
Satu Minggu sudah berlalu. Hari ini, Sherina berniat pergi ke rumah sakit untuk menjemput suaminya.
Sherina yang sejak tadi menatap putri kecilnya yang masih tertidur pulas itu, mulai menghirup napasnya panjang-panjang. Napasnya yang sedikit tersengal karena tangisannya itu, membuat Sherina mencoba menetralkan emosinya.
"Kau bisa, Sher. Tuhan tahu jika kau kuat," ucap Sherina dengan anggukan lemahnya, sembari menghapus air matanya.
Ya, sejak kepulangannya 3 hari yang lalu, Sherina tidak menyangka dengan perubahan emosinya yang begitu drastis. Dirinya lebih sering menghabiskan waktunya untuk menangisi sesuatu yang bahkan tidak bisa dirinya ubah.
Pikiran Sherina terlalu dipenuhi dengan hal-hal tidak penting yang belum tahu kejelasannya. Dia menahan semuanya seolah Marvin tidak ingin tahu tentang apa yang dirinya pikir.
Wanita itu menaikkan kedua aslisnya sembari menarik napasnya dalam-dalam. Dia menghapus air matanya sekali lagi, lalu perlahan untuk bangkit dari duduknya.
Dia berjalan menuju ponselnya, dan hendak menelepon Marvin. Tapi tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Sherina menghentikan niatnya.
"Sherina," panggil Anne sembari masuk ke dalam kamar Niskala.
Dalam dekapan wanita itu ada Kanwa, bayi berusia hampir 9 bulan yang sudah sangat melekat dengannya. Dia berjalan mendekati Sherina dan terkejut saat melihat wajah sembab milik ibu muda itu.
"Sherina ... Apa yang terjadi?" Setelah meletakkan Kanwa di ranjang besar milik Niskala, Anne berjalan mendekati Sherina yang berdiri di depan meja kaca yang ada di ruangan tersebut.
Entah mengapa tempramen Sherina menjadi lebih random, hari ini. Dia tiba-tiba kembali meletakkan ponselnya dan membalas pelukan Anne dengan begitu erat.
"Kenapa, hm? Apakah kau ingin bercerita?" Anne mengusap punggung bergetar milik Sherina.
Sherina belum menjawab, dia masih betah memeluk Anne dan menumpahkan segala air matanya. Sesekali dia menatap putrinya, yang hal itu kemudian membuat Sherina semakin ingin menangis.
"Aku tidak sekuat itu, Ann. Aku lelah," ujar Sherina lirih ditengah isak tangisnya.
Mendengar hal itu, Anne segera membawa Sherina untuk duduk dan mencoba menenangkan Sherina. "Ceritalah. Kau butuh orang lain untuk meringankan bebanmu, setidaknya untuk bercerita."
Sherina masih enggan menjelaskan. Dia menjadikan sebelah pahanya untuk menumpu sikunya. Dia mengusap pipinya dengan bibir yang mengerucut, menahan tangis.
"Aku pikir aku bisa kuat untuk menerima semua faktanya, Ann. Tapi nyatanya tidak. Aku seolah menjadi orang gila yang mengurus semuanya sendirian. Aku mengurus rumah, aku mengurus Niskala, bahkan aku kesana kemari menunggu Marvin. Belum lagi masalah surat hak asuk, semua aku yang mengurusanya."
__ADS_1
Anne terdiam mendengar jawaban Sherina. Dia menatap wanita yang saat ini wajahnya terlihat sangat pucat tersebut, dengan perasaan bersalah.
"Bukankah aku sudah mengatakannya, agar kamu selalu minta bantuanku dan juga Ivander? Kenapa kau diam saja? Sherina, kami sama sekali tidak mengetahui jika banyak hal yang kau pendam sendiri." Ucap Anne yang benar-benar merasa bersalah, sembari mengelus lengan milik Sherina.
Sherina menggelengkan kepalanya. Dia menahan napasnya untuk beberapa saat, dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Tidak. Aku bisa mengatasinya sendiri. Lagi pula, bukankah seperti kebiasaanku? Aku bisa mengurus rumah sendiri, mengurus diriku sendiri tanpa bantuan orang lain," jawab dengan senyum hambarnya yang langsung disambut oleh gelengan kepala dari Anne.
Baiklah, seketika Anne paham, kondisi seperti apa yang saat ini dialami oleh Sherina. Seperti layaknya ibu muda yang lain, Anne berpikir jika Sherina mengalami baby blues setelah melahirkan. Anne menebak jika terlalu banyak beban yang ditanggung oleh Sherina.
"Sherina, kau baik-baik saja?" tanya Anne begitu melihat Sherina yang tengah terdiam.
Sherina masih diam tak bergeming. Dia menatap kosong pada putrinya yang ada di keranjang bayinya.
"Sherina, masalah apapun itu harus kau bicarakan dengan suamimu. Kalian memilih untuk menikah karena itulah pilihan kalian 'kan? Jadi jangan merasa sendiri. Ada suami mu," ucap Anne mencoba mengingatkan Sherina untuk membagi masalahnya dengan Marvin.
Sherina mengalilhkan pandangannya dan menatap Anne yang duduk di sebelahnya. Ya, Sherina melupakan semua itu. Dia tidak mengingat apa yang suaminya pernah katakan padanya.
Belum sempat Sherina menjawab, kedua wanita itu seolah menajamkan pendengaran mereka ketika mendengar suara mobil yang masuk ke rumah Sherina.
"Hapus air mata mu. Suami mu sudah pulang," ujar Anne sembari mengelus lengan milik Sherina.
Dia bangkit dari duduknya dan membantu Sherina untuk bangun. Dia menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Sherina, lalu membawanya turun ke bawah.
"Sebenarnya kedatanganku kemari untuk mengatakan jika Marvin akan pulang bersama Ivander. Jadi kau tidak perlu menjemputnya." Sherina hanya menganggukkan kepalanya dan terus menuruni anak tangga untuk segera tiba di hadapan suaminya.
Sherina melihat ayah dari putrinya yang sudah menatapnya sejak dirinya menuruni tangga. Dia memilih untuk duduk di sebelah Marvin dan tersenyum saat mengetahui jika suaminya tengah menatapnya dengan begitu lekat.
Hati pria itu terasa seperti tengah diremas hebat, ketika melihat wajah sembab milik istrinya. Seketika perasaan tak enak menghampiri hati pria itu. Apa yang membuat istrinya menangis.
"Sayang," panggil Marvin lirih sembari menatap Sherina yang duduk di sofa, yang ada di sebelah kursi rodanya.
Sherina tidak menjawab. Dia masih menatap sang suami sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya untuk menatap Ivander yang tengah menjelaskan tentang bagaimana kondisi kaki suaminya.
__ADS_1
Sherina terus menyimak penjelasan Ivander. Berbeda halnya dengan Marvin yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari sang istri.
Dalam benak pria itu, sejak tadi dia bertanya-tanya. Apakah dirinya melakukkan kesalahan pada istrinya? Atau apakah ada masalah yang menimpa sang istri tanpa sepengetahuannya?
"Van, kau bisa pulang terlebih dahulu. Terimakasih atas bantuannya." Ketiganya yang tengah membicarakan kondisi kaki Marvin itu, seketika terdiam.
Mereka semua menatap Marvin, yang bahkan tak mengalihkan pandangannya dari wanita yang duduk di sebelahnya.
Anne yang sudah paham dengan kondisinya itu, segera pamit untuk mengambil Kanwa yang dirinya tinggal di kamar Niskala.
Setelah selesai membawa Kanwa ke bawah, Anne bergegas mengajak Ivander untuk pulang. Pria yang sejak seminggu menunggu Marvin di rumah sakit itu sama sekali tidak berkomentar apapun.
Setelah kepergian keduanya, Sherina masih belum mengalihkan tatapannya dari pintu utama di rumahnya.
"Sherina," panggil Marvin tanpa embel-embel yang lain.
Wanita itu segera menolehkan kepalanya dan menatap sang suami. Ada guratan kekecewaan yang begitu dalam yang Sherina temukan dalam mata gelap suaminya.
"Kenapa menghindariku?" Dua kata itu seketika berhasil membuat hati Sherina mencelos.
Wanita itu menahan napasnya untuk sesaat, lalu menggigit bibir bagian bawahnya untuk menyalurkan getaran hebat yang ada di dadanya.
"Aku akan membawamu ke kamar. Kau harus banyak istirahat," ucap Sherina mengalihkan pembicaraan, dan segera mendorong kursi roda suaminya ke kamar tamu.
"Biarkan aku membantumu untuk naik," Sherina memegang kedua lengan milik suaminya, dan dengan hati-hati membantu Marvin naik ke atas ranjang.
Setelah selesai, Sherina masih saja merasa tak nyaman dengan tatapan suaminya. Pria itu masih menunggu jawaban darinya.
"Aku akan melihat Niskala terlebih dahulu. Aku meninggalkannya," pamit Sherina tanpa menatap Marvin, yang membuat Marvin mengeratkan rahangnya.
Belum melangkah, tangan kecil milik Sherina seketika ditahan oleh Marvin. Suara seraknya berhasil membuat Sherina kembali menahan napasnya.
"Duduk dulu."
__ADS_1