
Anne tidak bergeming. Dia memejamkan matanya sejenak dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Wajah lelah wanita itu terlihat dengan jelas ketika terpapar sinar televisi.
Ivander menatap wajah cantik milik wanita itu dari samping, dengan tatapan yang begitu dalam. Entah apa yang pria itu pikirkan, tapi ada rasa nyaman ketika melihat Anne sudah kembali bersamanya. Dia ada di sini saat ini.
"Sudah diluar jam kerja, kau bukan lagi pekerjaku." Ivander memasukkan kedua tangannya ke dalam baju hangatnya, dengan tatapan yang masih tertuju pada Anne.
"Aku hanya lelah. Itu saja," jawab Anne tanpa membuka kedua matanya. Dia asyik memejamkan matanya dan menggerakkan tubuhnya seolah tengah ditidurkan oleh ibunya.
Ivander menipiskan bibirnya, dan menghela napasnya panjang. Dia menghadapkan tubunya secara penuh pada Anne, yang masih meringkuk dengan posisi duduk.
"Kenapa tidak membawa serta Louis? Kau tidak akan merindukannya?" Ivander menyandarkan tubuhnya di lengan sofa, dan mengangkat kedua kakinya berada tepat di sebelah paha Anne.
Anne seketika terdiam. Kedua matanya yang masih terpejam itu, diam-diam mulai meneteskan air matanya. Kepalanya terasa mulai pening, ketika tangisannya sebiasa mungkin Anne tahan.
"Aku memintamu membawanya serta karena aku serius, Ann. Bagaimana pun kau baru saja bisa kembali bersama dengan putramu. Aku yakin kau pasti ingin selalu bersamanya." Anne semakin menenggelamkan wajahnya, takut jika Ivander mengetahui jika dirinya tengah menangis.
"Ayahnya masih menginginkannya. Memang benar, Marvin sudah mengatur semuanya. Tapi aku sebagai seorang ibu pasti memiliki ketakutan. Aku takut putraku akan meninggalkan ku lagi. Ayahnya tidak sebaik itu." Anne mulai berbicara dengan suara tertahannya.
__ADS_1
Rasa sesak begitu memenuhi rongga dadanya, kali ini. Dia bernapas dengan sedikit tersengal, karena tangisannya yang tertahan.
Melihat hal itu, Ivander menyodorkan tisu yang ada di meja, dan membantu Anne mengangkat wajahnya. "menangis lah, tidak ada yang melarangnya. Menangis tidak akan membuatmu terlihat lemah, di mataku."
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, jika bawalah kemari putramu. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku mempekerjakan mu, jadi sudah seharusnya aku merawat putramu juga. Kita harus saling menguntungkan, bukan?" Ivander kembali mengingatkan apa yang dia katakan pada Anne seharu sebelum kabar kepulangan Anne ke Indonesia.
Anne tidak mendengarkan ucapan Ivander. Dia tidak ingin membicarakan putranya di hadapan orang lain. Dia menolak tisu pemberian Ivander dan segera menghapus air matanya. Dia meminum kopi yang tadi dirinya buat, dan hal tersebut masih dalam pantauan Ivander.
"Maafkan aku, aku terlalu emosional. Lupakan saja, anggap aku tidak pernah membicarakan hal tadi." Anne membenarkan rambutnya, dan mengeratkan selimut putih yang membalut tubuhnya.
Ivander melirik ke sembarang arah, untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghadapkan tubuh Anne menghadap penuh padanya.
"Annelis, dengarkan aku. Aku tahu aku memiliki banyak salah dan banyak kekurangan di matamu. Tidak tahu apakah kau sudah mengetahui semuanya atau belum, tapi aku hanya ingin menegaskan jika hal itu benar." Anne menyimak perkataan Ivander dengan wajah datarnya.
"Kau berpikir aku melakukan semua ini hanya agar kau kembali padaku, maka itu benar. Aku benar-benar kosong ketika kau kembali tanpa berpamitan denganku. Aku membutuhkanmu, merindukanmu, dan ingin kau segera kembali. Ya, aku akui jika aku memang menyukaimu. Aku benar-benar serius denganmu, Ann."
Ivander menatap kedua mata itu dengan begitu intens. Tangan besarnya yang ada di lengan kecil Anne itu, berhasil membuat Anne merasa sedikit menggigil. Dia merasa sedkit gugup?
__ADS_1
"Jika kau masih ragu, tidak masalah. Aku tidak memaksa agar kau dapat mempercayai apa yang aku katakan ini. Aku mengatakan semua ini agar aku tenang, aku bisa tidur dengan nyenyak. Jika suatu saat nanti kau kembali meninggalkan ku, setidaknya kau tahu jika aku sangat mencintaimu. Semua ada di tanganmu, Ann."
Anne merasakan sesak ketika mendengar pengakuan Ivander. Ada apa dengan hatinya, kenapa ada getaran aneh ketika tahu jika pria yang ada di hadapannya ini, ternyata memiliki rasa padanya.
Anne mengalihkan tatapannya dan menghela napasnya dengan panjang. Dia tidak tahu harus menjawab dengan apa, setelah semua ucapan Ivander.
"Ini sudah terlalu larut, untuk membicarakan hal itu. Kembalilah ke kamar mu. Aku akan menyusul Kanwa."
Anne segera berdiri dari duduknya, yang membuat Ivander langsung menahan tangan Anne. Dia ikut berdiri dan menundukkan kepalanya untuk menatap Anne.
"Sudah ku katakan berulang kali. Aku tidak suka dibantah, Ann. Jangan karena kau merupakan wanita yang sangat aku cintai, kau berpikir untuk bisa mengubah prinsip ku!" Tegas Ivander yang tak membuat Anne berkedip.
"Kau pikir aku bisa tidur nyenyak, setelah mengetahui jika kau kesulitan mencari nafkah di Jerman?! Tidak, Ann! Aku marah pada diriku sendiri, aku gagal padamu. Aku bahkan seperti orang gila, yang hanya bisa memantau mu tanpa bisa membantumu. Jadi tolong dengarkan aku, aku mohon." Ivander menurunkan nada bicaranya, yang membuat Anne menggertakkan giginya.
Dadanya kembali terasa sesak. Dengan susah payah dia menelan ludahnya dan menahan air matanya yang sudah ada di ujung mata.
"Terima kasih untuk semuanya, aku menghargai semua yang kau lakukan. Selamat beristirahat," ucap Anne nyaris tanpa suara, lalu melewati Ivander dengan begitu saja dan masuk ke kamar.
__ADS_1
Ivander terdiam mematung. Mendadak dia merasa bingung dengan apa yang baru saja dirinya lakukan. Dia terkejut karena tanpa persiapan dia bahkan langsung mengatakan segalanya pada Anne.
"Hah... Astaga. Jadi aku mencintainya?" Dengan nada tak percaya, pria itu mematung dan mengingat setiap potret terkejut Anne ketika mendengar ucapannya tadi.