Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 63


__ADS_3

Saat ini Sherina sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ya, Ivander tadi datang ke rumahnya dan menjelaskan semuanya.


Dia meminta bantuan padanya karena pria itu harus meninggalkan Kanwa sendirian di rumah sakit. Pada awalnya dia berusaha menolak, tapi bagaimanapun alasan yang Ivander berikan padanya benar-benar masuk diakal.


"Tidak ada orang lain disini. Nessie sudah pergi, dan aku sudah memecat pengasuh putraku karena ternyata dia pernah menyakitinya. Papa dan mama juga akan tiba disini, malam nanti."


Sherina tahu, jika pria itu sudah mencoba melepaskannya. Meskipun dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya pria itu rasakan, tetapi Sherina mencoba mempercayai apa yang pria itu katakan.


"Aku tahu, apa yang terjadi padaku ini memang murni kesalahanku. Aku juga tahu jika kau tak lagi ingin kembali padaku, itu semua juga karenaku. Jadi aku tidak akan lagi memaksamu untuk kembali padaku. Nikmatilah hidupmu."


Sherina merasa sedikit tenang setelah mendengar ucapan Ivander tadi. Setidaknya dirinya tidak memiliki beban karena harus terus-terusan menghindari Ivander.


Sesampainya mereka di rumah sakit, keduanya berjalan menuju ruang rawat inap untuk bayi itu. "Kau yang membawanya sendiri, kemari?"


Ivander hanya mengangguk. Dia membukakan pintu utuk ibu hamil tersebut, dan membiarkan Sherina berjalan masuk terlebih dahulu.


Sherina mendekat pada brankar yang di sekililingnya dibatasi oleh guling bayi, dan menatap bayi berwajah tampan, yang saat ini masih tertidur.


"Hei, dia tampan sekali. Sangat mirip denganmu," kagum Sherina sambil membelai pipi milik Kanwa.


"Berat badannya turun, beberapa hari terakhir ini. Awalnya dia sangat berisi," ucap Ivander sembari menatap wajah putranya.


Sherina mengernyit. Bukankah dia memiliki ibu susu sebagai pengganti Nessie? Ivander yang tahu jika pertanyaan itu melintas dibenak Sherina.


Pria itu pun menjelaskan semuanya. Dia mengatakan jika putranya ini tidak mudah cocok dengan ibu susunya. Dia bahkan kini memiliki alargen terhadap ASI, tetapi dia tidak bisa menerima susu formula.


"Astaga. Apakah kau sudah mencoba cara lain?" Sherina tahu ada guratan kekhawatiran dari pria itu.

__ADS_1


Ivander hanya mengangguk dan mengatakan jika tidak ada perbedaannya.


"Kenapa kau tidak meminta Nessie untuk menyusui terlebih dahulu? Setidaknya sampai Kanwa sudah bisa minum susu formula." Sherina mencoba memberikan saran pada pria diseberangnya itu.


"Tidak. Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak tahu rencana apa lagi yang akan wanita itu lakukan jika aku sampai menuruti saran yang kau berikana padaku." Tolak Ivander mencoba mempertimbangkan apa yang Sherina katakan padanya.


Sherina tak lagi memberikan saran pada Ivander. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saat Ivander menitipkan beberapa pesan sebelum akhirnya meninggalkan dirinya.


Selama menunggu Kanwa, Sherina beberapa kali berkirim pesan dengan Anne. Sherina sempat bertanya pada wanita itu apakah Marvin sudah kembali ke rumah atau belum. Tapi hal tersebut sia-sia karena wanita itu sedang tidak berada di rumah, saat ini.


Sementara tak lama setelah itu, Kanwa tiba-tiba menangis. Dengan hati-hati Sherina mencoba menggendong bayi yang baru berusia 8 bulan tersebut.


Tak lama setelahnya, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Sherina yang melihat siapa yang datang berkunjung itu, terkejut bukan main.


"Mama!"


Malam harinya, Sherina memutuskan untuk pamit kepada kedua orang tuanya. Meskipun kini dirinya bukan lagi menantu dari kedua orang tua tersebut, tetapi hal itu tak membuat keduanya memiliki sikap yang berbeda dengan Sherina.


"Kamu hati-hati ya. Biarkan Ivander yang mengantarmu. Oh ya, jaga kesehatanmu dan bayimu. Kalau ada waktu luang, berkunjunglah ke rumah."


Sherina menganggukkan kepalanya. Dia memeluk mamanya dan berganti ke papanya. Jujur, kedua orang tua tersebut merasa terharu ketika melihat tubuh berisi milik mantan menantu mereka. Besar harapan mereka agar suatu saat nanti kedua anaknya dapat kembali bersama, meskipun hal tersebut sangatlah tidak mungkin terjadi.


Ivander bergegas mengantarkan Sherina pulang. Jam menunjukkan pukul 10 malam, dan Sherina kini hampir tiba di rumahnya.


"Terimakasih atas bantuannya, Sher. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak bisa membantuku menjaga Kanwa. Sekali lagi, aku minta maaf karena sudah merepotkanmu."


Sherina mengangguk ringan lalu segera turun dari mobil dengan bantuan Ivander.

__ADS_1


Sementara Marvin yang sejak sore tadi sudah menunggu Sherina pulang, mendadak bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan ke depan dan terkejut saat melihat kedatangan keduanya melalui jendela kaca.


Seketika pria itu berdiri mematung. Dia menatap Sherina dengan rasa kecewa yang begitu besar. Tatapan tajamnya kini tertuju pada tangan kekar milik Ivander yang tengah menggenggam tangan milik Sherina.


Marvin mengepalkan tangannya erat-erat dengan hati yang tiba-tiba membara. Dia berusaha mendinginkan amarahnya setelah kejadian tadi pagi, dan kini dia justru melihat kedekatan antara Sherina dan mantan suaminya.


Marvin segera menjauh dan masuk ke dalam kamarnya. Dia mencoba memejamkan matanya agar tak emosi. Dia berusaha agar hatinya tidak menggebu-gebu, dan keluar sebelum amarnya mereda.


"Sial! Ini sia-sia!" Marvin mengusak rambutnya dengan kasar sembari menahan sesak di dadanya.


Entahlah, memang sedikit berlebihan, tetapi itulah yang Marvin rasakan sekarang ini.


Dengan cepat Marvin segera mengambil raincoatnya serta kunci mobilnya. Setelah itu, Marvin membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar, dan berpapasan dengan Sherina yang tengah menunggu Ivander pergi.


"Kau hati-hati dijalan. Sampaikan salam dan terima kasihku pada mama dan papa."


Sesaat setelah Sherina yang mendengar pintu kamar terbuka, wanita tersebut segera menolehkan kepalanya. Seketika wanita itu terkejut saat melihat jika Marvin sudah berada di rumah. Dengan cepat Sherina berbalik dan hendak berjalan mendekat pada Marvin.


Namun baru beberapa langkah, Sherina menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, saat Marvin berjalan melewatinya dengan begitu saja.


Dari sorot matanya yang memerah, Sherina tahu jika pria itu merasa marah padanya. Entah mengapa, Sherina benar-benar merasa bodoh. Dia terdiam selama beberapa saat, sampai dia mendengar jika pintu mobil milik pria itu mulai tertutup.


Sherina segera berbalik dan berjalan dengan tergesa. Dia mendekati mobil milik Marvin yang terparkir di halaman samping, mengabaikan Ivander yang tengah menatapnya.


"Marvin! Tunggu sebentar!" Sherina mencoba meraih kaca mobil milik pria itu, sebelum akhirnya Marvin menginjak pedal gas nya dengan begitu dalam.


"Marvin!"

__ADS_1


__ADS_2