Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 127


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Marvin yang baru saja kembali dari dinas ke luar negeri itu berjalan dengan wajah yang ditekuk karena begitu lelah.


Pria itu melonggarkan dasinya dan melepas jasnya, sembari terus berjalan masuk ke dalam rumah. Tepat satu langkah setelah dirinya memasuki rumah, tubuh pria itu seketika membeku ketika tatapannya bertemu dengan kedua mata tenang yang saat ini juga tengah menatapnya.


Marvin merasakan jika jantungnya mendadak berhenti bekerja. Hawa dingin seketika menyeruak ke dalam dirinya, saar melihat wajah yang begitu dirinya rindukan selama ini.


"Sherina..." panggil Marvin tak percaya, dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat.


Sama seperti Marvin, seorang wanita yang masih mengenakan dress di bawah lututnya itu mematung, menatap kedua mata gelap di seberang sana.


Nafasnya seketika terasa sedikit sesak dengan mata yang mulai memanas. Di manakah prianya yang terlihat begitu lelah. Jambang yang menghiasi dagu dan sekitar bibirnya itu, benar-benar menambah ketampanan pria yang sangat dirinya rindukan.


Setelah memastikan jika wanita itu benar-benar Sherina, dengan segera Marvin langsung berjalan cepat dan menekuk kedua lututnya di hadapan wanita yang duduk menghadap ke pintu itu.


Marvin langsung memeluk Sherina dengan air matanya. Dia mengeratkan pelukannya, seakan dirinya benar-benar tidak ingin kehilangan wanita tersebut.


"Aku merindukanmu..." ucap Marvin dengan suara yang begitu dalam.


Sherina seolah mati rasa. Wanita itu hanya diam, tanpa melakukan apapun. Dia masih menatap pintu rumah yang tetap terbuka, tanpa berniat untuk mengalihkan darinya.


"Kenapa tidak memberitahu aku dimana Ivander menyembunyikan mu. Aku mencarimu," tanya Marvin pada istrinya.


Lagi-lagi Sherina tidak menjawab. Dia menatap pintu mobil milik suaminya yang saat ini terbuka. Detik itu juga, Sherina mulai mempercayai semua yang Anne dan Ivander katakan.


"Menyingkirlah," ucap Sherina setelah lama terdiam, yang membuat Marvin menarik tubuhnya dari tubuh kecil Sherina yang semakin habis.


"Tidak... Apa yang kamu katakan, Sayang?" Marvin memegang pipi tirus milik Sherina dan langsung membuat Sherina menjauhkan wajahnya.


Jujur Marvin sedikit terkejut dengan sikap istrinya. Dia menarik tangannya dengan terpaksa, dan kembali menatap wajah wanitaanya dengan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu, Sher."


"Aku membencimu."


Sherina menatap suaminya dengan tatapan penuh luka. Tidak ada sedikitpun Marvin temukan, tatapan lembut seperti yang dahulu Sherina berikan, di matanya.

__ADS_1


"Sher..."


"Marvin, ponselmu tertinggal."


Kedua suami istri yang masih berbicara itu, langsung menolehkan kepalanya ke samping. Tepat di mana Aliisa berdiri di belakang Marvin.


Marvin yang melihat hak tersebut seketika sedikit panik. Bagaimana tidak. Ucapan Ivander beberapa saat lalu membuatnya takut membawa Alissa sekedar mampir ke rumah.


"A ... Baiklah, berikan padaku. Terimakasih. Kau bisa kembali." Marvin dengan sedikit gugup, segera mengambil ponselnya dari genggaman Alissa.


Wanita itu seketika terkejut ketika melihat jika wanita yang duduk di hadapan Marvin tadi, tidak lain merupakan Sherina. Dia dengan cepat langsung memberikan ponsel milik atasannya, dan berniat untuk langsung pergi.


"Hai Alissa. Lama tidak berjumpa." Sherina dengan cepat langsung menghentikan Alissa yang tengah memberikan ponselnya pada Marvin.


Sherina tersenyum tipis ketika melihat keduanya yang langsung menolehkan kepalanya pada dirinya. Sherina menganggukkan kepalanya tipis, lalu melipat bibirnya ke dalam.


"Senang melihatmu sehat, dan bisa kembali bekerja. Tuhan memberkatimu." Alissa dengan cepat langsung menarik tangannya berdiri kaku di hadapan Sherina.


"Tidak perlu buru-buru kembali. Duduklah di sini, kau pasti lelah setelah seharian bekerja. Bukan begitu, Tuan Marvin?"


Marvin terdiam untuk beberapa saat. Dia mulai menatap wajah datar Sherina ketika berbicara dengan Alissa.


"Bunda..."


Sherina langsung menekuk sebelah lututnya dan memeluk kedua putri kecilnya yang sekarang sudah mulai besar. Dia memejamkan matanya dan meluapkan semua rasa rindunya terhadap putri-putrinya.


"Bunda kangen sama kalian," bisik Sherina lembut lalu mengecup kedua kening milik Ailey dan Niskala.


Dia gadis kecil yang wajahnya semakin mirip dengan ayahnya itu, tertawa lepas. Sherina mengusap puncak kepala kedua putrinya, lalu berdiri dengan menggandeng keduanya.


"Duduklah, jangan hanya berdiri. Aku yakin pasti kalian akan membicarakan banyak hal." tawar Sherina kepada Alissa yang kini menatap putri kecilnya.


"Kakak mau ikut ke atas, atau mau di sini? Bareng sama ayah dan ibu Aiy?" Tidak lupa Sherina bertanya pada putri sulungnya, siapa tahu gadis kecil itu ingin tinggal bersama dengan ibunya.


"Kakak cuma mau sama bunda!" Tegas gadis yang menjelma menjadi sosok perempuan yang tangguh dan keras. Semuanya berkat didikan Ivander tentunya.

__ADS_1


Sherina menatap Alissa yang sama sekali tidak bereaksi, bahkan terkesan seperti tidak bermasalah dengan jawaban Ailey.


"Baiklah. Enjoy your time." Sherina berjalan ke kamar yang ada di atas pojok rumahnya, bukan ke kamarnya dengan Marvin.


Marvin yang melihatnya, dengan cepat bergegas hendak pergi. Tapi dia segera menghentikan langkahnya ketika Alissa memegang tangannya.


Marvin menatap tajam tangan Alissa yang menyentuh lengannya, dan dengan cepat wanita itu melepasnya. Entah mengapa banyak perubahan pada Marvin, bahkan baru beberapa menit berlalu.


"Ah, maaf. Tapi kita masih memiliki sedikit pembicaraan. Tentang meeting tadi-"


"Ini sudah diluar jam kerja. Jadi kita bahas besok, lagi." Setelah berkata dengan nada rendahnya, pria itu segera menyusul naik.


Alissa menatap punggung kekar milik pria yang sudah bersamanya hampir 4 tahun lamanya itu, pergi meninggalkannya sendiri. Tangannya tidak sadar terkepal, tidak terima dengan sikap yang Marvin berikan padanya.


****


"Mau tidur di rumah, atau dirumah ibu?" Sherina menyisir rambut Niskala, dan menatapnya dari pantulan cermin di depannya.


"Kal, kita tidur rumah saja ya? Kan bunda udah di rumah, terus tante itu juga udah pergi." Ailey sedikit berjongkok di depan adiknya, dan merapikan anak rambutnya.


"Mau sama bunda aja." Jawab gadis kecil berusia 4 tahun itu, lalu menyebikkan bibirnya.


Ailey yang gemas dengan adiknya itu mencium pipinya dan tersenyum pada sang ibu. "Adek mau kok, Bun. Tidur di rumah papanya besok aja kalau liburan."


Sherina mengangguk dan menyelesaikan kegiatannya. Setelah semua selesai, Sherina mengajak anak-anaknya naik ke tempat tidur dan mulai menidurkannya.


Sherina terus mengelus puncak kepala kedua gadisnya yang tidur di sebelah kanan kirinya, sampai akhirnya Niskala yang lebih dulu menyerah dengan kantuknya.


"Kakak masih jadi anak bunda, kan?" Sherina yang sejak tadi melamun itu, mendadak terkesiap ketika tahu jika putri sulungnya belum tertidur.


"Kenapa bilang begitu, hm? Kakak itu anak bunda. Sampai kapanpun itu." Sherina mengecup kening Ailey dan mengelus pipinya.


"Kakak takut, bunda benci sama kakak karena tante itu yang buat ayah, jadi seperti sekarang." Sherina memeluk putrinya itu dan memejamkan matanya.


Dia tidak tahu seberapa sulit hidup gadis kecilnya itu selama dirinya tidak ada. Bukankah belum seharusnya Ailey mengetahui semua itu?

__ADS_1


"Tante itu orang jahat, Bun. Jangan biarin ayah suka sama dia. Kakak nggak mau ayah ninggalin kita buat tante itu." Pinta Ailey yang membuat Sherina tersenyum miring.


'Mari kita buat agar dia menyesal dengan semua perbuatannya, terlebih dahulu.'


__ADS_2