Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 141


__ADS_3

Tangan milik pria itu seketika membeku. Napasnya tercekat dengan begitu saja, sesaat setelah mendengar ucapan sang istri. Mata tajam pria itu semakin menggelap, seiringan dengan rahangnya yang mulai mengeras.


Berbeda halnya dengan Sherina. Wanita itu semakin menangis karena tidak mendapatkan respon dari sang suami, meskipun dirinya sudah menggertak pria itu dengan hal yang sama sekali tidak dirinya inginkan.


Wanita itu mulai menyerah ketika Marvin sama sekali tidak menjawab ucapannya. Dia menghapus air matanya dengan begitu kasar, mencoba untuk tidak goyah dan menyerah dengan begitu cepat.


Seolah dirinya dapat bertahan dengan tembok keegoisannya lebih lama lagi, tetapi nyatanya Sherina tidak dapat melakukannya.


"Pergilah! Kau ingin meninggalkan aku dan anak-anak, bukan?! Maka lakukan saja! Kau tidak lain merupakan pria egois yang tidak pernah sadar dengan kesalahanmu!"


"Egois kau bilang!?"


Sherina yang sudah merasa putus asa itu seketika terkesiap saat Marvin bangkit dari posisinya, dan berdiri menghadap padanya.

__ADS_1


Tatapan mata pria itu menyiratkan rasa kecewa yang begitu besar ketika menatap sang istri. Dia menembus sang istri dengan tatapannya yang begitu dalam, yang membuat air mata Sherina turun semakin tak terkendali.


"Bertahun-tahun, Sher. Bertahun-tahun aku sabar menunggumu seperti orang gila. Kau tidak tahu bagaimana sakitnya aku ketika kau tidak berada di sisiku. Kau hanya menilai semuanya dengan sudut pandang mu saja!"


Tubuh Sherina membeku, ketika pertama kali dalam hidupnya sang suami membentaknya dengan nada yang begitu tinggi. Ada getaran yang begitu menyesakkan dirinya ketika menatap sang suami, saat ini.


"Yang kau tahu hanya aku yang bersalah, bukan?! Baiklah, sepertinya memang aku tidak harus merahasiakan ini lagi darimu!" putus Marvin dengan amarahnya, yang langsung berjalan meninggalkan Sherina.


Langkah besarnya dengan cepat langsung kembali ke sang istri yang masih berdiri mematung di tempatnya. Dibukanya amplop besar berwarna coklat itu dengan kasar, dan dia langsung mengeluarkan isinya dengan begitu kasar.


"Kau begitu membenciku, bukan?! Maka kenyangkan dirimu dengan semua ini, sebelum aku pergi!" Marvin melempar beberapa lembar kertas yang berhasil dirinya keluarkan dari dalam amplop, dan menghempaskannya ke depan sang istri dengan penuh kekecewaan.


Sherina yang terkejut dengan sang suami itu, menatap kertas-kertas yang kini berhamburan di lantai akibat suaminya lemparkan. Tubuh wanita itu masih menegang, dengan mata yang mulai memindai tulisan kecil yang tercetak di kertas itu.

__ADS_1


'HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM'


Jantung Sherina berdetak dua kali lebih cepat saat membaca kalimat tersebut. Matanya beralih menatap kedua mata gelap milik sang suami yang sudah memerah karena menahan amarah.


"Kenapa?! Ambil dan baca semua hal yang aku sembunyikan ini, darimu!" tegas Marvin yang sudah terlalu sakit dengan semua perilaku istrinya.


Dengan tangan yang sudah terkepal erat, Sherina menundukkan tubuhnya dan mengambil surat tersebut. Air mata wanita itu seketika terhenti, berbarengan dengan jantungnya yang terasa berhenti berdegup.


Marvin menggertakkan rahangnya, menatap ekspresi sang istri yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dirinya baca.


Setelah bisa menyimpulkan atas apa yang dirinya baca, Sherina menggelengkan kepalanya dengan napas yang tercekat di tenggorokan.


"Ini tidak mungkin 'kan, Vin? Ini bukan milikmu."

__ADS_1


__ADS_2