
Alissa yang melihat hal tersebut mendadak merasakan panas di sekujur tubuhnya. Dia mengeratkan rahangnya, dan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Kau pikir usahaku akan berhenti di sini!? Kau bermain denganku, Sherina. Aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau!" tekad wanita itu seolah sudah bulat. Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana caranya agar Marvin dapat kembali padanya.
Sherina yang mendengar hal tersebut, menyunggingkan senyum liciknya. Dengan sekali tarikan, bahu mulusnya itu kembali tertutup rapat oleh bajunya. Tatapan wanita itu sama sekali tak mengintimidasi, tetapi dilihat dari raut wajah Alissa, kali ini Sherina tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
"Jangan berpikir jika aku kan menghalangi mu. Silakan saja. Ambil jika kau mampu!" tegas Sherina sebelum akhirnya menutup pintu rumahnya dengan sedikit kasar.
Alissa yang terkejut dengan perlakuan Sherina itu, hanya bisa mengepalkan tangannya. Percuma saja dirinya melawan wanita keras kepala yang tidak memedulikannya.
"Jangan sampai Marvin terbujuk rayuannya kembali!" Alissa segera pergi dari rumah Sherina. Dia harus bergegas pergi ke perusahaan untuk menemui Marvin secepatnya.
****
Siang harinya, Sherina yang baru saja membantu Niskala untuk meminum obat dan tidur itu, mulai naik ke ranjang. Entah mengapa, wanita itu benar-benar ingin tidur saat ini.
Tidak berselang lama setelah Sherina mulai tertidur, tiba-tiba saja Marvin telah tiba di rumah. Pria itu tersenyum tipis, lalu mendekat ke ranjang.
__ADS_1
Tangan kekarnya terulur untuk mengelus dahi sang putri yang tidak lagi panas. Setelahnya, pria itu berbalik dan naik ke atas ranjang, tepat dibelakang tubuh kecil istrinya.
"Sayang," panggil pria itu lalu mengecup baju istrinya.
Sementara Sherina yang baru saja tertidur itu, sama sekali tidak mengetahui jika suaminya sudah berada di belakangnya. Dia asyik tertidur semakin lelap, yang membuat Marvin merasa gemas sendiri.
"Sayang, aku pulang." Kali ini Marvin berani menggoyangkan tubuh istrinya, yang berhasil membuat Sherina sedikit terbangun.
"Hmm, ada apa?" Dengan begitu malasnya Sherina masih bertanya pada sang suami.
Marvin melipat bibirnya ke dalam lalu mengecup pipi istrinya. Entahlah, rasa rindunya pada sang istri seolah tidak akan pernah ada habisnya.
Mendengar hal tersebut, tiba-tiba saja kedua mata milik wanita itu terbuka. Dia mulai meregangkan tubuhnya, yang membuat Marvin menahan kegemasannya.
"Sekarang saja. Niskala baru selesai minum obat, jadi dia tidak akan bangun dalam waktu dekat. Takutnya nanti kalau kesorean, si kakak pulang terus Kala juga sudah bangun."
Marvin terdiam sejenak lalu segera menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya pergi ke rumah Ivander setelah menitipkan Niskala ke Bu Nita.
__ADS_1
Sesampainya mereka di rumah Ivander, mereka dikejutkan dengan banyaknya perintilan yang tersebar di ruang tamu. Sherina berjalan sambil memungut sebuah undangan yang mana tertulis nama Ivander dan Annelis diatasnya.
"Ya Tuhan, benarkah!?" pekik Sherina terkejut yang membuat Anne yang tengah menata undangannya menolehkan kepalanya.
"Eh, kau datang? Maafkan aku, aku tidak sadar jika kalian datang." Anne segera bangkit dan mendekat kepada Marvin dan Sherina.
"Marvin?" wanita itu sedikit terkejut namun tetap senang ketika melihat adanya Marvin di sini.
"Ya, aku dan istriku datang kemari. Apakah Ivander ada di rumah?" jawab Marvin lalu memeluk pinggang istrinya.
Melihat hal tersebut, sontak senyum manis Anne terbit. Dia dengan segera menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, ada. Duduklah, aku akan memanggilkannya untuk kalian." Anne bergegas meninggalkan Sherina dan Marvin diambang pintu.
Sherina tersenyum tipis lalu mengamati ke seluruh dinding di ruang tamu yang hampir sepenuhnya dipasangi oleh foto-foto gemas dari kedua putrinya dan putra mereka.
"Mereka sudah menjadi orang tua kedua untuk Niskala dan Ailey." ucap Sherina lirih dengan penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Cerita kita part dua, Sayang. Mari kita jodohkan mereka saja."