Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 126


__ADS_3

Malam harinya, Ivander yang tengah minum kopi buatan Anne itu, tiba-tiba dikejutkan karena pintu rumahnya diketuk berulang kali dengan sedikit arogan.


Anne yang duduk di sebelah Ivander itu mengernyitkan keningnya dan memutuskan untuk bangun dari duduknya. Wanita itu berniat untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya malam-malam.


"Biar aku yang membukanya," ucap Anne lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu besar yang sejak tadi diketuk berulang kali.


Ivander membiarkan Anne membukakan pintu untuknya dan menunggu siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini. Tapi dari instingnya, orang tersebut tidak lain merupakan Marvin yang mungkin saja pria itu sudah mengetahui jika dirinyalah yang membuat Sherina dipindahkan dari rumah sakit tanpa sepengetahuannya.


Benar saja, Anne terkejut ketika melihat Marvin yang datang dengan raut wajah penuh amarahnya dan menatap seorang pria yang tengah duduk di sofa dengan begitu santainya. Langkah besar ke pria itu dengan cepat menghampiri Ivander yang langsung tersenyum tipis menatapnya.


Lagi-lagi tanpa aba-aba, Marvin langsung menarik kerah baju milik pria tersebut. Hal tersebut mampu membuat Anne sedikit terkejut, begitu juga dengan Ivander.


"Apa yang kau lakukan, hah!?" Bentak Marvin dengan mata memerah, yang membuat Anne langsung memundurkan kepalanya dan menatap pria itu dengan tatapan konyolnya.


"Hei hei! Sabarlah. Kenapa kau tiba-tiba datang dan, katakan apa yang terjadi." ucap Ivander dengan begitu santai yang membuat emosi Marvin semakin mendidih.


"Tidak perlu basa-basi! Cepat katakan dimana istriku berada!" ucap Marvin penuh penekanan yang membuat Ivander terkekeh pelan.


"Kenapa tanya padaku? Bukankah kau suaminya? Seharusnya kaulah yang lebih tahu dengan apa yang terjadi pada istrimu. Jangan justru kau bertanya pada orang lain," ucap sarkas Ivander yang langsung berusaha mendorong tangan Marvin yang berada di kerah bajunya.


Marvin yang berusaha dilepas cengkeraman tangannya oleh Ivander itu pun mengalah. Dia melepaskan tangannya dengan keras dan membuat Ivander sedikit terhuyung ke belakang.


"Aku ulangi sekali lagi! Di mana Sherina berada!?" tanya Marvin kembali yang membuat Ivander menegakkan tubuhnya. Pria itu mengangkat satu alisnya dan menatap Marvin dengan tatapan nyalang.


"Kau ingat jika kau memiliki istri, sekarang? Aku kira kau tidak akan pernah mengingatnya lagi. Ada apa? Kenapa kau sekarang berapi-api ketika istrimu tidak ada di rumah sakit?" tanya Ivander dengan wajah tajamnya yang membuat Marvin mengeratkan rahangnya.


"Dengarkan aku. Jangan bermain-main padaku dia istriku dan-"

__ADS_1


"Apa? Aku? Aku mantan suaminya jika perlu kau tegaskan ulang. Aku sudah menganggap istrimu sebagai adikku sendiri. Lalu kakak mana yang masih tega ketika melihat adiknya yang sudah dilupakan oleh suaminya? Bukankah seharusnya sebagai seorang kakak, aku mengambilnya dari suami pengecutnya?" tanya Ivander dengan mata yang tidak bisa dialihkan dari Marvin.


"Sudah empat tahun kau menggila. Kau tidak peduli pada istrimu, pada kedua putrimu dan kembali ke rutinitas seperti biasa. Seolah-olah kau ini masih bujangan dan tidak memiliki tanggung jawab keluarga!" Ivander pun mengeluarkan apa yang selama ini menjadi beban pikirannya pada pria yang ada di hadapannya ini.


"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Jadi diamlah!" Bentak Marvin dengan mata yang mulai memanas.


Pria itu seolah ditampar dengan sebuah fakta yang baru saja Ivander katakan. Harga dirinya seolah terluka setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Ivander, baru saja.


"Apa yang aku ketahui? Kau kembali jatuh cinta pada wanita itu dan berusaha untuk melupakan istrimu! Aku penasaran, bagaimana jika pada saat itu, ternyata Sherina tidak selamat. Apa kau akan dengan cepat mendapatkan penggantinya!?"


Tatapan kedua pria itu semakin tajam, yang membuat Anne sedikit gelisah. Dia mulai mendekat ketika melihat calon suaminya, yang mulai berdiri dan menghadap langsung ke Marvin yang tengah berapi-api.


"Van, aku mohon padamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku bisa menjelaskan semuanya, dan aku mohon padamu beritahu dimana istriku berada, sekarang." ucap Marvin yang masih mencoba untuk menahan dirinya, agar tidak menimbulkan masalah baru setelah baru saja sahabatnya itu mengatakan kesalahpahaman pada.


"Menjelaskan apa? Menjelaskan jika kau sekarang tidak membutuhkan Sherina lagi? Kau ingin membuang wanita itu? Oh ya, atau mungkin karena Sherina sudah tidak bisa mengandung lagi, jadi kau melupakannya dengan begitu saja? Apakah benar seperti itu?" tantang Ivander lagi yang membuat emosi Marvin semakin meluap.


"Kau tidak perlu mencampuri urusan rumah tanggaku. Dia istriku!" tekan Marvin lagi yang membuat Ivander tertawa terbahak-bahak.


Pria itu segera mendorong dada milik Marvin dengan begitu kuat dan menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Kau benar-benar pria baji*gan! Lepaskan Sherina dan biarkan dia mencari kebahagiaannya! Tidak akan ada wanita yang kuat ketika mengetahui jika suaminya sudah melupakannya!"


Nafas milik Marvin yang mulai memburu itu membuat air mata pria itu turun tanpa terlihat, setelah mendengar kecaman Ivander.


"Kau tidak tahu, Van. Aku berusaha mati-matian untuk melupakan sosoknya sejenak dari pikiranku, karena kau tidak tahu seberapa hancurnya aku ketika tahu istriku mengalami koma. Aku bekerja siang dan malam untuk membangun masa depan kami dan agar tidak selalu mengingatnya! Jadi kumohon tolong jangan menggiring opini yang tidak-tidak tentangku!"


"Dengan cara kau bekerja siang dan malam tanpa memperhatikan istri dan anak-anakmu? Itu yang kau maksud!?"

__ADS_1


"Tenanglah. Tanpa kau mencarikan banyak uang untuknya, sebelum kau menceraikannya, dia bahkan sudah memiliki banyak harta sebelum bertemu denganmu. Kau ingat? Hampir setengah hartaku dijatuhkan atas namanya, sebelum bercerai. Dan itu, aku rasa akan cukup untuk membiayai hidupnya bersama dengan Niskala, ketika mereka keluar dari rumahmu!"


Mendengar ucapan Ivander tentang perceraian, sontak membuat emosi Marvin semakin tak terkendali. Pria itu meninju pipi Ivander, yang membuat Anne berteriak histeris karena calon suaminya terjatuh ke lantai.


"Marvin hentikan! Apa yang kau lakukan!?" teriak Anne marah yang membuat Marvin mencoba mengatur nafasnya.


Pria yang sudah merasa kalut itu, dengan cepat langsung pergi dari rumah Ivander. Kedua orang yang masih berada di lantai itu menetap kepergian Marvin dengan tatapan tak percayanya.


"Kita bawa pergi Sherina."


****


Marvin membiarkan tubuhnya dibasahi dengan air dingin yang terus mengalir ke seluruh tubuhnya. Dalam kesunyian itu, dia itu menangis dan meluapkan semua amarahnya.


Pria itu terus memutar ucapan yang Ivander lontarkan padanya. Rasa amarah dan rasa menyesal seketika mulai merasuki tubuhnya satu persatu, yang membuat Marvin hanya ingin bertemu dengan istrinya.


Melupakan wanita itu, katanya. Bahkan dia itu juga mengatakan sebuah kata yang tidak akan pernah dirinya ucapkan seumur hidupnya, setelah menikah dengan Sherina. Hal itu benar-benar mampu membuat hati Marvin hancur.


Dia tidak tahu bagaimana keadaan istrinya saat ini. Tapi jujur saja, semua ucapan yang Ivander katakan, benar-benar sangat bertolak belakang dengan apa yang dirinya pikirkan. Dirinya berpikir jika dia fokus bekerja terus-menerus, dia bisa menyingkirkan kesedihannya tentang kepergian sosok istrinya selama 4 tahun.


Jika dirinya bisa mengatakan dan menjelaskan kepada semua orang, di hanya ingin mengatakan jika dia sangat mencintai Sherina. Dia tidak akan pernah mampu hidup jika wanita itu pergi darinya.


Tapi apa boleh buat. Dia hanya memikirkan tentang apa yang benar baginya. Tapi tidak memikirkan bagaimana orang lain berpikir terhadap apa yang sudah dirinya lakukan selama ini.


Akhirnya pria itu bertekad untuk mencari keberadaan istrinya dan membenahi semuanya sebelum terlambat.


Pria itu berpikir jika istrinya masih koma, dan belum mengetahui apa yang sudah Anne dan juga Ivander katakan padanya.

__ADS_1


__ADS_2