Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 27


__ADS_3

Sherina yang sudah mulai tenang itu, mencoba mencari cara untuk menghubungi Diko. Dia tahu, sejak terakhir kali dia bertemu dengan pria itu dia sama sekali tak menulis nomornya.


Setelah dibuat kebingungan, wanita itu akhirnya memutuskan untuk menghubungi Diko melalui email kerjanya. Sherina tak tahu apakah pria itu akan segera membalasnya atau tidak, tetapi ketakutannya membuat Sherina melakukannya.


Tak lupa dia juga meninggalkan nomor ponsel barunya di bagian bawah email. Berharap agar Diko segera menghubunginya.


Sherina memeras tangannya yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Wanita itu memutuskan untuk berbaring di ranjang. Dia berharap agar Diko segera membantunya.


Saat memejamkan matanya, wanita itu kembali teringat dengan masa lalunya yang begitu kelam. Masa di mana keperawananmya hampir direnggut oleh pria bejat yang sangat menggilainya.


"Kau lebih memilih pria itu, daripada aku? Apa karena Ivander lebih kaya dariku, Rin?!" Sherina yang sudah terpojok itu hanya berusaha menahan dada milik pria itu agar tak mendekat padanya.


Sherina menggeleng, dia benar-benar berharap agar pria yang sudah sejak lama menyukainya ini melepaskannya. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mohon lepaskan aku,"


Sherina yang sudah menangis sejak tadi itu, tubuhnya bergetar dengan hebat saat pria itu mulai mencium rambutnya. Dia berharap agar siapa pun dapat segera datang dan menyelamatkannya.


Berteriak pun menjadi hal yang sia-sia untuknya. Saat ini keduanya berada di basement parkiran apartemen. Ya, gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu berniat mengantarkan barang yang ibunya titipkan untuk Ivander.

__ADS_1


Pria yang sudah gelap mata karena salah paham itu, sudah berhasil membuat mental Sherina terguncang. Bagaimana tidak, dia bahkan sudah berhasil membuat tubuh bagian atas milik Sherina polos tanpa sehelai benang pun.


Lebam yang memenuhi tubuh serta wajah Sherina itu, sama sekali tak membuatnya memiliki belas kasihan pada wanita yang sekarang sudah tak bertenaga karenanya. Bagaimana tidak, pengejarannya serta pukulan yang dia berikan pada Sherina sejak bertemu di depan unit milik Ivander, berhasil menghabiskan tenaga wanita itu.


"Aku minta maaf, Vin. Aku mohon jangan." Sherina yang bahkan wajahnya sudah mulai membengkak karena berulang kali Marvin memukulnya itu, masih memohon agar pria itu tak melecehkannya.


Marvin yang memang benar mencintai gadis itu, memang tak berniat untuk merenggut mahkotanya. Dia justru mengambil ponselnya dan membuat video atas hal itu.


Marvin tertawa terbahak-bahak lalu meminta Sherina untuk memohon lagi padanya. Sherina yang melihat kelakuan keji pria itu, segera menutup tubuhnya dengan semampunya.


"Marvin, stop! Jangan seperti ini, Vin. Aku mohon!" Tangis malu wanita itu sama sekali tak terdengar oleh pria keji tersebut.


Tak berselang lama, tiba-tiba Marvin terkejut karena ada seseorang yang langsung mengambil ponselnya lalu membantingnya dengan begitu saja ke lantai.


Marvin yang marah itu, ingin segera mengetahui siapa pria sok jagoan yang mengganggu kesenangannya. "Sekali lagi kau sentuh Sherina, aku pastikan kau tidak akan hidup lagi!"


Namun terlambat, pria itu langsung memukul leher milik Marvin dengan balok kayu yang dia bawa. Setelah Marvin berhasil tak sadarkan diri, pria itu segera mendekati Sherina sembari melepas jaketnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Rin." Lirih pria itu tepat sebelum Sherina tak sadarkan diri.


Dia menatao seluruh tubuh Sherina yang penuh dengan lebam keunguan itu, dengan darah yang mendidih. Ada rasa menyesal yang merayap di hati pria itu.


Dengan cepat, pria itu langsung mengangkat tubuh kecil Sherina dan membawanya pergi.


Saat Sherina kembali diingatkan dengan kejadian itu, dan air matanya tak kunjung mereda, tiba-tiba ponselnya berdering. Sherina segera menghapus air matanya, dan mengambil ponselnya.


Dia yang melihat potret Diko di bagian panggilan masuknya itu, dengan cepat langsung menerima telepon dari pria itu. Suaranya yang bergetar saat menerima telepon dari pria itu, membuat Diko ikut khawatir.


"Sekarang lebih baik kamu tenang. Usahakan kalau Marvin menghubungimu lagi, jangan pernah diterima. Kamu harus menceritakan hal ini ke suamimu juga, Rin. Saat ini, Ivan lah yang bisa melindungimu. Kamu tahu sendiri kan, kalau Marvin nggak akan pernah berani sama suamimu?"


Saran yang diberikan oleh Diko ini, kembali mengingatkan Sherina pada suaminya. Bagaimana dia akan meminta perlindungan pada suaminya, bahkan mengetahui kabar suaminya saja dia tak tahu.


"Kamu udah cerita ke Ivander, Rin?" tanya Diko memastikan, yang membuat Sherina terdiam sejenak.


"Kamu belum tahu semua cerita tentang pernikahan kami, Ko. Ivander berubah sejak ibu meninggal." Sherina kembali menangis saat mengingat betapa asingnya dirinya dan Ivander setelah ibunya meninggal.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Aku belum tahu semua ceritanya karena memang nggak ada waktunya. Tapi setidaknya suamimu harus tahu tentang masalah ini."


"Masalahnya dia bukan lagi suamiku. Kami akan bercerai."


__ADS_2