
Anne yang secara tidak sengaja menyentuh sesuatu yang ada di dalam saku celananya itu, segera menghentikan langkahnya. Dia mengambilnya dengan cepat, dan mengingat jika gelang milik Kanwa masih berada padanya.
Tanpa membuang banyak waktunya, Anne segera meninggalkan kopernya di tepi koridor, dan berlari kembali. Dia menatap pria dengan setelan jas mahalnya, yang belum berpindah dari posisinya.
Perlahan jarak keduanya semakin menipis. Anne berhenti tepat di hadapan Ivander yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dirinya artikan. Anne menetralkan napasnya dan membalas tatapan pria itu.
"Kali ini aku mohon padamu. Jangan pergi. Kembalilah. Putraku membutuhkan mu." Ivander masih berharap jika wanita ini bisa kembali bersamanya ke rumah.
Anne tidak menjawab. Dia mengambil sebelah lengan milik Ivander, dan meletakkan gelang hitam milik Kanwa tepat di atas telapak tangannya.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini. Terimakasih untuk semua kebaikanmu. Aku pergi." Anne menatap kedua mata merah milik pria itu dengan begitu tenang, lalu melepaskan pegangan tangannya di lengan Ivander.
Dia berjalan meninggalkan seorang pria yang bahkan merasa jika hidupnya kini tidaklah sempurna. Dia tidak tahu, mengapa cintanya selalu berbatas. Kini, kedua kalinya Ivander merasakan ditinggal oleh wanita yang benar-benar dirinya cintai.
Sementara Anne. Wanita itu melangkah tanpa keraguan sedikitpun di dalam dirinya. Dia bertekad untuk memutus semua hubungannya dengan Ivander, mulai detik itu.
"Aku tahu di mana salahku, Ann. Aku berjanji akan memperbaiki diriku terlebih dahulu, dan akan menemuimu nanti. Aku berjanji."
****
__ADS_1
Tiga minggu telah berlalu.
Sherina dan Marvin yang tengah bermain di halaman depan dengan kedua putri mereka itu, menoleh ke pintu gerbang yang terbuka secara bersamaan. Marvin yang melihat Ivander berjalan masuk dengan begitu santainya itu, memberi isyarat agar pria itu duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
"Sendirian? Di mana Kanwa?" Marvin menolehkan kepalanya pada Ivander yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Di rumah mamanya." Jawab pria itu dengan begitu santai, yang membuat Marvin mengernyitkan keningnya.
Sejenak pria itu mencoba memahami apa yang Ivander katakan. Tapi dia menyerah. Bukankah lebih baik untuknya jika langsung bertanya saja?
"Rumah mamanya? Nessie maksud mu?" Ivander langsung menganggukkan kepalanya, sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Marvin mampu dibuat melongo dengan penjelasan singkat Ivander. Mata pria itu yang sedikit membola, dengan mulut yang tidak terkatup membuat siapapun tahu jika saat ini Marvin benar-benar merasa kaget.
"Bercerai lagi!? Astaga, apakah kau bercanda?" Marvin menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Ivander hanya mengendikkan bahunya, merasa bingung dengan hidupnya.
"Van, kau bahkan baru menikahinya selama berapa bulan lamanya. Dan kini kau menceraikannya? Astaga, ingatlah Van. Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Kau mengambil janji pada Tuhanmu!" Marvin benar-benar merasa dongkol dengan perbuatan Ivander.
__ADS_1
Terhitung, baru tahun lalu dirinya bercerai dengan Sherina dan menikahi Nessie. Lalu setelah beberapa bulan lamanya, kini dia menceraikan Nessie. Entah apa yang sebenarnya pria itu inginkan.
"Bukan aku yang menceraikannya! Dia sendiri yang mengajukan gugatannya ke pengadilan. Bahkan jika dia membicarakan hal ini dahulu padaku, aku tidak akan menyetujuinya." Ivander mencoba menyangkal tuduhan Marvin, dan membela dirinya sendiri.
Pria yang duduk di sebelahnya itu benar-benar merasa tak habis pikir. Bagaimana bisa Ivander dengan begitu mudahnya memutuskan sebuah pernikahan tanpa sedikit pun usaha untuk mempertahankannya.
"Lalu kau tidak akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan mu ini? Kau dengan senang hati akan mengabulkan permintaan cerai dari Nessie. Dan setelah itu kau akan mengejar Anne!?" Marvin mengatakan hal tersebut dengan spontan yang membuat Ivander terdiam.
Entah kenapa ada sesuatu yang menyentil hatinya ketika mendengar ucapan tegas Marvin.
"Jangan gila, Van! Kau tidak bisa terus-terusan berada di siklus seperti ini. Kau seorang pria! Seharusnya kau memiliki prinsip dan pedoman untuk hidup!" Marvin menegaskan apa yang seharusnya pria itu lakukan.
Ivander tidak menjawab. Dia hanya bisa terdiam dan menatap Sherina yang tengah duduk menemani Ailey bercerita, dengan Niskala yang ada di gendongannya.
"Aku iri padamu. Kau bisa mendapat apa pun yang kau inginkan. Kau memiliki segalanya, Vin. Materi, kekuasaan, wanita, dan keturunan. Kau benar-benar beruntung." Cahaya mata pria itu mulai meredup.
Ivander merasa hilang arah. Dia tidak tahu harus melakukan apa dengan hidupnya saat ini. Semua terasa hampa dan tidak berarti sama sekali.
"Kau bisa mendapatkannya, Van. Kau hanya perlu fokus pada satu wanita yang benar-benar kau inginkan. Lalu, letakkan semua dunia mu padanya. Maka setelah itu, kau akan mendapatkan segalanya."
__ADS_1
Marvin menatap pria itu dari samping dan segera bangkit dari duduknya. Pria itu menepuk bahu kekar milik Ivander dan berkata, "Turuti kata hatimu, Van. Apa yang menjadi milikmu, akan kembali padamu."