
Marvin menahan sesak yang begitu luar biasa ketika memasuki ruangan ICU Isolasi, tempat di mana sang istri yang masih tentram menutup kedua matanya.
Langkah besar pria tersebut mengantarkannya menuju brankar milik sang istri. Tangan besarnya, mulai menyentuh dan menggenggam tangan pucat milik sang istri.
"Sayang," panggil Marvin dengan suara serak, sembari menatap wajah teduh milik wanitanya.
Setelah memastikan jika itu benar sang istri dan dapat menerima kenyataan bahwa istrinya tengah koma, dia langsung menjatuhkan tubuhnya tepat di kursi yang ada di sebelah brankar. Suhu ruangan yang begitu dingin itu, berhasil membuat Marvin menitikkan air matanya.
"Pulang yuk, Sher. Kita tidur sama-sama, di rumah. Anak-anak nunggu kita," lirih Marvin dengan air mata yang mulai menetes.
Dia menggenggam tangan Sherina dan membawanya ke kecupan hangatnya. Dia memejamkan mata, mencoba berandai-andai jika saja dirinya tidak pergi ke kantor, pasti sang istri tidak akan terbaring koma di sini.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sher. Aku membuatmu harus melewati hari-hari mu di ruangan ini. Aku membuatmu harus jauh dari anak-anak. Aku minta maaf, Sayang." Marvin tidak peduli dengan tatapan iba yang seorang pria berikan padanya melalui kaca transparan yang ada di luar ruangan.
"Nasibmu begitu menyedihkan, Sher. Aku minta maaf atas semuanya. Andai aku tidak membuatmu merasa tersiksa di pernikahan kita dulu, mungkin kita masih bersama. Aku minta maaf, Sher." Ivander mengepalkan tangannya erat-erat sembari menatap kedua insan yang ada di dalam ruangan, yang bahkan tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang tanpa izin dari perawat.
Pikiran pria itu melayang, dan mulai menata apa saja yang akan dirinya lakukan untuk kedepannya. Dia meninggalkan jendela yang memberinya akses untuk menatap ke dalam, dan berjalan menuju koridor yang sama sekali tidak diambah oleh orang lain selain dirinya.
Tangan besar pria itu terulur masuk ke dalam saku celana, dan mulai mengambil ponselnya. Dia mendial nomor seseorang yang dirinya sematkan di paling atas, dan langsung meneleponnya tanpa pikir panjang.
Tidak lama setelah bunyi menghubungkan, panggilan yang dirinya buat akhirnya diterima. Suara pria itu tidak langsung keluar, dia menunggu seseorang di seberang sana mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
"Kembalilah ke Indonesia. Aku membutuhkanmu."
__ADS_1
Wanita itu seketika merasa tidak dapat bernapas, ketika mendengar suara yang sangat familiar untuknya. Dia menahan napasnya, dan memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Maaf, sepertinya anda salah sambung. Selamat malam."
"Anne! Aku sedang tidak bercanda. Aku membutuhkanmu. Niskala dan Ailey, serta Kanwa membutuhkanmu. Tolong kembali!" Dengan arogansinya pria itu langsung menodong Anne dengan permintaan mutlaknya.
"Kau tidak bisa memaksaku, Van! Kita tidak lagi harus bertemu. Atasi masalahmu sendiri!"
Ivander mengeratkan rahangnya, sejenak menikmati suara tegas wanita itu. Dia merindukan suara itu. Benar-benar rindu.
"Ann, Sherina koma. Janinnya harus diangkat, begitu juga dengan rahimnya. Marvin tidak akan bisa merawat mereka tanpa bantuan seorang wanita." Dengan menggunakan Marvin sebagai alatnya, pria itu meminta agar Anne kembali.
__ADS_1
"Aku tidak bisa. Kau bisa mencari wanita lain atau babysitter, di sana. Aku memiliki anak yang harus aku jaga-"
"Bawa anakmu. Aku yang akan tanggung jawab atasnya!"