
Marvin masih berusaha memohon pada sang istri agar melepaskan telinganya. Tapi wanita itu tidak mendengarnya, napasnya memburu yang membuat suaminya semakin kalang kabut.
"Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu. Mana mungkin aku berani menikah kembali. Aku sudah cukup untuk memiliki satu istri!" ucap Marvin semakin memelas karena telinganya yang terasa semakin panas.
Sherina dengan kesal segera melepaskan tangannya di telinga sang suami. Dia membalikkan badannya dan mengabaikan Marvin yang berada di belakangnya. Entah mengapa emosinya seketika tersulut saat mendengar kata-kata sensitif yang diucapkan suaminya.
"Sayang, dengerin aku dulu ya? Aku tanya begitu bukan untukku." Marvin mencoba bangun dan merendahkan tubuhnya untuk bisa menatap sang istri.
"Kenapa? Berubah pikiran? Takut aset kau, ku potong habis-habis?" tanya Sherina dengan wajah tidak santainya.
Marvin menghela napasnya, dan menggelengkan kepalanya. Dia mengecup pipi sang istri dan beralih tidur di seberang ranjang. Tepat di sebelah Ailey dan Niskala.
"Kalau masalah itu, bahkan aku saja menyetujui. Kau boleh melakukannya jika benar aku menikah lagi. Tapi, hal itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Percayalah." ucap pria itu sembari menjadikan lengan kekarnya sebagai bantal.
Sherina memajukan bibirnya beberapa senti, setelah mendengar ucapan manis suaminya. Dia berkedip menatap pria yang ada di seberangnya dengan begitu damai.
"Ivander. Aku hanya berpikir. Bagaimana bisa dia tetap memilih Nessie. Padahal bukankah dia udah mengetahui semuanya? Justru Anne lah yang dia sia-siakan." Marvin memulai percakapan keduanya setelah tahu jika sang istri mulai pulih kesadarannya.
Sherina terdiam sejenak untuk berpikir. Benar apa yang di katakan oleh sang suami. Tapi apapun keputusannya, hanya Ivander lah yang berhak memutuskan.
__ADS_1
"Dia memiliki pertimbangan sendiri, Vin. Benar apa yang kau katakan. Tapi jika kau berada di kondisi yang sama dengannya. Apa yang akan kau lakukan? Kau bisa saja mencari wanita yang lebih baik dari istrimu, secara dirinya memiliki banyak kekurangan dan kesalahan."
"Mau seberapa banyak orang yang sudah mengatakan padamu jika istrimu buruk. Apakah kau akan dengan enteng langsung meninggalkannya? Hanya kau dan istrimu bukan yang bisa merasakan bagaimana rasanya? Kau pasti memilihnya sebagai istrimu, karena banyak hal bukan? Jadi, apa yang sebenarnya Ivander lakukan tidaklah salah."
Marvin hanya mengangguk mendengar penjelasan istrinya. Senyum tipis pria itu berhasil membuat Sherina ikut tersenyum.
"Lagi pula, darimana ide yang kau dapatkan itu. Sampai-sampai kau berpikir jika Ivander harus menikah lagi. Dan apakah wanita yang ada di idemu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Anne? Benar-benar imajinasi yang sangat konyol!"
Sherina menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk putrinya. Hari bahkan belum malam, tapi Sherina benar-benar merasa mengantuk. Sepertinya dia kurang istirahat, sejak perkataan suaminya untuk menjemput putri tertuanya.
"Oh ya, bagaimana cara mengatakan ada Ailey jika kau ini ayahnya, dan sekarang aku ini ibunya? Bagaimana jika dia menanyakan tentang Alissa?" tanya Sherina mencoba meminta pendapat suaminya.
Meskipun Sherina merasa tidak yakin dengan apa yang suaminya katakan. Tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya.
****
Malam harinya, Anne yang baru selesai mengasihi putra Ivander itu, berjalan kembali ke kamarnya. Sesaat setelah melewati tangga yang mana di sebelahnya merupakan kamar tempat Nessie tidur.
Wanita itu mengernyit ketika samar-samar mendengar tawa dua orang yang ada di dalam sana. "Ivander di dalam?"
__ADS_1
Anne bertanya pada dirinya sendiri, dan berhenti untuk beberapa saat. Tanpa disengaja, dirinya mendengar salah satu percakapan Ivander dan Nessie di dalam sana yang membuat Anne menggigit bibir bawahnya.
Wanita itu sejenak memejamkan matanya dan menghirup napasnya dalam-dalam. Tidak terhitung berapa lama dirinya berdiri di sana, hingga tiba-tiba kedua matanya terbuka saat mendengar suara pintu yang terbuka dari dalam.
Wanita itu menatap Ivander dengan tatapan kagetnya. Sontak wanita itu langsung mengalihkan pandangannya dan bersikap sedikit gugup.
"Kau di sini?" tanya Ivander dengan wajah kagetnya.
Anne sontak menggelengkan kepalanya dan bersiap untuk naik ke lantai atas. "Tidak, aku hanya lewat saja. Aku berhenti karena merasa jika aku melupakan sesuatu."
Ivander merasa tidak enak hati mendengar ucapan Anne. Dia mencegah Anne yang hendak naik ke atas. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu."
Anne mengernyit heran, dan segera memundurkan tubuhnya sedikit lebih jauh dari Ivander. "Tidak perlu. Lakukan apa yang kau inginkan, tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Anggap saja aku tidak mendengarnya."
Tidak memperdulikan tatapan Ivander, Anne segera pergi ke kamarnya. Entah mengapa ada getaran aneh yang ada di hatinya ketika melihat reaksi Ivander.
Anne terdiam selama beberapa saat dan segera menghubungi seseorang.
"Siapkan tiketnya. Aku akan pulang, besok."
__ADS_1