
Satu minggu sudah berlalu.
Sherina yang tengah duduk di meja makan, dengan kopi panas yang mengepul di sebelah laptopnya, mulai mengalihkan matanya ketika melihat ada seseorang yang datang ke rumah.
Melihat kedatangan dua tamu yang tidak dirinya undang, membuat Sherina menaikkan sebelah alisnya dan membawa kedua tangannya ke atas meja. Dia menatap kedatangan dua orang tersebut yang perlahan mulai masuk ke dalam rumahnya.
Tatapannya dengan sang suami seketika bertemu, tetapi tidak ada sorot mata seolah-olah mereka merindukan satu sama lain atau yang lainnya. Hanya ada ratapan mata datar seolah tidak membutuhkan satu sama lain yang terpancar dari kedua mata mereka.
Sherina membuang wajahnya, dan kembali fokus pada pekerjaannya. Dia mengangkat cangkir berisi kopi panasnya dan menyeruputnua perlahan. Menarik atensi dari dua orang yang tengah berdiri di ruang tamu.
"Apakah ada yang tertinggal lagi?" Tanya wanita itu dengan nada sok lembutnya yang membuat Sherina melipat bibirnya ke dalam.
Lantaran tidak ingin melihat kemesraan antara sang suami dengan wanita lain, Sherina segera menutup laptopnya dan membawa cangkirnya untuk masuk ke dalam kamar. Dia melewati kedua orang tersebut dengan begitu saja, tanpa berniat menyapa atau semacamnya.
"Sherina!" panggil pria itu dengan tiba-tiba, sebelum Sherina masuk ke dalam kamar. Yang membuat wanita tersebut menghentikan langkahnya. Dia menghela nafasnya perlahan, lalu menolehkan kepalanya ke samping. Hanya melirik keduanya dengan ekor matanya.
"Kau sudah melihat berita yang tersiar, minggu lalu?" tanya Marvin dengan nada rendahnya yang membuat Sherina terkekeh perlahan.
Dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah angkuh Alissa, yang berdiri dengan tegap di sebelah suaminya. Dia tersenyum miring dan menganggukkan kepalanya, dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca Alissa merasa jika Sherina terlalu naif.
"Ya. Kalian sudah mengakui jika kau, sudah memiliki anak dengan sekretaris cantik mu ini. Dan kau tidak menyanggahnya sama sekali. Memang itu benar, dan itu fakta. Lalu apa yang dipermasalahkan dengan itu?" Jawab Sherina dengan begitu tenang, yang membuat Marvin menatapnya dengan begitu intens.
"Tenanglah, kalian tidak perlu repot-repot lagi memikirkan tentang Ailey. Aku sudah mengurus semuanya dan kalian, lanjutkanlah hidup kalian dengan bahagia." ucap Sherina penuh teka-teki yang membuat kedua orang itu terdiam bingung.
Sherina langsung meninggalkan keduanya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Dia menahan amarah yang sudah datang, sejak pertama kali dirinya melihat Marvin dan Alissa pulang, hingga akhirnya dia sudah berada di dalam kamar.
Sherina menghembuskan nafasnya berulang kali untuk menetralkan emosinya. Dia tidak perlu emosi hanya karena menghadapi dua orang gila seperti mereka.
Sherina pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, dan tidak memikirkan apa yang dua orang tadi lakukan di luar sana. Akhirnya ketika pukul dua belas malam, Sherina baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia mulai meregangkan ototnya dengan mengangkat kedua tangannya secara bersamaan.
__ADS_1
Wanita itu duduk di sofa dan melamun untuk beberapa saat. Mencoba memikirkan apa yang harus dirinya lakukan untuk kedepannya. Sebenarnya Sherina sudah menyiapkan semua berkas perceraiannya dengan Marvin. Tapi hal itu dirinya tahan karena dia masih ingin mempertahankan rumah tangga yang dirinya bangun dengan penuh cinta bersama suaminya.
Tapi mengingat dengan sifat Marvin yang tidak pernah berubah dan dia tidak ingin menunjukkan usahanya lebih keras lagi agar mendapatkan maaf darinya, membuat Sherina mulai jengah. Tidak mungkin dirinya harus terus- menerus memaklumi Marvin dan lebih dulu memaafkan orang itu, meskipun dia tidak berusaha dengan maksimal.
Akhirnya setelah memikirkan dengan matang-matang dan menimbangkan semuanya, Sherina mulai bangkit dari duduknya. Dia menutup laptopnya dan menyimpannya di tempat biasanya, lalu membawa gelas kotor yang kopinya sudah tandas dia habiskan.
Wanita itu membuka pintu kamar dan seketika terkejut, ketika melihat kedua orang tadi masih berada di rumahnya. Mereka bahkan tengah bersantai menonton TV bersama yang membuat dirinya kehabisan kewarasan. Bagaimana bisa Marvin bersikap sesantai itu, padahal ada dirinya di rumah. Apakah memang tidak sepenting itu lagi dirinya di mata Marvin?
Tak ingin ribut di hadapan wanita menjijikan itu, Sherina berjalan ke dapur dan meletakkan gelas kotornya di sana. Lalu setelah itu, dia kembali ke kamar dan lagi- lagi dirinya dihentikan dengan Marvin yang memanggilnya.
"Sherina!" Panggil pria itu dengan nada yang cukup tinggi.
Sherina yang pada dasarnya merupakan wanita keras kepala itu sama sekali tidak mengindahkan panggilan suaminya. Dia langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan begitu saja.
"Apakah seperti itu caranya bertindak pada suami?" tanya Alissa pada Marvin, yang membuat pria itu terdiam. Dia hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, dan kembali menonton siaran televisi yang ada di depannya.
****
Sherina menatap sekitar dan terkejut ketika melihat sang suami yang sudah menghabiskan beberapa botol alkohol. Begitu juga dengan Alissa yang duduk di sebelahnya.
Dengan hati yang sudah bergejolak, wanita itu datang menghampiri keduanya dan menampar Alissa dengan begitu kuat.
"Apa yang kau lakukan!?" bentak Alissa dengan mata melotot yang ternyata wanita itu tidak mabuk.
"Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan pada suamiku!?" Sherina menatap wanita itu dengan tatapan nyalangnya dan menahan lengan milik Alissa dengan begitu kuat, yang membuat wanita tersebut merintih kesakitan.
"Lepaskan! Ini sakit!" teriak Alissa kesakitan yang tidak membuat Sherina melonggarkan cengkeraman tangannya di lengan wanita itu.
"Lebih sakit mana dengan aku, yang melihat suamiku mabuk dengan wanita lain!?" Sherina terlihat sudah tidak bisa menahan amarahnya.
__ADS_1
Dia melampiaskan rasa marahnya dengan membuat lengan Alissa terasa terbakar. "Dan lihatlah! Apa yang kau perbuat!? Kau sengaja menyiapkan obat perangsang untuknya!?"
Sherina yang melihat botol berwarna coklat tua, yang terasa tidak asing baginya, berada di tangan Alisa itu dengan cepat langsung mengambilnya dan memecahkannya ke lantai.
Alissa terlihat marah ketika Sherina membanting obat yang sudah dirinya beli dengan susah payah, dengan begitu saja ke lantai. Dia mendorong tubuh Sherina dan membuatnya terhuyung ke belakang.
"Jangan ikut campur dengan urusanku! Marvin adalah milikku dan sampai kapan pun, Marvin hanya akan menjadi milikku!" ucap wanita itu yang saat ini hendak menyerang Sherina.
Sherina yang hendak mengelak itu ternyata gagal. Dan dengan begitu mudahnya, Alissa bisa menarik rambutnya dan menampar pipinya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Aakh!" teriak Sherina kesakitan, yang membuat wanita itu semakin gelap mata.
"Pergi dari rumahku atau kau akan aku laporkan ke polisi?!" ancam Sherina yang membuat Alissa terdiam sejenak.
Wanita itu menghembuskan nafasnya yang memburu, dan masih bisa berpikir panjang. Dia masih ingin mendapatkan Marvin. Jadi maka dari itu dia melepaskan Sherina dengan begitu saja, dan segera pergi dari rumah itu.
Sherina yang baru saja bisa terlepas dari wanita gila itu mencoba menenangkan dirinya. Setelah mencoba untuk mengembalikan kewarasannya, wanita itu menghampiri sang suami dan menamparnya dengan amarah yang sudah memuncak.
"Kau puas, hah!? Ini yang kau mau? Menghabiskan waktumu dengan wanita itu, tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Tidak tahu apa yang ingin sekali aku katakan padamu!?" Sherina berteriak di hadapan sang suami, mengira jika suaminya itu sudah tidak sadar karena banyak minum.
Tapi satu hal yang tidak Sherina ketahui. Selama Sherina pergi, pria itu sudah terbiasa minum. Jadi walau hanya beberapa botol saja, sama sekali tidak mempengaruhi kesadarannya.
"Baiklah jika itu yang kau mau. Lakukan semau yang kau mau. Aku menyerah! Lebih baik kita berpisah!" ucap Sherina putus asa, sebelum akhirnya Marvin menarik wanita itu dan membawanya ke dekapannya.
Dia menangis di pelukan Sherina layaknya anak kecil. Dia mengeluarkan semua yang dia pendam selama ini, di hadapan Sherina. Berharap agar wanita itu dapat mengerti dan memahaminya. Tapi apa boleh buat, keputusan wanita itu sudah bulat. Dia tidak ingin lagi bertahan.
"Sekali lagi aku mendengar kata pisah darimu, maka aku tidak akan segan- segan untuk membawa pergi anak kita dari mu! Kau akan sendiri, tidak ada seorang pun yang mau menemani!"
"Lakukan saja jika kau berani! Aku yakin kau tidak akan berani. Secara kau tidak akan lagi bisa hamil, jadi kau akan menghabiskan sisa hidupmu sendiri."
__ADS_1
Sherina langsung menampar pipi pria itu hingga kepalanya tertoleh. Napas wanita itu mulai memburu, dan dengan cepat dia menarik kerah milik suaminya.
"Dengarkan aku! Tidak seharusnya kau mengatakan hal ini padaku, Vin. Kau yang memutuskan untuk merenggut rahimku, dariku! Kau yang merenggutnya!"