
Sherina yang sejak tadi mengurus perabotan rumah dengan staf salah satu perusahaan furniture milik Marvin, mulai merasa kelelahan. Wanita itu menolehkan kepalnya ke samping, dan tersenyum bingung ketika melihat Marvin yang tengah menatapnya dengan begitu intens.
Menyadari jika Sherina tengah menatapnya, Marvin tersenyum miring. Pria itu tidak pernah bosan yang bahkan sejak tadi sudah menatap calon istrinya. Perasaan bahagia dan damai dirinya rasa akan selalu menghampiri dirinya.
Marvin bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Sherina dengan tangan yang langsung berada di pinggang ibu hamil tersebut.
"Semuanya sudah cukup? Jika sudah, tolong pastikan semua barang pesanan istri saya tiba sebelum malam hari tiba. Apakah bisa?"
Dengan cepat wanita tersebut langsung menganggukkan kepalanya, dan mengatakan jika semua barang pesan Sherina akan datang ke rumah sebelum malam hari tiba.
Terkejut, tentu saja. Tapi setelah mengetahui background calon suaminya tersebut, dirinya tidak lagi merasa kebingungan. Jangankan tentang perasaan, tentang pekerjaan pun jika Marvin mengatakan A maka dirinya harus mendapatkan A.
Tidak lama setelah kepergian staf tersebut, Marvin yanh masih berdiri di sebelah Sherina membalikkan tubuh Sheruna agar menghadapnya. Pria itu menatap lekat kedua mata Sherina dengan sangat tajam.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya pria itu singkat yang membuat Sherina mengerutkan keningnya.
"Kau menanyakan bagaimana perasaanku? Bahkan tanpa aku mengatakannya pun kau seharusnya tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku bahagia, Vin. Sangat bahagia." Sherina menjawab pertanyaan Marvin sembari mengelus lengan kekar milik pria itu.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu. Terima kasih karena sudah bertahan dengan perasaanmu, terima kasih karena masih mempertahankan, dan mungkin menjadikan aku hanya satu-satunya di hidupmu. Terima kasih juga karena sudah menerima perempuan sial ini dengan kedua tanganmu." Sherina berucap dengan tulus sembari membalas tatapan hangat dari pria itu.
"Jika kau mengatakan, kau ini perempuan sial, maka hal itu tidaklah benar. Kau justru membawa banyak keberuntungan untukku Dan aku rasa karenamu lah aku bisa berada di sini dan memiliki semuanya. Kau tahu aku bahkan sudah menyiapkan surat waris agar semua yang aku miliki saat ini, menjadi milikmu." Sherina terdiam ketika mendengar ucapan Marvin.
"Marvin ... tidak perlu seperti itu. Aku bukanlah siapa-siapamu. Aku tidak berperan dalam semua hal yang telah kau capai di hidupmu." Wanita itu tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Marvin.
"Tidak! Ini semua karenamu! Peranmu sangat besar, Sayang. Jika tidak karena mencintaimu, aku tidak akan pernah memulai usahaku. Dan jika tidak karena untuk mempertahankanmu, aku tidak akan bangkit dari keterpurukan setelah kau meninggalkanku."
Marvin memeluk tubuh Sherina, meskipun tubuh keduanya tidak bisa sama-sama rapat karena terhalang dengan perut Sherina yang sangat besar.
"Aku mencintaimu. Aku akan mencintaimu sampai akhir nanti. Terima kasih karena sudah memilihku." Marvin mengecup puncak kepala milik Sherina dan berharap agar wanita itu tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
__ADS_1
"Aku yang berterima kasih terima kasih karena kau sudah memilihku, dari banyaknya wanita sempurna yang pernah ada di hidupmu. Aku hanyalah gadis sederhana, yang hidup menggunakan kakiku sendiri, dan saat ini mungkin aku hanya akan menjadi beban bagimu. Aku hanya bisa menghabiskan semua uangmu," ucap Sherina dengan tawa di akhir katanya yang membuat Marvin tersenyum nakal.
"Beban untukku, kau bilang? Bahkan jika aku harus menghabiskan semua uangku untukmu, aku akan melakukannya."
"Tapi ingatlah, nona. Semua ini tidak ada yang gratis. Kau harus membayar untuk semua uang yang akan kau habiskan," sahut Marvin sambil menyentuh dinding mulutnya dengan lidahnya.
Sherina mengernyit tak paham dengan apa yang Marvin katakan. "Jadi kalau tidak ikhlas untuk menyerahkan semua uangmu padaku, berpikirlah sebelum terlambat," jawab Sherina mengimbangi apa yang Marvin ucapkan.
"Oh, jadi sekarang Sherina-ku ini sudah berniat untuk menghabiskan semua uang yang ku kumpulkan selama ini?" tanya Marvin semakin menjadi yang membuat Sherina ikut tertawa.
"Hei, apakah kau lupa calon istrimu ini terkenal karena ingin mengambil harta mantan suaminya. Apa kau tidak takut jika aku melakukan hal itu? Apa kau tidak takut semua uangmu akan habis padaku?" Sherina menaikkan sebelah alisnya yang membuat Marvin kini menggigit bibir bagian bawahnya.
"Tentu saja! Habiskan semua uangku maka selama itulah kau akan menjadi tahananku!"
Sherina mencubit lengan Marvin dengan sangat gemas karena semua ucapan yang dikatakan olehnya. Marvin mengerang saat merasakan sakit, ketika Sherina mencubit tangannya.
"Tentu saja. Aku akan melakukannya! Kita akan bersama hingga akhir nanti."
****
Sementara di bandara internasional Indonesia, seorang pria dengan wajah kantuknya berjalan menarik kedua kopernya. Diikuti oleh seorang wanita yang menggendong sebuah bayi di baby carriernya.
Melihatnya, beberapa orang yang ada di sekitar ruang tunggu bandara itu menatap kagum pada Ivander, yang dengan legowonya membawakan satu koper miliknya dan juga satu koper lagi milik pria itu. Jangan lupakan tas kecil berisi botol susu dan perlengkapan Kanwa yang lain.
"Lihatlah, semua orang mengira jika aku ini suami yang takut pada istrinya. Kau ini memang sangat payah! Saat aku memintamu untuk mendorong dua koper ini, kau justru memilih Kanwa sebagai alasan menolaknya!"
Anne yang mendengar ucapan Ivander itu, tertawa kecil. Dia lalu menyamakan langkah kakinya dengan Ivander, dan berjalan tepat di samping pria itu.
"Aku yakin seratus persen, jika kau masih bersama dengan Sherina, kau pasti akan ketakutan dengan wanita itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau akan menjadi seorang pria yang penurut."
__ADS_1
Ivander tidak menjawab, pria itu hanya melirik tajam pada Anne yang kini tertawa senang. Dia bahkan terkejut karena Kanwa ikut tertawa, meskipun tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan.
Beberapa langkah setelahnya seorang pria bertubuh kekar dengan setelan berwarna hitam, berjalan mendekati keduanya. Pria itu langsung mengambil alih koper yang dibawa oleh Ivander, dan mengarahkannya menuju mobil Mercedes Benz yang sudah terparkir di pinggir bandara.
"Kita langsung ke rumah baru kita," ucap Ivandar yang langsung diangguki oleh pria itu. Mobil berwarna hitam metalik tersebut, berjalan membelah jalanan ibu kota dan pergi menuju rumah baru yang sudah Ivander beli beberapa minggu yang lalu.
"Kau akan tinggal serumah denganku dan juga Kanwa. Selain itu kau juga akan memiliki partner bekerja, seorang pelayan yang sudah ikut dengan mamaku selama 10 tahun." Anne hanya mengangguk dan menyimak apa saja yang akan Ivander katakan padanya.
Satu jam setelahmya, mereka memasuki sebuah kompleks perumahan elit yang berada di pusat kota. Mobil tersebut membawa mereka menuju sebuah rumah dengan dominasi warna putih yang begitu besar.
Gedung 1B Fairview Villa.
"Kau ingin mengetahui sebuah fakta baru?" tanya Ivander setelah mereka berdua berhasil keluar dari mobil.
Anne hanya mengangguk dan menatap pria dengan kemeja putih yang dilipat hingga ke siku itu.
"Temanmu, Sherina rumahnya ada di seberang rumah kita." Ucap Ivander singkat kalau meninggalkan Anne yang terkejut mendengar ucapan Ivander.
Dengan cepat wanita yang tengah menggendong Kanwa tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap rumah dengan dominasi warna krem putih yang ada di seberang rumahnya.
"Benarkah!?" Tanya Anne menuntut, sambil mengikuti langkah besar Ivander yang hendak memasuki rumah.
"Apakah kau sengaja membeli rumah ini, agar kau bisa terus berdekatan dengan Sherina? Apakah hal ini bertujuan agar kau bisa mengetahui semua kegiatan yang dilakukan oleh Sherina dan suaminya?" Dengan penasaran, Anne dengan beruntun menanyakan hal konyol yang membuat Ivander langsung menghentikan langkahnya.
Pria dengan tatapan sengitnya itu, menatap Anne dengan tajam lalu menggelengkan kepalanua. "Isi otakmu terlalu kecil, sampai-sampai kau memikirkan hal tidak penting seperti itu." Ivander mencoba menyanggah apa yang Anne katakan.
Pria itu sengaja meninggalkan Anne sendiri, dan pergi membawa Kanwa yang ada di pelukannya. Wanita dengan rambut berwarna coklat muda itu masih terkejut.
"Aku yakin dia masih mencintai Sherina. Aku tidak akan pernah membiarkan pria itu merusak kebahagiaan Sherina dengan Marvin! Dasar pria bodoh!"
__ADS_1