
Marvin menarik napasnya dalam-dalam dengan begitu sulit, ketika menatap jam yang menunjukkan waktu hampir dini hari. Dia menghapus air matanya yang sudah membasahi kelopak matanya sejak malam tadi.
Dia menegadahkan kepalanya dan mulai bangkit dari duduknya. Pria itu mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala istrinya. Marvin mengecup kening sang istri sejenak, dan memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Cepet bangun ya, Sayang. Aku dan anak-anak menunggumu. Aku mencintaimu," ucap Marvin lirih dengan tangan yang mengelus pipi milik sang istri.
Setelah berpikir, pria itu akhirnya pergi keluar dari ruang ICU dengan berat hati. Dia harus pulang dan menemui kedua putri kecilnya. Meskipun pada awalnya dia hendak tetap berada di rumah sakit, tetapi kedua putrinya juga pasti membutuhkannya.
Saat tiba di luar, dia menatap koridor yang begitu sepi tanpa satu orang pun yang bersliweran. Dia menatap sang istri melalui kaca, dan menghembuskan napasnya dengan begitu berat.
"Aku kembali besok pagi, sayang." ucap Marvin lirih lalu berjalan menuju lift.
Pria itu sudah memikirkan bagaimana dirinya akan melewati hari-harinya ke depannya, tanpa sang istri. Harapan besarnya adalah agar sang istri dapat segera sadar, tidak selama yang dokter perkirakan padanya.
__ADS_1
Marvin melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang begitu sepi, dan segera tiba di rumahnya tidak lama setelahnya. Setelah membersihkan tubuhnya, Marvin bergegas menuju kamar putrinya, dan memeluk kedua tubuh kecil milik Ailey dan Niskala.
"Maafkan ayah, Sayang." Pria itu mendekap kedua putrinya dengan penuh kasih, dan mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.
Esok paginya, Ivander baru saja menggantikan popok Kanwa dan beralih menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Pria itu tersenyum terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai dia tidak membuka ponselnya sekedar untuk melihat pesan yang masuk.
Setelah semua siap, pria itu memberi susu untuk putranya, dan menyambinya dengan menyantap makanannya. Pria itu baru membuka ponselnya dan terkejut melihat salah satu pesan yang mampu membuat pria tersebut berhenti mengunyah.
[Aku akan pergi ke sana, hari ini. Terimakasih untuk tiket pesawatnya.] Pria itu tersenyum setelah membaca pesan tersebut.
[Tentu saja. Aku akan menunggumu.] Pria itu segera menghabiskan sarapannya, dan segera memandikan putra kecilnya.
Pria itu seolah salah tingkah setelah mengetahui jika Anne akan datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Hei boy, kau tahu? Ibumu akan kembali. Jadi, bersenanglah." Pria itu terlihat sangat senang, dari caranya menggantikan pakaian putranya hingga menciuminya terus-terusan membuat suasana hati pria itu berubah menjadi sangat baik.
****
"Kau kambali," Ivander menyapa Anne dan mempersilahkan Anne untuk masuk.
Wanita itu menyeret koper yang sama, yang dirinya gunakan untuk kembali ke Jerman beberapa saat lalu. Tatapan pria itu begitu dalam padanya, yang membuat sang empu merasa sedikit tidak nyaman.
"Di mana Kanwa? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Anne menundukkan kepalanya dengan sengaja agar rambutnya menutupi wajahnya.
"Lucukah tiba-tiba kau kabur dan kembali ke Jerman tanpa berbicara dahulu denganku?"
Anne terdiam untuk beberapa saat, tidak menyahuti ucapan Ivander.
__ADS_1
"Ann, kau sudah dewasa dan kau tahu jika ada yang berbeda sebelum kau pergi. Setidaknya beri tahu aku apa salahku."