
Dengan langkah cepatnya, Sherina segera meninggalkan kamarnya dan hendak mencari di mana keberadaan sang suami. Tangan kecil wanita itu terangkat dan mengusap pipinya yang sudah basah sejak tadi.
Hal pertama yang langsung dituju oleh Sherina adalah kamar sang putri, dia berharap agar sang suami masih berada di sana. Tapi nyatanya hal tersebut tidak terjadi, tidak ada sang suami di dalam sana. Dia hanya menjumpai putri kecilnya yang tengah tertidur dengan begitu pulasnya.
"Maafkan bunda, Sayang." lirih Sherina sebelum akhirnya dia kembali menutup pintu kamar milik putrinya, dan beralih mencari Marvin ke seluruh penjuru rumah.
Namun betapa terkejutnya Sherina ketika menjumpai semua akses keluar dari rumahnya sudah dikunci lebih dulu. Dia tahu apa yang suaminya lakukan, tapi setidaknya pria itu bisa menunggu penjelasannya terlebih dahulu.
"Astaga, apa yang kau lakukan Marvin!" Wanita itu terlihat kalang kabut, saat ini. Dia hanya ingin menahan suaminya dan meminta maaf atas semuanya.
Tak kehabisan akal, Sherina dengan cepat langsung membuka jendela. Tapi belum juga tubuhnya berhasil melalui jendela, tiba-tiba tiba saja suara seseorang menghentikannya.
"Jangan keluar melalui jendela, Nak. Percuma. Marvin juga sudah mengunci pintu gerbang luar." Wanita yang sudah merawat Marvin sejak kecil itu, menatap Sherina dengan penuh iba.
Dia mendekat kepada Sherina dan menggenggam lembut lengan kecil milik wanita yang hendak keluar melalui jendela itu. Perlahan, dia menggelengkan kepalanya dan menarik Sherina agar kembali masuk ke dalam.
"Kemana perginya Marvin, Bu? Apa dia mengatakan sesuatu?" Sherina menatap kedua mata teduh itu secara bergantian, lalu membalas menggenggam tangan wanita tersebut dengan tangan dinginnya.
Nita, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang Sherina berikan pada dirinya. "Marvin cuma minta supaya kamu diam di rumah, untuk sementara waktu. Turuti saja suamimu itu. Kalian sudah lama bermasalah, jadi untuk kali ini bersabarlah."
__ADS_1
Sherina menghembuskan napasnya dengan gusar, seraya menundukkan kepalanya. Entah apa yang akan suaminya lakukan setelah ini. Dia menggigit bibirnya untuk menyalurkan semua ketakutan yang ada di dalam dirinya.
"Masuk ke kamar saja, ya? Ailey biar ibu yang jaga," tawar Nita pada wanita yang baru saja mendongakkan kepalanya itu.
Sherina tidak menjawab. Dia segera kembali ke atas, dan mencari teleponnya. Sherina segera menelepon suaminya, dengan sebelah tangannya yang dia cengkeram erat-erat.
"Marvin, angkat teleponnya." gusar Sherina lalu menggigit kuku jarinya dengan sangat cemas.
Dia tidak putus asa, meskipun sudah berulang kali panggilannya tidak kunjung juga diterima oleh sang suami, tetapi Sherina masih saja berusaha untuk menelepon Marvin.
Hingga akhirnya, mungkin karena pria itu muak mendengar dering ponselnya selama berkali-kali, membuat dirinya segera menerima panggilan tersebut. Tidak ada sapaan atau sepatah katapun yang keluar dari bibir pria tersebut.
Marvin masih fokus dengan kemudinya, dia menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mengaktifkan speaker di panggilannya dengan Sherina. Pria itu menginjak pedal gasnya semakin dalam, melihat jika keadaan jalanan yang sepi membuatnya ingin menguasainya.
"Bisa kau pulang dahulu? Selesaikan semuanya dengan baik-baik, Vin!"
"Apa yang perlu diselesaikan, hah!? Bisa kau ulangi ucapanmu!?" potong Marvin dengan nada penuh emosinya, yang membuat Sherina terdiam sejenak.
"Tidak, maksudku-"
__ADS_1
"Kau paham, tidak? Aku hanya memintamu untuk tetap di rumah, tidak yang lain!" potong pria itu lagi, yang akhirnya membuat Sherina melipat bibirnya ke dalam.
"Vin..." panggil Sherina dengan nada yang begitu rendah, hal tersebut nyatanya mampu membuat emosi pria itu seketika meredam.
Marvin menggertakkan giginya, lengkap tangan yang mencengkeram kemudi dengan sangat erat. Pria itu akhirnya mulai bisa tersadar.
"Tidurlah di rumah, aku yang akan menjaga Niskala. Ailey mencarimu sejak semalam," titah pria itu dengan suara yang mulai melembut.
Sherina yang akhirnya tahu kemana sang suami akan pergi itu pun, menghela napasnya secara perlahan. Sherina melipat bibirnya ke dalam ketika tiba-tiba Marvin memutuskan panggilan keduanya.
Sherin menatap sekitar, menatap kekacauan yang terjadi akibat keributan antara dirinya dengan sang suami. Ya, selama pernikahan, inilah keributan yang paling besar, yang terjadi di antara dirinya dan Marvin.
"Terimakasih Tuhan."
...****...
Malam harinya, Sherina yang tengah tertidur dengan Ailey itu, sedikit terbangun ketika merasakan jika ada seseorang yang mengangkat tubuh kecil putrinya. Tapi seolah tengah ditenangkan, wanita itu kembali memejamkan matanya, tak menghiraukan apa yang sempat mengganggu tidurnya.
Tidak lama setelahnya, tiba-tiba saja ranjangnya seolah diambah oleh seseorang yang bobotnya lebih berat darinya. Ingin membuka mata pun, Sherina rasa dia sudah tidak sanggup. Wanita itu terlalu lelah setelah seharian menjalani banyak masalah.
__ADS_1
"Kemarilah. Aku merindukanmu,"