Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 59


__ADS_3

Marvin yang baru terbangun, mendadak terkejut ketika tahu jika hari sudah sore. Dia langsung bangkit dan tak menjumpai Sherina lagi di dalam kamar.


"Sayang?" Marvin mencoba untuk berdiri dan mencari dimana keberadaan Sherina.


Pria itu berjalan ke seluruh rumah dan belum kunjung menemukan Sherina. Pria itu berjalan ke samping rumah, dan senyum pria itu seketika mengembang ketika dia melihat Sherina tengah duduk di bangku panjang yang menghadap ke danau seberang.


Perlahan pria itu mendekat, dan duduk di samping Sherina. Dia menolehkan kepalanya dan menatap Sherina yang tengah melamun.


"Sudah sejak tadi, di sini?" Sherina yang menyadari kehadiran Marvin itu, menoleh dan menganggukkan kepalanya.


Marvin senang melihat respon dari Sherina. Dia segera duduk di sebelah Sherina lalu mengecup kepala Sherina sejenak. Setelahnya, Marvin ikut menatap danau yang terletak tak jauh dari kediaman Sherina.


"Kau merasa nyaman dengan rumah ini? Apakah ini tidak terlalu kecil untukmu?" Marvin menolehkan kepalanya lagi dan menatap wajah Sherina dari samping, sampai dia puas.


"Tentu saja. Aku merasa damai tinggal disini. Lagipula hanya ada aku di sini. Meskipun nanti bayiku lahir, rumah ini masih sangat luas untuk kami berdua." Sherina menatap perutnya sepersekian detik, lalu kembali menatap lurus ke depan.


"Dia anakku, Sher." Marvin menatap Sherina dengan tatapan yang cukup tajam.


Sherina tersenyum tipis dan menolehkan kepalanya kepada Marvin. Dia kembali tersenyum saat melihat wajah tak suka dari pria itu.

__ADS_1


Sherina mengangkat sebelah tangannya dan dia daratkan di pipi pria itu. Dia mengelus pipi milik Marvin yang mulai ditumbuhi rambut halus.


"Kenapa tidak langsung menyusulku, pagi itu?" tanya Sherina sambil menatap dengan intens kedua mata milik Marvin.


Marvin yang merasa jika inilah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya, segera mengambil tangan kecil Sherina. Dia mengecup tangan itu sejenak lalu menggenggam keduanya.


"Kau tahu bukan jika mama sangat menyukaimu? Dia pernah mengatakan padaku, jika dia akan sangat bangga ketika memilikimu sebagai menantu, nantinya. Empat tahun, dia masih menunggu, kapan aku bisa membawamu bertemu dengannya." Marvin membuka pembicaraan sembari menatap wajah cantik milik ibu dari anaknya.


Sherina hanya mengangguk dan membalas tatapan dalam pria itu. Dari tatapannya, Sherina tahu jika ada yang tidak baik-baik saja dari ucapan Marvin. "Kapan aku bisa bertemu mama?"


Marvin kembali tersenyum, dan kali ini dia mulai menundukkan kepalanya. "Papa mama meninggal malam itu, Sher. Aku sudah coba dihubungi sejak malam, tetapi ponselku tidak dapat menerima panggilan. Paginya, saat aku hendak pergi menyusulmu, asisten papa datang ke rumah dan mengatakan semuanya."


Sherina terkejut bukan main saat mendengar apa yang dikatakan oleh Marvin. Pria itu terus saja menundukkan kepalanya setelah menceritakan semuanya padanya. Perlahan Sherina mengangkat kedua tangannya dan memeluk pria itu.


"Andai aku tidak langsung pergi, pagi itu, kau pasti tidak akan mengalami semua ini, Sher. Aku benar-benar minta maaf." Sherina mengangguk dan mengelus punggung kekar milik pria itu.


"Aku yang meminta maaf padamu. Aku melakukan semuanya tanpa berpikir dengan lebih dewasa. Aku yang salah karena tidak percaya padamu." Sherina mengakui jika apa yang dia lakukan selama ini terlalu kekanakan.


"Seharusnya aku percaya jika kau tidak akan mungkin lari dari semuanya dengan begitu saja. Kau bahkan sudah memantapkan niatmu malam itu. Tapi dengan begitu kekanakannya, aku memblokir seluruh akses yang membuat kau tidak dapat menjelaskan sedikit pun padaku."

__ADS_1


"Kau tidak salah, Sher. Ini semua salahku. Pantas saja jika kau memiliki pikiran yang buruk pada pria sepertiku. Aku tiba-tiba merenggut kesucianmu, aku meninggalkanmu dengan begitu saja tanpa penjelasan, dan aku tak langsung datang padamu setelah semua urusanku selesai.Jadi pantas saja jika kau berbuat seperti ini."


Sherina melepas pelukannya dan kembali menghela napasnya. Dia melipat bibirnya ke dalam, sambil menatap Marvin yang juga tengah menatapnya.


"Kau memaafkanku?" Marvin bertanya pada Sherina.


"Jujur saja aku masih belum bisa memaafkanmu dengan begitu saja. Tapi lupakan saja, nyatanya aku pun menikmati hidupku yang sekarang. Akhirnya aku bisa menerima semua takdirku. Aku juga bahagia, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Aku melahirkan anak dari pria yang begitu mencintaiku. Terimakasih, Vin."


Sherina berkata dengan penuh ketulusan dari tatapannya. Dia tersenyum dengan begitu manis pada pria yang tidak lain adalah ayah dari anaknya ini. Marvin menatap kedua mata Sherina dengan dada yang begitu sesak.


"Andai malam itu aku tidak meminum minuman dengan obat perangsang di dalamnya, kau pasti tidak akan seperti ini, Sher. Aku benar-benar meminta maaf padamu. Aku melakukan itu karena hanya kau lah pilihannya. Aku tahu mungkin keputusanku sangat menyakitimu, tapi jika aku melakukannya dengan wanita lain, aku yakin itu akan lebih menyakitimu."


Marvin kembali memeluk Sherina dengan perasaan penuh salah. Sherina menerima alasan yang Marvin berikan padanya. Dengan apa yang Marvin ambil, secara tidak langsung memang benar hanya dirinyalah yang menjadi tujuan Marvin.


"Sudahlah, aku akan memaafkanmu. Mungkin ini memang sudah menjadi jalan untukku. Kalaupun benar, aku harus menjalani hidupku seperti ibu, maka aku akan dengan senang hati akan menerimanya. Mengurus seorang putri tanpa ayahnya, menurutku tidaklah memalukan."


Marvin langsung menarik tubuhnya dari Sherina. Dia menatap Sherina dengan tatapan tajamnya. Dia dengan cepat langsung menghadapkan tubuh Sherina agar menatapnya secara penuh. Ada guratan amarah yang berusaha pria itu pendam saat menatap kedua mata Sherina.


"Mengurus anakku sendiri, tanpaku, kau bilang? Apakah kau yakin aku akan membiarkan hal itu terjadi? Dengarkan jawabanku, hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi!"

__ADS_1


Sherina mendengar sebuah ketegasan dari ucapan yang Marvin katakan padanya. Kedua mata itu menatapnya dengan sangat tajam, seolah dirinya ini merupakan seorang tahanan yang melarikan diri.


"Setelah dengan susah payah aku mendapatkan mu, dan Tuhan berikan bayi ini melalui mu, kini kau berharap aku akan membiarkan kalian hidup tanpaku? Apakah kau ingin melihatku berada diluar kendaliku?"


__ADS_2