
Ivander tertawa sumbang saat mendengar suara yang tak asing baginya itu, melirikkan matanya ke samping.
"Ingin menjadi pahlawan, hm?" Dengan begitu remehnya, Ivander bertanya pada Marvin yang baru saja tiba.
Sherina yang sejak tadi ketakutan itu, kini semakin kalut ketika melihat Marvin yang berjalan mendekatinya.
Tangan Ivander yang masih mencengkeram tangan Sherina itu, dengan cepat langsung ditepis oleh Marvin. Pria itu berdiri tegak di depan Sherina, dan menatap Ivander dengan tatapan permusuhan.
"Apa kau bilang tadi? Sherina harus menurut padamu? Menurut pada suami berhati iblis sepertimu?" Marvin tertawa jahat sambil menatap Ivander dengan tatapan nyalangnya.
Ivander tak terima. Dia hendak menyingkirkan tubuh gagah Marvin, dan menggapai Sherina. Tapi dia tidak dapat melakukan hal itu dengan begitu mudahnya.
"Enyahlah dari hadapanku! Aku sedang berurusan dengan istriku!" Usir Ivander yang sama sekali tak digubris oleh Marvin.
"Sherina! Jika kau tak ingin dianggap sebagai istri pembangkang, segera ikut denganku!" Ivander masih berusaha untuk membawa pergi Sherina.
"Sher, kau bisa masuk terlebih dahulu?" Dengan begitu lembutnya, Marvin menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Sherina.
Wanita itu diam tak bergeming. Dia menatap Marvin dengan tatapan kosongnya. Benarkah dia Marvin? Kemana saja hilangnya pria itu, sampai-sampai dia tak pernah menemuinya.
"Sayang?" Marvin mengangkat tangannya dan mengelus pipi Sherina yang mulai berisi.
Sherina tersadar, dan mengedipkan matanya. Berbarengan dengan itu, air mata wanita tersebut jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Masuk, ya? Aku akan mengurus ini terlebih dahulu." Marvin kembali berucap, yang langsung membuat Sherina mejauhkan wajahnya dari tangan kekar Marvin.
Tanpa sedikitpun penolakan, Sherina langsung masuk ke dalam. Dia benar-benar tidak tahan untuk tidak menangis saat ini.
Sementara Anne yang baru saja tiba bersamaan dengan Marvin itu, bergegas menyusul Sherina masuk ke dalam. Dia mengurus sisa kue yang tadi sedang Sherina panggang, dan menyelinap masuk ke dalam kamar wanita itu.
"Sherina?" Wanita yang rambutnya dikepang rapi itu, mendekati Sherina dan mengelus punggung Sherina.
Dengan cepat Sherina langsung melepaskan semua air matanya. Dia tidak mengira jika Marvin akan tiba, setelah sekian lamanya.
"Kenapa dia kembali, An? Kenapa?" Anne dengan cepat langsung memeluk ibu hamil tersebut.
"Tenanglah. Kau seharusnya bersyukur untuk hal itu. Dia kembali untukmu dan anak kalian." Anne mengelus punggung Sherina dan mengeratkan pelukan keduanya.
"Jangan benci pria itu, Rin. Dia bahkan rela melakukan banyak hal untukmu dan anak kalian. Kau sangat beruntung karena diperjuangkan oleh pria sepertinya." Anne yang mengetahui semua perjuangan Marvin untuk bisa bersama dengan Sherina itu, berusaha memberikan pengertian pada wanita tersebut.
"Kau tahu? Semua yang terjadi di hidupmu setelah kau berpindah kemari, adalah hasil campur tangan Marvin. Dia melakukan apapun itu agar kau dapat hidup dengan bahagia, di sini."
Sherina tak bergeming, dia menatap pantulan wajahnya di almari yang ada di ujung kamarnya. Dia terus merasakan elusan lembut di punggungnya, saat tiba-tiba Anne menghentikan gerakan tangannya.
Anne beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Sherina, ketika dia melihat Marvin yang sudah menyusul keduanya. Keduanya yang bahkan sudah dekat, sejak hari pertama kepindahan Sherina ke rumah ini, membuatnya sudah banyak mengenal.
Marvin berjalan masuk ke kamar Sherina, setelah Anne pergi. Pria itu menutup pintu kamar Sherina, dan menguncinya. Langkah besar milik pria itu mendekat pada seorang wanita yang perutnya sudah membesar itu.
__ADS_1
"Tidak merindukanku?" Pria itu duduk di atas lantai, dan memeluk tubuh Sherina dari samping.
Senyum hangat pria itu muncul saat dia menatap kedua netra hitam milik Sherina, di cermin. "Aku merindukanmu, Sayang."
Pria itu mendaratkan kecupannya di kening Sherina berulang kali. Lengan kekar miliknya langsung memeluk tubuh Sherina dengan begitu dalam.
Sherina menelan ludahnya dengan susah saat Marvin mulai mengelus perutnya. Jemari besarnya mulai mengelus perut yang berisi darah dagingnya itu, dengan leluasa.
"Maafkan aku, Sher." Marvin menenggelamkan wajahnya di bahu milik Sherina, sembari memejamkan matanya.
Dia bisa saja langsung menemui Sherina, saat di mana dia mengetahui jika Sherina berpindah kemari, malam itu. Tapi masih banyak urusan yang harus dia selesaikan hingga tuntas, agar dirinya dan Sherina dapat bersama tanpa ada sedikitpun gangguan.
Sherina tak menjawab sama sekali. Dia justru mengalihkan pandangannya, ke arah jendela. Dia bergumam perlahan seolah tak ada Marvin saat ini.
"Kau masih marah padaku? Aku minta maaf padamu, Sher. Aku benar-benar minta maaf." Marvin memeluk penuh tubuh Sherina.
Marvin menyesali semua perbuatannya. Tidak seharusnya dia melampiaskan hasrat terpaksanya dengan Sherina. Tidak seharusnya dia langsung pulang ke negaranya tanpa menjelaskan kepada Sherina terlebih dahulu. Tidak seharusnya juga dia membiarkan Sherina terbiasa tanpanya selama kehamilan.
"Apakah bayiku baik-baik saja? Dia perempuan atau laki-laki?" Marvin mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Sherina.
Sherina menatap pria tersebut dengan tatapan hampa. Tidak ada rasa rindu yang membuncah atau semacamnya, seperti yang diperlihatkan oleh Marvin.
"Dia tidak memiliki ayah. Jadi, menyingkirlah."
__ADS_1