Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 74


__ADS_3

Anne yang hendak menolak karena beberapa pertimbangan itu, kembali memikirkan apa yang harus dirinya lakukan ketika berpisah dengan Kanwa.


"Sherina akan menikah, dua hari lagi. Jadi besok pagi kita berangkat, agar lusa kau bisa menghadiri pernikahannya." Anne terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ivander.


"Sherina akan menikah? Apakah dengan Marvin? Syukurlah, aku ikut bahagia akan hal ini." Anne tersenyum membayangkan bagaimana bahagianya Sherina setelah menikah dengan pria yang dicintai.


Ivander tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Satu sisi dirinya sangat bahagia karena akhirnya Sherina menemukan kebahagiaannya, tetapi di sisi lain dirinya menyesal karena memberikan kebahagiaan itu pada pria lain.


"Baiklah, sebelum pagi nanti aku akan menyiapkan barang-barangku dan Kanwa." Ivander menoleh sejenak saat mengetahui jika Anne bersedia untuk ikut bersamanya dan juga Kanwa.


"Apakah kau tidak memiliki keluarga yang membuatmu masih ingin bertahan di sini?" Ivander mulai bertanya pada Anne menyangkut kehidupan pribadi wanita itu.


Anne yang kurang nyaman dengan pertanyaan yang Ivander berikan padanya. Dia berdiri dan hendak kembali masuk ke dalam,


"Tidurlah, jangan sampai kau bangun terlambat. Kanwa sudah tertidur dengan tenang. Selamat malam." Anne tidak menjawab, dia langsung masuk dan meninggalkan Ivander yang masih betah di balkon.


Ivander menatap punggung kecil milik Anne yang tertutup rambut sepunggungnya. Dia merasa jika Anne tidak akan mudah membuka kehidupan pribadinya pada sembarang orang.


Ivander tidak beralih dari duduknya, dia kembali melihat dan membaca pesan yang Marvin kirimkan padanya, tanpa merasa bosan. [Datanglah ke pernikahanku dan Sherina. Aku sudah lebih dulu kembali ke Indonesia.]


Pagi harinya, Anne yang sudah menyiapkan semua perlengkapannya dengan Kanwa itu, berjalan masuk ke kamar Ivander. Wanita itu menggelengkan kepalanya saat melihat dua pria yang ada di atas ranjang masih nyaman memejamkan matanya.


"Ivander. Ini sudah pagi. Penerbanganmu satu jam lagi!" Anne menepuk lengan milik Ivander lalu menggendong Kanwa dengan perlahan.


"Astaga Ivander. Bangunlah!" Anne yang sudah memeluk Kanwa tersebut merasa gemas karena Ivander tak kunjung membuka matanya.


"Biarkan saja ayahmu itu terlambat bangun. Lebih baik sekarang kau mandi dan bersiap terlebih dahulu." Anne membangunkan bayi tersebut lalu memandikannya setelah dia sadar sepenuhnya.


40 menit kemudian, Anne yang sudah menata dua koper bawaannya dan Ivander di depan pintu apartemen, segera masuk dan membangunkan Ivander.

__ADS_1


"Van, bangun sekarang atau ku tinggal! Waktumu tinggal dua puluh menit lagi. Kita harus segera ke bandara!"


Ivander yang mendengar ucapan Anne itu langsung membuka matanya. Dia segera bangkit dan menatap Anne dengan mata memerahnya.


"Astaga! Kenapa kau tak membangunkan ku!?" Anne yang tiba-tiba diserang dengan ucapan Ivander itu, mengerutkan keningnya.


"Kau menyalahkanku? Tanyalah pada Kanwa, bahkan aku sudah membangunkanmu sejak empat puluh menit yang lalu!" Anne menjawab ucapan Ivander.


Pria itu tidak menjawab dan segera bergegas ke kamar mandi. Anne yang melihat tingkah kesetanan pria itu, hanya menggelengkan kepalanya.


"Anne, siapkan bajuku!" Anne mengangkat kedua alisnya saat mendengar perintah Ivander.


"Aku ini pembantunya, bukan istrinya!"


...****...


Sementara Sherina dan Marvin, keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah baru yang sudah dibeli oleh pria itu.


Itu adalah area perumahan kelas atas di pusat kota.


Keluarga Chadsell memiliki banyak properti di daerah itu, yang sekarang dikembangkan oleh Marvin. Kakek dan ayah Marvin adalah arsitek yang mempelopori kesuksesannya.


"Gedung satu A, yang mana merupakan gedung impian papa dan bahkan setiap detailnya membutuhkan konfirmasi ke kakek."


Sherina menolehkan kepalanya pada Marvin sebelum akhirnya sang sopir membukakan pintu untuknya dan Marvin. Pria itu bergegas berjalan mendekat ke Sherina, lalu memeluk pinggang Sherina.


"Proyek ini masih berjalan?" Sherina mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan calon suaminya.


"Masih berjalan, dan akan terus berjalan. Kelak ini akan menjadi milik putri kita sepenuhnya." Marvin mengajak Sherina masuk dan membiarkan Sherina merasa terkejut dengan semua yang dirinya lakukan.

__ADS_1


"Aku sengaja masih mengosongkannya, agar kau dapat menata semuanya. Sebentar lagi mereka akan datang. Mereka akan langsung mencarikan barang sesuai yang kau inginkan." Dengan senyum tipisnya Marvin menatap Sherina yang masih tak henti-hentinya terkejut.


"Vin, ini terlalu besar. Kita bisa tinggal di perumahan sederhana atau membangun rumah kecil untuk kita bertiga." Sherina menggelengkan kepalanya sambil mendekatkan tubuhnya saat Marvin menarik pinggangnya, agar merapat pada tahun tubuh kekar pria itu.


"Rumah kecil untuk kita bertiga, katamu? Hei, siapa yang mengatakan jika kita hanya akan bertiga? Tentu saja tidak. Aku akan memiliki anak selanjutnya, lalu selanjutnya, atau bahkan selanjutnya lagi denganmu. Oh, atau jika perlu kita akan membuat disetiap kamar yang ada di rumah ini dipenuhi oleh anak-anak kita."


...*****...


...Berikut adalah visual tokoh dinovel ini...


...~ SHERINA ~...



...~ MARVIN ~...



...~ IVANDER ~...



...~ ANNE ~...



...~ NESSIE ~...


__ADS_1


...~ Pict terakhir Baby Kanwa ~...



__ADS_2