
Sherina menangis dengan suara yang tercekat di tenggorokan, ketika Diko semakin menyudutkan dirinya. Tubuh wanita itu sudah bergetar dengan begitu hebat, saat dengan perlahan pria itu mulai menyentuh kulit wajahnya.
"Diko ... Tolong jangan lakukan ini. Sadarlah!" Cicit Sherina tidak dapat berbuat banyak, ketika menyadari jika pria itu membawa sebilah pisau dibalik tubuhnya.
"Sstt ... Bisa tenang sedikit? Aku mencintaimu, Sher. Aku tidak akan mencelakaimu jika kau menurut padaku." Diko berbisik lembut di telinga Sherina yang membuat sang empu menangis semakin tersedu.
"Aku mau pulang, Dik. Tolong lepaskan aku." mohon Sherina yang langsung disambut dengan tawa kejam dari pria yang saat ini hendak menindih tubuhnya.
"Tidak! Menjauh dariku! Aku membencimu!" Sherina mendorong tubuh milik pria berkaca mata itu.
"Kau berani membentak ku!? Dasar perempuan sok jual mahal! Kau seharusnya bersyukur karena aku masih mau menerimamu. Suamimu bahkan tidak akan pernah sudi untuk menerimamu lagi!" Diko mulai bertindak kasar.
Dia mencekal lengan Sherina kuat-kuat yang membuat wanita hamil itu meringis kesakitan.
"Diam dan menurutlah padaku! Tenanglah, aku akan menuruti semua yang kau mau. Jadilah penurut, dan senangkan aku. Mengerti?" Diko masih tidak mau mendengarkan permohonan Sherina. Dia terus memaksakan apa yang sudah menjadi keinginannya.
"Aku mohon kembalikan aku, Dik. Aku memiliki putri, dia membutuhkanku." Sherina terus memohon dengan penuh belas kasih.
Diko terus mendengar permintaan memuakkan yang keluar dari bibir Sherina. Dia yang sudah gelap mata itu, mencoba membangunkan Sherina dan mencengkeram rahangnya erat-erat.
"Apakah kau tuli, hah!? Aku sudah membuat suamimu membencimu, lalu sekarang kau masih ingin kembali padanya!? Kau ini tidak ada bedanya dengan perempuan murahan! Jangankan Marvin, aku saja muak padamu! Menjijikan!"
__ADS_1
Sherina mencoba memukul tangan Diko yang terus mencengkeram rahangnya. Dia juga beralih memukul dada pria itu, dengan sebelah tangan yang menahan tangan Diko yang membawa pisau.
"Kembalikan aku pada Marvin! Aku ingin pulang!" Teriak Sherina mulai kalang kabut ketika melihat perubahan raut wajah Diko.
"Apakah kau tega memberi suamimu, bekasku? Bagaimana perasaannya ketika tahu jika kita sudah menghabiskan waktu di atas ranjang, bersama?" ucap Diko tepat di telinga, Sherina yang membuat wanita itu terkejut.
"Tidak! Jangan berbohong padaku, Dik!" Sherina balas mencengkeram kerah baju Diko, yang membuat sang empu tertawa mengejek.
"Kau lupa dengan kenangan beberapa saat lalu ketika kau masih tertidur dengan pulas, hm?"
"Oh ya? Benarkah!?" Suara bariton yang muncul setelah suara dobrakan pintu itu, berhasil membuat Sherina terkejut.
Dia dengan cepat langsung menengadahkan kepalnya dan merasa sedikit lega sekaligus ketakutan ketika melihat dua pria yang datang menyusulnya.
Mata pria itu mulai memanas ketika melihat penampilan kacau milik istrinya. Rahangnya mengeras ketika melihat ratusan foto milik istrinya yang tertempel rapi di seluruh dinding.
"KEPARAT KAU! LEPASKAN ISTRIKU!" bentak Marvin dengan intonasi yang begitu tinggi.
Ivander yang berdiri tepat di sebelah Marvin itu, menggelengkan kepalanya ketika mengetahui semua tingkah busuk dari pria yang dahulu sempat dekat dengannya.
"Selain wanita murahan, ternyata ada juga pria murahan! Sangat cocok dengan wajah buruknya!" Ivander berdecih jijik saat melihat Diko yang melihatnya dengan Marvin dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
"Wah ... Wah. Sayang, bagaimana perasaanmu setelah dua pahlawanmu itu datang? Ck, sudah pasti kau sangat senang, bukan? Baiklah-baiklah, mari kita sambut kedatangan mereka ke rumah kita." Diko membalikkan tubuh keduanya, dan menahan kedua tangan Sherina di belakang.
Marvin yang melihat hal itu hendak maju, namun dengan cepat Diko langsung menampakan pisau yang dibawanya.
"Hei! Jangan mendekat! Jika mendekat, di mana kau ingin pisau ini menancap ditubuh istrimu?" ucap Diko dengan emosi yang mulai berantakan.
"Baji*ngan! Kau gila!" ucap Marvin dengan kepalan tangannya.
Dia menyayangkan kenapa polisi yang dirinya undang tidak kunjung datang kemari.
"Gila kau bilang!? Apakah kau baru tahu? Karena istrimu lah aku menjadi gila! Aku tidak bisa memilikinya karena dia memilihmu!" Layaknya orang yang sudah kehilangan akal, Diko mulai meneteskan air matanya.
"Andai kau tidak datang, aku pasti sudah menjadi suaminya. Aku sudah memiliki putri kecil cantik, seperti yang kau gendong kemarin dengannya! Kau pengacau!" Sherina menahan napasnya dengan air mata yang terus menetes.
Selama Diko masih mengeluarkan semua umpatannya pada Sherina dan Marvin, secara diam-diam Ivander beralih ke sisi ranjang dan bersiap untuk menjalankan rencana yang sejak tadi dirinya sudah rancang.
Tepat saat Marvin mendekat dengan cepat dan hendak menarik paksa tubuh istrinya, Ivander langsung memukul bagian belakang kepala Diko yang membuat cekalan tangan pria itu di tangan Sherina terlepas.
Memanfaatkan waktu itu, dengan cepat Sherina langsung melarikan diri dari pria gila itu. Dia hendak menggapai tubuh suaminya, sebelum dengan cepat sesuatu menembus bagian belakang tubuhnya.
"Sherina!"
__ADS_1
"Sher!"
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak boleh memilikinya!"