
Marvin yang sudah menahan rasa bahagianya itu, seketika terkejut mendengar ucapan sang istri yang terdengar tidak senang. Dia mengalihkan tatapannya dan menatap Sherina yang justru terlihat khawatir.
"Sayang! Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Marvin dengan wajah yang sedikit kaget.
Dirinya segera membawa Sherina ke dekapannya dan memeluk pinggangnya erat-erat. Pria itu mengecup kening Sherina yang membuat Sherina mulai menangis.
Dia masih menangis dalam diam. Sampai akhirnya Marvin yang mengetahuinya itu, menghela napas panjang, dan memejamkan matanya sejenak. Yang pada awalnya Marvin hendak menuntut penjelasan dari sang istri, mendadak mulai mendinginkan otaknya. Pasti ada sebabnya jika sang istri sampai terlihat sedikit kecewa ketika mengetahui jika dirinya sedang mengandung.
"Aku minta maaf. Ini terjadi karena aku," lirih marvin lalu mengecup kening Sherina.
Sherina segera menggelengkan kepalanya, dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh kekar suaminya. Entahlah, dirinya juga bingung, kenapa mendadak rasa takut menggerayangi dirinya.
"Ini bukan salahmu. Bukan aku tidak suka, tapi Niskala dan Ailey." jawab Sherina lirih yang membuat Marvin menarik napasnya panjang-panjang.
__ADS_1
"Heii, sayang. Dengarkan aku," ucap Marvin lalu melepas pelukannya pada sang istri. Dia menatap Sherina yang wajahnya mulai sembab karena menangis.
"Kamu percaya sama aku 'kan, Sher? Aku benar-benar mencintaimu. Kita akan merawat mereka bersama-sama. Memang, kehamilan ini merupakan kehamilan yang nggak kita rencanakan. Tapi dia buah cinta kita. Dia memiliki ayah dan ibu yang lengkap, jadi jangan khawatir."
Sherina menatap kedua mata menenangkan milik suaminya, dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu melipat bibirnya ke dalam, dan membenarkan apa yang suaminya katakan.
"Nggak perlu mikir yang enggak-enggak, ya? Anak-anak biar aku yang urus. Kamu jangan sampai kelelahan. Hari ini kita ke dokter," ucap Marvin kembali mengecup pelipis istrinya, sebelum membawa Sherina keluar dari kamar mandi.
Sherina menahan napasnya sejenak, dan menghembuskannya dengan sedikit risau. "Baiklah, kita ke dokter hari ini. Aku akan menyiapkan Ailey dan Niskala terlebih dahulu."
Marvin menundukkan kepalanya dan menatap hasil test kehamilan milik istrinya. Dirinya sama sekali tidak pernah keberatan jika Sherina mengandung dalam waktu yang berdekatan. Tapi entah mengapa, pria itu justru memiliki perasaan yang tidak-tidak.
"Sherina tidak benar-benar mencintaiku?" tanya pria itu pada dirinya sendiri, yang lebih ke meragukan perasaan istrinya padanya.
__ADS_1
Hal itu bahkan sangat berbeda dengan apa yang saat ini Sherina pikirkan. Dia justru takut jika suaminya keberatan dengan hal ini. Tapi yang dipikirkan oleh pria itu selalu saja tentang perasaan, seolah belum cukup yakin dengan perasaan istrinya padanya.
Dia tidak memikirkan bagaimana sakitnya melahirkan, belum lagi bergadang setiap malam untuk menyusui. Dan bahkan perubahan seluruh dirinya ketika mengandung.
Siang harinya, Sherina menggandeng tangan kecil milik Ailey yang berjalan diantara dirinya dengan Marvin yang tengah menggendong Niskala di dekapannya.
Keluarga kecil itu nyatanya berhasil menarik seluruh atensi para pengunjung rumah sakit. Sherina yang sudah membuat janji dengan salah satu dokter di rumah sakit tersebut, segera berjalan menuju poli kandungan.
Namun, tepat sebelum belokan di ujung koridor, langkah keluarga itu terhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang tidak asing bagi dua orang dewasa yang bersama dengan Ailey dan Niskala itu.
Tatapan orang tersebut begitu tajam, seolah tengah mencabik habis dua orang yang tengah bertemu dengannya saat ini. Matanya seketika memerah, saat menangkap dua gadis kecil yang bersama dengan mereka.
Tangan orang itu mengepal hebat, disertai dengan rahangnya yang mulai menggertak. Dia tersenyum miring, dan menarik napasnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Oh, hai! Apa kabar, Sher!?"