Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 87


__ADS_3

Sherina terdiam ketika mendengar suara tegas suaminya. Dia berdiri mematung selama beberapa saat, sebelum akhirnya Marvin menarik tangannya.


"Tidak mendengarkan ku, hm?" tanya Marvin dengan begitu tenang, yang membuat Sherina menggigit bibirnya.


Marvin menatap punggung Sherina yang hendak meninggalkannya, lalu dengan perlahan mulai membimbing Sherina agar duduk di tepi ranjang.


Marvin tidak langsung berbicara. Dia menatap wajah cantik istrinya, yang saat ini tengah menatap tangannya yang masih dirinya cekal.


"Ada apa? Kenapa kau selalu menghindari ku?" tanya Marvin dengan nada beratnya, yang masih belum juga membuat Sherina membalas tatapannya.


Marvin mencoba menghela napasnya, sembari mengelus punggung tangan istrinya menggunakan ibu jarinya. Pria itu menatap cincin pernikahan mereka yang terpasang si jari manis istrinya.


"Coba lihat aku. Ayo," ujar marvin yang tak lama setelahnya langsung dituruti oleh SHerina.


Wanita itu menatap wajah tampan suaminya. mulai dari dagunya yang terbelah, lalu naik ke bibinya yang mana terdapat bekas luka jahit di salah satu sudutnya. lalu naik ke hidungnya yang sangat mirip dengan hidung putrinya. Dan terakhir ke dua mata gelap yang selama ini menatapnya dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


Marvin menatap wajah sembab milik istrinya dengan rasa sesak yang begitu hebat. Dia mengamati mata indah milik sang istri, yang mungkin sebentar lagi akan meneteskan air mata.


"Ada apa? Kenapa kau selalu menghindari ku? Apakah ada kesalahan yang tidak aku tahu?" tanya Marvin sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kecil istrinya.


Sherina terlalu dalam menatap suaminya, hingga dirinya tidak sadar jika air matanya kembali menetes. Wanita itu mengerutkan alisnya sembari menahan tangisnya.


"Jika kau bersalah, tolong beritahu aku, Sher. Ingatkan aku jika aku memiliki salah padamu. Marahi aku, tegur aku, lakukan apapun yang kau inginkan. Asalkan jangan pernah diamkan aku, aku benci dihindari, Sher." Marvin mencoba mengontrol suaranya.


Sherina menatap suaminya tanpa berkedip. Dia mengingat semua hal yang pernah dirinya dan suaminya lalui. Perlahan, semua rasa marah dan kecewa yang dirinya tujukan pada suaminya, mulai meluntur.


Marvin menatap Sherina dengan tatapan sedikit terkejutnya. Pria itu menarik tangan istrinya dan membawa Sherina menuju pelukannya. Rasa lega seketika memenuhi rongga hat pria itu saat Sherina mulai membalas pelukannya.


"Aku lelah, Vin. Aku minta maaf," ucap Sherina disela tangisnya sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Marvin mencoba memberi waktu pada istrinya agar dirinya dapat merasa sedikit lega. Dia terus mengelus punggung istrinya, sembari mengecup puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Marvin terdiam, saat mendengar tangisan istrinya. Sejak menikah, dirinya baru kali ini mendengar tangisan istrinya, setelah terakhir kali ketika mereka belum menikah.


"Aku minta maaf, Sher. Seharusnya kecelakaan itu tidak terjadi padaku. Aku minta maaf." Marvin semakin mengeratkan pelukannya pada Sherina.


Wanita itu perlahan menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang menjadi masalah utamanya. Sherina percaya jika apa yang sudah menimpa suaminya merupakan takdir suaminya.


"Tidak. Ini bukan salahmu. Aku yang tidak bisa mengontrol diriku." Sherina menggeleng sembari memiringkan kepalanya dan membiarkan telinganya mendengar detak jantung suaminya.


Wanita itu memejamkan matanya dengan tangan yang masih memeluk tubuh Marvin. Air matanya mulai berangsur perlahan ketika drinya mulai merasa tenang saat berada di pelukan suaminya.


Marvin menatap wajah teduh istrinya dan mendaratkan kecupannya di kening Sherina.


"Besok kita panggil Bu Nita untuk mengurus rumah. Tidak perlu memikirkan hal yang lain, fokus pada pemulihan mu dan putri kita saja. Jangan terlalu lelah, aku tidak ingin diabaikan lagi." Marvin mengecup puncak kepala Sherina.


Wanita itu masih diam. Dia bergumam dalam hatinya, 'Bukan masalah yang ini, Vin. Tapi putrimu, Ailey.'

__ADS_1


__ADS_2