Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 9


__ADS_3

"Tenanglah, kau akan bertemu dengan kekasihmu setelah kau benar-benar pulih. Lagipula mereka sudah pulih, tak ada luka atau memar pada wanita itu. Sekarang kau pikirkan kesehatanmu terlebih dahulu," ucap Sherina sembari menundukkan kepalanya dan hendak berjalan menjauh dari sang suami.


"Apakah kau marah padaku?" tanya Ivander dengan nada rendahnya, yang berhasil membuat Sherina menghentikan niatnya untuk kembali duduk di sofa.


Ada getaran hebat yang menjalar di seluruh tubuh Sherina ketika dirinya mendengar ucapan sang suami. Rasa bahagia yang membuncah bercampur dengan rasa lega itu, berhasil membuat air mata Sherina turun semakin deras.


"Kau bertanya padaku, apakah aku marah atau tidak? Jika aku balik pertanyaannya padamu, bagaimana perasaanmu?! Apakah kau akan biasa-biasa saja jika istrimu diam-diam menjalin hubungan dengan pria lain, lalu mengandung benih dari laki-laki itu. Apa yang akan kau lakukan?" Dengan air mata yang mulai turun membasahi pipinya, Sherina membalikkan badannya dan menatap sang suami.


Ivander yang melihat Sherina menangis itu terlihat setengah kaget. Selama satu tahu pernikahan, tak pernah Ivander melihat wanita rapuh di depannya itu menangis.


Entah apa yang sebenarnya ada di dalam hati laki-laki itu, ada rasa kecewa ketika dirinya melihat Sherina menangis. Dirinya merasa bahwa dia gagal menjaga wanita yang bahkan tak pernah membatasi kehidupannya, seperti yang dirinya minta.


"Kau bahkan tak pernah menyentuhku selama satu tahun pernikahan. Tapi kini kau malah menghamili sekretaris mu. Lalu kau bertanya apa aku marah atau tidak? Kenapa kau tak menceraikan aku, lalu menikahinya?!" bentak Sherina dengan nada yang tertahan.


Ada beban besar yang mengganjal di hati wanita itu, sehingga dirinya nampak begitu kasihan di mata siapa pun yang menatapnya.


"Apakah kau pikir aku akan langsung mengambil semua harta kedua orang tuamu, jika kau menceraikanku? Tenanglah, aku tidak selicik itu sampai-sampai aku akan melakukannya. Aku tidak sekejam kau yang masih mempertahankan ku dalam ikatan menjijikan ini!" Seolah memiliki teman baru, Sherina mengeluarkan apa yang selama ini menjadi beban untuk dirinya.

__ADS_1


Ivander sama sekali tak menjawab satu pun pertanyaan yang dikatakan oleh istrinya. Ivander hanya menatap Sherina yang masih mampu berdiri dengan tegar di hadapannya.


"Jika bukan karena sumpah yang ku ambil di hadapan Ibu serta mama, aku bisa pastikan jika kau sudah berbahagia dengan wanita pilihanmu. Jika bukan karena hal itu, pasti aku pun sudah bahagia dengan pilihanku. Tapi berhubung aku tak ingin termakan oleh sumpahku sendiri, aku masih berusaha bertahan di sini." Ucapan yang dikatakan oleh Sherina membuat Ivander ter-trigger akan hal yang bahkan hampir dirinya lupakan.


Kejadian di mana malam paling menegangkan yang pernah Ivander dan Sherina lalui. Di mana malam tersebut, merupakan malam terakhir untuk memutuskan siapa yang akan ditolong. Apakah papa Ivander atau ibu dari Sherina.


'Ivan berterimakasih banyak pada ibu, Ivan tidak tahu harus membalas kebaikan ibu dengan cara yang seperti apa. Ivan hanya bisa menerima amanat dari ibu untuk menjaga dan membahagiakan Sherina. Ivan berjanji pada ibu.' Ucapan itulah yang pernah keluar dari bibir Ivander.


Namun seolah lupa dengan apa yang dirinya pernah katakan pada almarhumah mertuanya, Ivander bahkan sama sekali tak pernah menjadikan hal yang dia katakan menjadi nyata.


"Mana yang kau bilang akan membahagiakan ku? Jangankan membahagiakanku, bahkan kau tak pernah menegurku terlebih dahulu walau hanya sekedar menyapa. Di mana semua ucapan yang dulu kau katakan?" Tanya Sherina mencoba menagih semua janji yang pernah Ivander katakan di hadapannya dan sang ibu.


"Apa yang kau katakan? Bisakah kau mengulangi apa yang baru saja kau katakan?" tanya Sherina dengan seketika sesaat setelah dirinya tersadar dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.


Sementara Ivander yang sama sekali tak ingin mengulangi apa yang sudah dirinya katakan itu, memutuskan untuk memalingkan wajahnya dari sang istri. Ivander menyesali apa yang dirinya katakan. Dirinya tak seharusnya mengatakan apa yang selama ini mengganjal di benaknya.


Jika Ivander mengira Sherina akan pergi begitu saja dan melupakan apa yang dirinya katakan, maka dia salah besar. Sherina tidak sebodoh itu sampai dirinya akan melewatkan satu kalimat yang tidak sengaja suaminya katakan.

__ADS_1


"Bisa kau ulangi apa yang baru saja kau katakan? Kau mengira jika akulah penyebab ibuku, tiada? Bagaimana bisa pemikiran mu mengarah ke suatu hal yang bahkan sangat mustahil dilakukan oleh seorang anak pada orang tuanya?!" ujar Sherina dengan air mata yang kembali turun semakin deras.


Sherina benar-benar merasa tak habis pikir dengan apa yang suaminya pikirkan tentang dirinya. Bagaimana bisa suaminya menuduh dirinya lah yang membuat sang ibu tewas dalam kecelakaan, yang bahkan tidak mengikut sertakan dirinya saat itu.


"Kau bahkan yang mengajakku untuk pergi ke rumah sakit, dan mengatakan jika ibuku mengalami kecelakaan bersama kedua orang tua mu. Lantas mengapa kau bisa mengatakan jika aku lah yang membuat ibuku meninggal?!" Dengan nada penuh amarahnya, Sherina meninggikan intonasi bicaranya.


Ivander yang mendengar ucapan dari Sherina itu masih tak bergeming. Laki-laki itu asyik menatap ke sembarang arah dan sama sekali tak ingin menatap pada Sherina. Hingga perkataan yang bahkan baru pertama kali Ivander dengar itu, berhasil membuat Ivander menolehkan kepala dengan raut wajah terkejutnya.


"Seharunya aku yang sepatutnya merasa menyesal, di sini. Karena dengan cara ibuku mengabdikan dirinya pada keluargamu, nyawa ibuku harus melayang! Andai saja ibuku tak diberatkan pada pilihan bekerja karena kesulitan ekonomi, mungkin kini ibuku masih berada di sisiku! Tapi kau lihat, keluarga mu masih utuh hingga sekarang. Sementara aku? Aku hanya seorang gadis yatim piyatu yang terjebak di pernikahan memuakkan ini!" jelas Sherina yang kali ini tak dapat menutupi segala penderitaannya.


Air mata wanita itu kembali mengalir bersamaan dengan tatapan Ivander yang semakin tajam. Laki-laki itu mengeratkan rahangnya dengan tatapan lurus pada Sherina.


"Jangan pernah berani-berani membawa kedua orang tuaku, dalam hubungan yang penuh dengan permainan ini! Kau tak sepantas itu sampai-sampai kau dibolehkan membawa mereka dan membicarakan mereka dengan mulut kotor mu itu!" bentak Ivander yang semakin membuat Sherina muak.


Bagaimana dirinya masih bisa bertahan dalam hubungan toxic semacam ini, setelahnya? Apakah Sherina akan memantapkan hatinya untuk menggugat sang suami?


"Kau tak lebih dari wanita yang beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua ku. Entah apa yang akan terjadi padamu, jika kau tak bertemu dengan kedua orang tua ku. Aku yakin kau akan menjadi gelandangan yang mengemis bantuan dari orang-orang di luaran sana!" maki Ivander yang kali ini tak dapat menahan amarahnya, setelah mendengar istrinya menjelekkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Serharusnya kau yang berada di posisi ibumu, sekarang! Toh keluargaku lebih membutuhkan ibumu untuk menjadi budak di rumah ku, daripada kau yang hanya bisa menghabiskan uang kedua orang tuaku!" hina Ivander dengan polosnya yang seketika mempu membuat Sherina terkejut bukan main.


Bukan hanya Sherina yang terkejut saat mendengar hinaan dari Ivander, tetapi hal sama juga dirasakan oleh dua orang yang baru saja tiba di ruang rawat milik Ivander.


__ADS_2