
Hari ini adalah jadwal Sherina dan Ivander untuk datang ke rumah kedua orang tua mereka. Sherina yang sejak tadu hanya berdiam diri di sebelah suaminya itu, memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.
"Setelah ku bicarakan dengan Nessie, kami memutuskan untuk menikah sebelum berangkat ke bandara." Ivander yang tahu jika sang istri akan bertanya itu, langsung menyela dengan berbicara lebih dulu.
Sherina yang mendengar itu pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia menatap sang suami dengan hati yang nanar, dia tak menyangka jika dirinya dapat sekuat dan seteguh ini.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di bandara saja. Waktu keberangkatan kita pukul sembilan pagi, jadi kalian pastikan saja sebelum jam sembilan sudah tiba di sana," ujar Sherina tanpa menatap sang suami.
Wanita itu menekan kuat-kuat seat beltnya saat mengucapakan hal tersebut. Hati istri mana yang akan sekuat itu ketika merelakan suaminya untuk menikah kembali.
"Kau tidak ingin ikut? Bukankah lebih baik jika kau juga datang?" Dengan begitu konyolnya pria itu menanyakan hal yang bahkan sudah dirinya tahu jawabannya.
"Tidak, aku tidak perlu ikut datang. Aku akan menyiapkan keberangkatan kita saja," jawab Sherina sembari menggelengkan kepalanya.
Ivander yang tahu bagaimana perasaan Sherina itu pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia kembali fokus menyetir, dan tak lama setelahnya keduanya pun telah tiba di kediaman orang tua Ivander.
__ADS_1
Sherina segera turun, dan bergegas masuk ke rumah. Ivander yang melihatnya pun mengikuti istrinya dengan langkah besarnya.
Mama Ivander yang melihat kedatangan kedua anaknya itu terlihat sangat bahagia. Dia langsung memeluk keduanya dengan begitu erat.
"Mama harap kalian baik-baik saja. Mama berharap banyak dari kalian berdua," ucap sang mama kepada Ivander dan juga Sherina.
Sherina yang melihat anggukan mantap dari suaminya itu, benar-benar memuji akting yang diperankan oleh pria itu. Belum lagi sang mama yang sangat percaya dengan anak tunggalnya itu.
Tak lama setelah itu, papa Ivander datang. Pria berusia setengah abad lebih itu, menatap Ivander dengan tatapan bencinya.
"Bukan masalah apa-apa, Ma. Bisa-bisanya dia berbuat seenaknya pada Sherina. Jika saja tidak ada ibu Sherin, mungkin sekarang dia sudah kehilangan papanya!" ujar papa Ivander lagi yang masih marah dengan putra tunggalnya itu.
"Udah ya, Pa. Papa nggak perlu marah-marah lagi. Sherina mau kasih papa sesuatu." Sherina mencoba membantu mamanya untuk menenangkan papanya.
Kedua orang tuanya itu seketika terdiam. Keduanya menatap Sherina dengan tatapan menunggu apa yang akan Sherina berikan padanya.
__ADS_1
"Sherina hamil, Pa. Sebentar lagi papa sama mama bakal punya cucu," ungkap Sherina sembari memberikan foto hasil USG yang sebenarnya adalah hasil merampok dari Nessie.
Keduanya memekik bahagia. Sherina yang melihat hal itu, tersenyum tipis. Andai saja benar dirinya tengah mengandung, pas dia pun akan turut bahagia.
"Berapa usia kandunganmu, Sayang? Kita haru menyambut ini dengan bahagia!" Saking bahagianya, mama Ivander itu ingin merayakan kehamilan palsu Sherina.
"Tidak perlu, Ma. Ivander berencana untuk membawa Sherina ke Kanada, besok. Perusahaan papa yang di ada di sana sedang butuh pantauan. Lagipula sherina juga dapat surat tugas ke Kanada dari perusahaannya. Jadi kami akan tinggal di sana sementara waktu."
Pada awalnya kedua orang tua Ivander tidak setuju dengan permintaan kedua anaknya. Tapi karena Sherina terus memaksa, akhirnya mereka mengizinkan Sherina dan Ivander untuk pindah ke luar negeri.
"Kekasihmu itu berhutang banyak padaku. Aku bahkan sudah menyiapkan rencana jangka panjang hingga anakmu lahir, nanti." Sherina berjalan di samping suaminya dengan begitu santai.
Ivander menundukkan kepalanya dan menatap Sherina dengan alis yang terangkat sebelah. "Maksudmu?"
"Setelah kita bercerai nanti, buat saja seolah-olah kekasihmu itu dapat merawat anakmu. Ucapkan padanya untuk mengambil hati papa dan mama. Jadi kau bisa merawat anak kalian dengan tentram."
__ADS_1