
Sherina duduk di sebelah suaminya sembari terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Ivander. Empat tahun ternyata bukan waktu yang sebentar, nyatanya banyak hal yang dia lewatkan selama koma di rumah sakit.
Tatapan wanita itu kini teralih menuju sang suami yang tengah menyandarkan punggungnya, dan memeluk pinggangnya. Seketika perasaan bersalah kembali menyelimuti wanita itu. Dengan senyum tipisnya, wanita itu mengecup pipi suaminya dan memeluknya.
"Maafkan aku, Vin." ucap wanita itu menyandarkan dagunya di dada sang suami yang langsung disambut dengan cuitan dari Ivander yang baru saja tiba.
"Iya iya, kita berdua tau kalau kalian udah baikan. Jangan pamer, ah. Nggak baik!" Ivander merangkul Anne yang ikut tersenyum dan duduk di hadapan keduanya.
Tatapan Marvin masih biasa saja, meskipun dalam hati pria itu sudah sangat ingin sekali meninju wajah sahabatnya tersebut.
"Ann, sebaiknya kau berpikir dua kali untuk menikahi pria gila ini! Sakit, dia!" Ucap Marvin yang membuat Ivander menatap sengit pada suami Sherina itu.
"Okay, aku tahu aku salah. Ya, itu salahmu sendiri. Bisa-bisanya kau meninggalkan istrimu dan dengan begitu percaya dirinya kesana kemari dengan wanita ular itu! Kau yang sakit!"
Sherina dan Anne hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka tidak habis pikir dengan persaingan sengit antara keduanya yang tak selesai-selesai, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya.
"Oh, meninggalkan istriku kau bilang? Hei kau tidak tahu bukan, setiap tengah malam sepulang dari perusahaan aku langsung ke rumah sakit untuk menemui Sherina? Apa kau tahu seberapa lelah aku!?"
__ADS_1
Ivander berdecak perlahan lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "sayangnya aku tidak ingin tahu, itu!"
Sherina melipat bibirnya ke dalam, menahan tawanya lalu menepuk dada suaminya. "Sudahlah, kenapa kalian justru bertengkar. Kita kemari untuk menjelaskan semuanya secara detail. Agar tak ada lagi salah paham atau semacamnya."
Sherina lalu menjelaskan semuanya pada Ivander dan Anne, sampai akhirnya mereka menganggukkan kepalanya paham.
"Baiklah, secara pribadi aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Andai saja Sherina tidak berbesar hati dan memaafkan aku, entah apa yang akan terjadi."
Setelahnya mereka pun kembali berbincang ringan. Terlebih lagi, ini pertama kali mereka bertemu bersama. Jadi banyak hal yang belum mereka ketahui.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan si Alissa? Apakah dia masih menerormu, Sher?" Anne yang bertanya itu baru saja teringat dengan sikap Alissa yang begitu arogan ketika bersama Marvin.
"Lihatlah, Vin. Dia begitu terobsesi denganmu. Kenapa kau tak nikahi dia saja? Biarkan nanti Sherina mendapatkan duda kaya yang lebih mencintainya." Ejek Ivander yang kali ini benar-benar membuat Marvin ingin memukul kepalanya.
"Diam, atau ku beli semua saham perusahaanmu!?"
Ya, ucapannya itu berhasil membuat nyali Ivander menciut. Pria itu hanya bisa tersenyum kaku, lalu memeluk Anne yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Orang kalau ber-uang memang begitu ya, Sayang? Semena-mena!" adunya pada Anne yang disambut dengan anggukan kepala dari wanita itu.
"Sudahlah, jangan bahas wanita gila itu. Aku sudah memecatnya dan memberi peringatan padanya. Semoga saja dia tidak memiliki nyali lagi untuk kembali kemari."
Sherina sedikit terkejut mendengar penuturan suaminya. Pasalnya dia belum mengatakan apapun setelah kembali ke rumah, tadi.
"Oh ya, Sayang. Coba kau katakan keinginan kita tadi."
Mendengar ucapan Marvin, Ivander dan Anne menatap keduanya dengan tatapan bingung. Mereka bergantian menatap Marvin dan Sherina, menunggu ucapan dari wanita itu.
"Aku ingin kita menjodohkan anak-anak." ucap Sherina mencoba ingin mengejutkan, tetapi justru dirinya sama sekali tidak mendapat reaksi terkejut sedikit pun dari kedua orang yang ada di hadapannya.
"Kalian tidak terkejut?" tanya Sherina dengan tatapan menelisik, yang langsung disambut dengan gelengan kepala dari keduanya.
"Kami sudah berencana sejak lama. Bukan begitu, Sayang? Tapi syukurlah jika kalian juga memiliki niat yang sama. Bukan berarti kita ingin melarang mereka, tetapi kita bisa mengusahakan yang terbaik."
Keempatnya serempak menganggukkan kepalanya. Tapi tiba-tiba, suara di depan sana berhasil menghentikan kegembiraan mereka.
__ADS_1
"Siapa yang akan dijodohkan!? Tidak ada perjodohan di keluarga ini!"