Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 64


__ADS_3

Ivander yang sedikit mengetahui kesalahpahaman yang terjadi di antara Sherina dengan Marvin itu, berjalan mendekati Sherina. "Aku minta maaf untuk hal ini, Rin. Tenanglah, aku akan mencoba menjelaskan pada Marvin."


Sherina menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan pada Ivander jika semuanya terjadi bukan karena pria itu. "Tidak, ini bukan salahmu. Dan ya, kau bisa kembali. Ini sudah terlalu larut."


Ivander hanya mengangguk, dan segera pamit untuk pulang. Sherina masih berdiri di halaman, sampai akhirnya mobil Ivander sudah menghilang dari pandangannya.


Sherina menghela napasnya dalam-dalam melalui mulutnya. Dia benar-benar tidak berharap Marvin bersikap kekanakan seperti sekarang ini. Dia berjalan masuk dan segera menghubungi Marvin.


"Astaga, kenapa ponselnya tidak aktif!" Sherina merasa gelisah karena ponsel pria itu sepertinya sengaja tidak diaktifkan.


Sherina tersadar, dirinya juga bersalah karena tak meminta izin pada Marvin, sebelum pergi tadi. Dia berpikir jika itu tidak akan lama, dan tidak akan terjadi apapun di antara dirinya dan juga Ivander.


Tapi nyatanya apa yang dirinya sepelekan itu, berhasil membuat Marvin marah.


"Masalah pagi tadi bahkan belum selesai, dan kini bertambah lagi." Sherina memutuskan untuk duduk, dan meremas ponselnya dengan gelisah.


Sherina mencoba menenangkan dirinya dengan menghirup napas panjang lalu menghembuskannya. Begitu seterusnya.


Wanita itu menunggu kepulangan Marvin di ruang tamu, selama hampir 5 jam. Sherina menatap jam di dinding, yang kali ini sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Wanita yang sudah beberapa kali tertidur di sofa itu, tiba-tiba terbangun.


Dia menghirup napasnya sambil mencoba mengembalikan kesadarannya. Wanita itu membuka tirai jendelanya dan melihat apakah mobil milik Marvin sudah tiba atau belum.

__ADS_1


Bahu wanita itu langsung mengendur ketika belum melihat keberadaan mobil Marvin. Entah mengapa Sherina benar- benar merasa bersalah. Dia menunduk dan perlahan matanya mulai memanas.


"Pulang, Vin." Sherina menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil menekuk kedua sikunya.


Dia sadar, dia kini begitu menginginkan Marvin. Pria itu yang selalu berada di sampingnya. Perlakuannya yang begitu lembut dan tulus membuat air mata wanita itu turun semakin deras. Dia merindukan pria itu.


Sherina tidak tahu, perasaan apa yang tengah menghampiri dirinya. Ada rasa yang bergetar hebat saat sepintas wajah kecewa Marvin kembali hadir di ingatannya.


Setelah merasa jika dia sudah cukup membaik, Sherina menghapus air matanya dan bangkit. Dia mengambil ponselnya dan berniat untuk kembali menghubungi Marvin.


Jantung Sherina berdegup lebih kencang saat melihat jika pesannya sudah dibaca oleh pria itu. Dengan cepat, Sherina segera menelepon pria itu.


Wanita itu meremas ujung bajunya saat mendengar nada berdering di telinganya. Dia berharap agar pria itu segera menerima teleponnya. Dia akan menjelaskan semuanya dan meminta Marvin untuk pulang.


"Marvin?" panggil Sherina yang begitu sia-sia, karena tak mendapat jawaban dari Marvin.


Sherina menghela napasnya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Kau ada di mana, sekarang? Apakah kau baik-baik saja?"


Marvin terdiam mendengar ucapan Sherina. Rasa hendak menjawab pertanyaan Sherina dan menyampaikan rasa kecewanya, berusaha pria itu hempaskan. Dia sudah cukup kecewa dengan perlakuan Sherina.


Dia tidak tahu bagaimana perasaan wanita itu sebenarnya. Meskipun dahulu Sherina sudah mengatakan jika akan mencobanya dengannya, tetapi entah mengapa ada rasa ragu di hati pria itu.

__ADS_1


Sherina yang tak kunjung mendapat jawaban dari Marvin itu, perlahan matanya kembali memanas. Kenapa pria itu sama sekali tidak berminat membicarakan masalah mereka.


"Kenapa tak menjawab, hm? Tidak ingin pulang?" Nada bicara Sherina mulai bergetar.


Andai jika ada pria itu di hadapannya, Sherina akan menangis untuk meminta maaf. Ini semua salahnya. Pria itu pergi dari rumah juga karena salahnya.


Marvin menggertakkan rahangnya saat mendengar perubahan suara Sherina. Pria yang sudah mematangkan pilihannya itu, berusaha untuk tak menjawab pertanyaan Sherina.


"Aku minta maaf, aku bersalah. Aku seharusnya meminta izin darimu terlebih dahulu sebelum pergi. Pulanglah, aku akan menjelaskan semuanya." Isak tangis wanita itu tidak dapat dibendung lagi.


Dada pria itu seketika bergemuruh saat mengetahui jika Sherina menangis. Pria itu masih diam di tempatnya, meskipun tangannya sudah mengepal erat.


"Baiklah, jika kau tidak mau. Jangan berharap kau bisa bertemu lagi denganku dan anak kita, jika kau tak pulang sebelum pagi!"


Sherina terpaksa memberikan ancaman itu agar Marvin segera pulang. Tapi tubuh wanita itu seketika menegang saat mendengar suara berat Marvin setelah sejak awal tidak bicara sama sekali.


"Aku sudah berada di bandara. Aku akan pulang ke Indonesia." Marvin mengeratkan kepalan tangannya dengan napas yang mulai memberat.


Air mata wanita itu turun semakin deras, seiringan dengan napasnya yang mulai memburu. Bibir wanita itu mulai bergetar saat Marvin mengatakan jika dia hendak kembali ke negara mereka, saat ini.


"Vin," panggil Sherina tak percaya dengan suaranya yang begitu lirih.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik, ya? Aku titipkan putri kecilku padamu. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu." Sherina memejamkan matanya saat mendengar ucapan Marvin.


Sekarang giliran hatinya yang bergetar dengan hebat saat dirinya dapat merasakan betapa yakinnya pria itu saat mengatakan jika dia sangat mencintainya.


__ADS_2