
4 bulan telah berlalu ...
Sherina yang masih menghabiskan malamnya untuk melembur itu, mengernyitkan keningnya saat menerima sebuah pesan di ponselnya. Wanita tersebut segera membuka pesan yang dia terima dari nomor tak dikenal.
Sherina mengunduh soft file yang orang tersebut kirimkan, dan tak sabar untuk membukanya. Belum selesai unduhan tersebut, pesan lain menyusul pesan pertama tadi yang membuat Sherina mengetahui siapakan pengirim pesan tersebut.
[Ini yang kau mau, bukan? Maka berbahagialah, aku sudah menuruti apa yang kau mau.] Tulis Ivander dalam pesan yang dia kirimkan ke Sherina.
Seketika mata wanita itu mulai memanas. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak, tetapi dia sama sekali tak mengetahui apa itu.
Sherina membuka dokumen tadi, dan mematung melihat salinan akta cerainya dengan Ivander. Air mata yang sejak tadi Sherina tahan itu, kini menetes. Wanita itu tak membalas pesan Ivander, dan meletakkan ponselnya dengan begitu saja.
Sherina kini terlihat begitu putus asa. Dia yang menginginkan perceraian ini, tapi kenapa dia juga yang merasakan sesak yang begitu dalam saat mengetahui jika dirinya dan sang suami telah resmi bercerai.
Sherina menangis sesenggukan dan melupakan tugasnya yang masih menumpuk. Wanita mana yang akan baik-baik saja setelah tahu jika dirinya kini menjadi seorang janda.
__ADS_1
Namun yang dikhawatirkan oleh wanita tersebut bukan masalah stasus yang akan dia miliki, tetapi semua perasaannya yang bahkan sudah sangat menguasai hatinya. Dia bahkan sudah menaruh perasaan pada suaminya sejak pertama kali mereka bertemu, setelah Sherina pindah ke kota.
Sherina berpikir, hanya dirinyalah yang merasakan sakit tersebut. Tapi nyatanya, hal yang sama juga berlaku pada Ivander.
Sejak mengirimkan pesan pada wanita itu, Ivander sama sekali tidak ingin disentuh oleh istrinya. Pria itu menghabiskan waktunya seharian penuh di kamar milik Sherina. Sekarang dirinya mengakui jika Sherina sudah berhasil membuatnya tak berhenti memikirkan wanita tersebut.
"Benar kata papa dan mama, aku bodoh!" Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu, menyembunyikan kepalanya dibalik guling.
Tak lama setelah itu, pintu kamar Sherina diketuk dari luar. mau tak mau, pria itu pun bangkit dan membukakan pintunya. Pria itu menatap tak suka pada wanita yang perutnya sudah mulai membesar itu.
Ivander tak menjawab. Dia masih menatap wanita yang bahkan badannya mulai membesar, seiring dengan membesarnya perut itu.
"Sebenarnya apa salahku? Kenapa kau selalu menghindari ku?! Apakah karena aku mendukung perintah dari mama dan papa agar kau menceraikan wanita itu?! Atau kau marah karena aku tidak keguguran dan bahkan meninggal, pada saat aku jatuh waktu itu?" Nessie yang sudah mulai muak dengan sikap acuh Ivander itu pun meluapkan emosinya.
Ivander seketika mengeratkan rahangnya, dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia menatap kedua mata Nessie dengan tatapan tajamnya, mencoba menghentikan ucapan Nessie yang menurutnya terlalu mengganggu untuknya.
__ADS_1
Ya, hari di mana dirinya melihat istrinya tersebut terjatuh dari tangga itu, membuat Ivander harus mengambil keputusan dengan pikiran yang tidak matang.
Dia mengatakan pada kedua orang tuanya jika dia memilih Nessie dan anak mereka. Selain karena Nessie adalah wanita yang sudah menemaninya sejak dirinya terjun ke dunia perkantoran, penerus keluarganya lah yang membuat Ivander memilih opsi tersebut.
"Sayang, aku ini istrimu! Aku lebih berhak atas dirimu, karena aku sedang mengandung anakmu! Kau dulu mengatakan padaku, bukan? Kau akan selalu mencintaiku, dan berhenti di aku. Tapi sekarang apa?"
Nessie yang merasakan kram di bagian perutnya itu, menjeda perkataannya. "Sekarang, jawab dengan jujur pertanyaanku! Apakah kau mencintai wanita itu?!"
Ivander tak menjawab. Dia menatap Nessie dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Ada rasa bersalah yang menghinggapi hati pria itu saat menatap Nessie. Dia tahu dia belum bisa menentukan perasaannya.
"Ivander jawab aku! Apakah kau mencintai wanita itu?!" bentak Nessie dengan mata yang mulai memerah karena menahan emosinya.
"Jawab, Van!"
"Ya! Aku mencintainya!"
__ADS_1