita itu tidak bisa mengerti apa yang Sherina katakan.


"Seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu. Tapi karena kau adalah istrinya dan keadaanmu sudah mulai membaik, jadi aku akan mengatakannya. Tetapi, kumohon jangan pikirkan ini terlalu larut. Semua akan baik-baik saja."


Sherina menganggukkan kepalanya dengan patuh, agar dirinya dapat segera mengetahui apa yang terjadi pada suaminya. "Tenanglah, aku akan tetap tenang. Setidaknya satu bebanku sudah berhasil aku selesaikan. Putriku sudah lahir dengan selamat," ucap Sherina yang langsung diakui oleh Ivander.


"Jet pribadi yang di membawa Marvin dari Singapura ke sini, mengalami kecelakaan. Untungnya tidak ada korban jiwa di dalam kecelakaan tersebut. Hanya saja dua penumpang lain serta pilotnya, mengalami luka yang cukup serius."


Ivander menjeda kalimatnya ketika melihat ekspresi kaku dari Sherina. Kepalanya seketika terasa pening, dengan napas yang mulai memburu.


"Lebih parahnya lagi, Marvin mengalami patah tulang di bagian kakinya. Hal tersebut membuat Marvin mau tidak mau harus segera dioperasi. Itu sebabnya, dia belum bisa pulang karena harus stay di rumah sakit terlebih dahulu."


Nafas Sherina seketika tercekat. Dia menatap Ivander dengan tatapan tak percayanya. Apa yang pria itu katakan? Suaminya mengalami kecelakaan?


"Suamiku baru saja mengalami kecelakaan dan kakinya patah, lalu kau bilang agar aku tidak panik? Kau seharusnya tahu bagaimana perasaan seorang istri ketika mengetahui suaminya kecelakaan," ujar Sherina tak percaya yang membuat Ivander menganggukkan kepalanya paham.


"Aku tahu akan hal itu. Tapi aku mengatakannya karena memang ada sebabnya. Marvin baik-baik saja, dia hanya mengalami beberapa luka ringan dan juga mengharuskan kakinya untuk di operasi agar dia bisa kembali berjalan dengan normal."


"Sherina, coba tenangkan dirimu. Jangan terlalu memikirkan hal yang sudah aku pikirkan. Mengerti?" Sherina tidak menjawab, dia mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.


"Di mana Marvin, sekarang? Apakah dia sudah bisa dihubungi?" tanya Sherina dengan nada yang mulai bergetar. Ivander sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan di Sherina kali ini.


"Suamimu sedang berada di rumah sakit. Dia akan dijadwalkan untuk melakukan operasi secepatnya, kemungkinan hari ini. Agar dia dapat segera pulang, untuk menemui mu dan Niskala." Ivander mencoba memberikan alasan agar Sherina tidak memintanya untuk menghubungi Marvin.


"Aku mohon tolong bantu aku menghubungi suamiku. Aku hanya ingin memastikan jika dirinya baik-baik saja. Tidak lebih," minta Sherina lagi yang membuat Ivander kebingungan. Dia menetap Anne dengan tatapan kebingungannya.


Ketika Ivander hendak mengucapkan kalimat penolakan, tiba-tiba posternya berdering. Itu adalah panggilan dari orang suruhannya. Jadi jalan cepat dia langsung menjawab panggilan tersebut.


"Ya. Apakah ada yang kau butuhkan?" tanya Ivander sembari menatap pada Anne dan juga Sherina yang kini telah menetapnya dengan penuh harap.


"Van. Ini aku, Marvin."

__ADS_1


__ADS_2