Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 44


__ADS_3

Sherina sempat menatap Marvin dengan tujuan ingin meminta penjelasan dari pria itu. Tapi seolah tak mengenal Sherina, pria itu selalu memutus pandangannya ketika bertemu dengan tatapan Sherina.


Tak hanya Sherina yang terkejut, Ivander pun sempat menatap Marvin yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajamnya.


Tak lama setelahnya, meeting pun dimulai. Sherina yang menjadi moderator untuk rapat itu, berusaha se-profesionalnya agar rapat dadakan itu dapat berakhir dengan hasil yang maksimal.


Marvin yang sejak tadi menyimak apa yang dipaparkan oleh Sherina itu, tak jarang memberikan pertanyaan, yang pada akhirnya berhasil dijelaskan dengan sangat rinci oleh Sherina.


Dalam hati pria itu, dia merasa kagum dengan Sherina. Marvin memang sengaja memberikan pertanyaan yang berkelit tadi, tapi nyatanya Sherina mampu menjawabnya dengan sangat rinci, dan begitu sabar.


"Jika sekiranya dari apa yang saya katakan tadi masih belum jelas, Pak Marvin bisa menanyakannya kembali pada saya." Sherina mencoba bersikap profesional, seperti yang dilakukan oleh Marvin.


Marvin yang merasa jika semuanya sudah cukup, dan sesuai dengan apa yang dirinya harapkan itu, menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Semuanya sudah jelas!" ucap Marvin yang langsung dibalas anggukan oleh Sherina.


"Baiklah, sesuai dengan surat kontrak yang sudah saya pelajari dari pihak pertama, saya akan menandatangani kontraknya." Marvin yang memang sudah beberapa kali menghubungi pemilik perusahaan, atas dasar masalah ini pun, memutuskan untuk menanam saham di perusahaan ini.


Setelah disetujui oleh semua pihak, akhirnya Marvin berhasil bergabung dengan perusahaan Sherina. Semua orang berjabat tangan, seperti yang biasanya dilakukan ketika mereka berhasil melakukan kerja sama.


Hasil akhir yang membuat posisi antara Ivander dan Marvin sama sejajarnya itu, membuat keduanya tak terdistraksi dengan masalah mereka di luar perusahaan.


Tiba saat Marvin bersalaman dengan Sherina, pria itu tersenyum tipis padanya. "Kerja yang bagus, Sayang." Marvin berbisik tepat ditelinga wanita itu.


Sherina hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipisnya. Keduanya yang masih berhadapan itu, menolehkan kepalanya saat mendengar ucapan dari Ivander.


"Permisi semuanya. Saya ingin memberi tahu dan mengundang semua yang ada di sini untuk datang ke acara, hari jadi perusahaan saya. Acaranya akan diadakan besok malam, di Chamaleon Therater. Besar harapan saya agar semua dapat menghadirinya. Nantinya saya juga akan mengenalkan beberapa orang penting dari perusahaan saya."


****

__ADS_1


Sherina yang baru saja tiba di apartemen itu, mengernyitkan kenignya ketika melihat mobil baru yang terparkir di basement. Seperti mobil yang kemarin Marvin pillihkna untuknya. Tapi bukankah mobil pesanan pria itu baru akan tiba dalam waktu satu pekan?


Lantaran tak ingin penasaran, Sherina segera naik. Benar dugaannya, Marvin bahkan sudah menunggunya di depan pintu, dengan wajah lelahnya.


"Kau sudah tiba di sini? Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" tanya Sherina lalu segera membuka pintunya.


Wanita itu membawa Marvin masuk, dan kembali menutup pintunya. Marvin yang memang sudah sangat lelah karena beberapa urusannya sejak pagi itu, segera menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Kenapa kau pulang terlambat?" tanya Ivander yang melihat Sherina tengah melepas blazernya, dan berjalan ke dapur.


Sherina mengambilkan minuman untuknya dan Marvin, lalu kembali masuk ke dapur. "Aku ada urusan sedikit, tadi. Jadi aku langsung pergi saja," jawab wanita yang masih berada di dapur.


Sherina yang masih sibuk di dapur itu, sama sekali tak sadar jika Marvin mulai terlelap di sofa. Pria itu menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi wajahnya.


Saat Sherina kembali, wanita itu terkejut ketika mengetahui jika Marvin sudah tertidur di atas sofa. Wanita itu merasa jika Marvin tak akan nyaman ketika tidur di sofa.


Panjang kakinya yang melampaui sofa itu, membuat pria itu harus mengangkat sebagian kakinya untuk bisa tidur dengan nyaman.


Wanita itu melepaskan sepatu yang masih Marvin kenakan, dan meletakkannya dengan begitu saja di sebelah sofa. Dengan perlahan wanita itu mencoba membangunkan Marvin.


"Vin, pindah ke kamar ya? Jangan di sini," ucap Sherina sambil mengguncang bahu Marvin dengan perlahan.


Marvin yang belum lama tertidur itu, dengan malas membuka kedua matanya. Sherina yang melihat wajah lelah pria itu, segera membangunkannya. Kedua matanya yang memerah, membuktikan jika pria itu baru saja terlelap dalam tidurnya.


Sherina berjalan lebih dulu, dan diikuti oleh Marvin, yang berjalan dengan mata yang sedikit terpejam. Setelah tiba di kamar Sherina, pria itu langsung berbaring tengkurap, dan memeluk guling milik wanita itu.


Sherina hanya menggelengkan kepalanya, dan meninggalkan Marvin setelah menyelimuti pria itu.

__ADS_1


Saat Sherina hendak kembali ke dapur, wanita itu mengernyit saat mendengar suara bel rumahnya. Wanita itu bergegas ke depan dan membuka pintunya. Dia penasaran dengan siapa yang datang.


Ketika membuka pintunya, wanita itu terkejut ketika melihat Ivander lah yang datang.


"Ada apa?" tanya Sherina langsung ketika tak melihat keberadaan Nessie.


Ivander tak menjawab. Dia justru langsung masuk dengan begitu saja, ke dalam. Saat Ivander tengah meletakkan hampers yang dirinya bawa, tatapan pria itu langsung tertuju pada sepatu yang ada di sebelah sofa.


Sherina yang mengetahui maksud dari tatapan Ivander itu, dengan cepat langsung mengambil sepatu milik Marvin, dan membawanya ke rak yang ada di depan.


"Apa yang kau bawa?" tanya Sherina langsung mengalihkan perhatian Ivander.


"Hampers titipan mama." Ivander menjawab dengan singkat, lalu menatap Sherina dengan tatapan tak senangnya.


Sherina yang tak paham dengan apa yang pria itu pikirkan, memilih untuk mendekati bingkisan yang baru saja Ivander bawa.


"Acara apa memangnya?" tanya Sherina lagi, lalu mengalihkan tatapannya ke Ivander.


"Siapa? Marvin?" Bukannya menjawab pertanyaan Sherina, pria itu justru memberikan pertanyaan untuk Sherina.


Sherina yang tak harus menjawab pertanyaan dari mantan suaminya itu pun, hanya dapat menghela napasnya. "Oh, aku melihatnya. Jadi ini dalam rangka acara gender reveal anak pertama mu? Selamat, kau akan segera memiliki putra kecil yang menggemaskan!"


Sherina tersenyum tipis, dan kembali menatap pria itu setelah membaca surat yang ada di dalamnya. Senyum Sherina seketika luntur, ketika Ivander sama sekali tak menggubrisnya. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan tak senangnya.


"Marvin?" tanya Ivander lagi, yang membuat Sherina menurunkan bahunya.


"Kenapa? Apa urusannya denganmu? Entah itu Marvin atau bukan, kau tak berhak tahu tentang hal itu!" Sherina mencoba menjelaskan ucapannya pada Ivander.

__ADS_1


Dia benar-benar tak habis pikir dengan pria itu. Kenapa Ivander selalu tak suka jika dengan apa yang dia lakukan. Mereka sudah selesai, dan itu artinya Ivander tak lagi berhak mengetahui tentang kehidupannya.


"Apa kau bilang? Aku tak berhak tahu, tentang hal itu? Tidak! Aku berhak tahu!"


__ADS_2