
Sontak tubuh Anne menegang seketika, setelah mendengar samar-samar ucapan Ivander.
Apa yang sedang mereka bicarakan? Jujur saja Anne penasaran, tetapi adab yang benar adalah tidak mencampuri masalah orang lain yang sama sekali tidak membutuhkan dirinya.
Dengan dada yang terasa seperti ditekan kuat-kuat, wanita itu segera pergi dan masuk ke dalam kamar. Dia terduduk di bibir ranjang, membiarkan anak-anaknya bermain.
"Apa Ivander dijodohkan? Apakah ada yang salah denganku?" Anne bertanya-tanya pada dirinya, apakah ada yang kurang dari dirinya.
Sementara di bawah sana, Ivander seolah tersulut emosi setelah mendengar ucapan sang ayah yang memintanya untuk menikahi anak dari salah satu rekan bisnisnya.
"Tolong dengarkan penjelasan papa terlebih dahulu. Papa melakukan ini juga karena ada sebabnya, tidak dengan tiba-tiba memintamu untuk menikahi wanita lain." Papa Ivander sedikit terkejut ketika mendengar bentakan anaknya.
Ivander terkekeh mendengar ucapan papanya. Pria itu menggelengkan kepalanya, dan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang kedua orang tuanya rencanakan.
"Cukup rumah tangga Ivander dengan Sherina yang hancur karena campur tangan mama dan papa. Untuk kali ini, biarkan Ivander memilih hidup Ivander sendiri." Pria itu berkata dengan tegas, yang masih saja tidak membuat papanya berubah pikiran.
"Tidak bisa! Kau harus melakukan ini demi perusahaan kita. Demi masa depan keturunan mu!" Tak mau dilawan, pria itu masih saja terus berpegang teguh pada keputusannya.
"Ivan... Coba dengarkan penjelasan papa mu terlebih dahulu. Kami melakukan ini karena kami sudah memikirkannya secara matang. Dan untuk memperjelas semuanya, kau bisa juga membawa Anne kemari. Agar semuanya lebih transparan dan tidak akan ada yang merasa tidak dihargai, di sini."
"Tidak! Jangan membawa Anne ke masalah ini! Tidak ada yang perlu dia ketahui dari masalah sekecil ini, Ma, Pa! Dia sudah cukup banyak berkorban untuk hidup Ivander yang bahkan sudah hancur ini!" Ivander tetap saja berada di pendiriannya. Dia tidak ingin Anne memikirkan hal ini, yang bahkan tidak ingin dirinya bahas.
"Dengarkan Ivan, Ma, Pa. Ivan akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita. Apa yang papa katakan tadi, bukanlah masalah yang besar. Ivan pasti bisa mengatasinya." Pria itu mencoba meyakinkan kedua orang tuanya, dan berusaha untuk menolak permintaan gila kedua orang tuanya.
"Jangan bercanda, Van. Ancaman yang dia berikan akan cukup membuat kita kewalahan. Papa sudah mencoba untuk mencari opsi lain, tapi dia tetap tidak mau. Dia hanya ingin jika kau menikahi putri satu-satunya." Papa Ivander benar-benar tidak dapat mengalah. Dia terus saja memaksa putranya itu untuk menerima perjodohan bisnis itu.
"Pa, Ivander masih memiliki perusahaan lain. Saham yang Ivander sebar di beberapa perusahaan juga tidak sedikit jumlahnya. Jadi beri waktu pada Ivander untuk memikirkan semuanya. Papa hanya perlu bersabar dan percaya pada Ivander."
Mama Ivander hanya bisa menghela napasnya. Dia benar-benar bingung harus berpihak pada siapa. Di satu sisi, dirinya tidak ingin hidup anaknya kembali berantakan hanya karena dirinya merupakan anak satu-satunya di keluarganya. Tapi mengingat bagaimana perusahaan keluargalah yang akan menjadi taruhannya, membuat wanita itu semakin kebingungan.
"Van..."
"Papa tega menggadaikan hidup dan kebahagiaan anak papa, demi harta? Papa pikir Ivander tidak dapat memberikan perusahaan yang sama hebatnya seperti perusahaan yang papa miliki?"
Dan ya, akhirnya pria itu menyerah. Dia mengatakan jika Ivander berhak memilih apapun itu. Tapi tetap pada keputusannya, jika memang tidak bisa maka opsi menikah itulah yang harus diambil daripada kehilangan semua aset masa depannya.
__ADS_1
Setelah kepergian kedua orang tuanya ke kamar, Ivander segera naik ke atas. Menyusul Anne dan anak-anaknya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.
Pria itu membuka pintunya secara perlahan, dan melihat seorang wanita yang tengah duduk di ujung ranjang. Menatap kosong pada anak-anak yang tengah bermain.
Dia berjalan mendekat, dan menutup pintunya dengan begitu perlahan. Dia berdiri di sebelah Anne, dan mengelus puncak kepala wanita itu.
Anne mendongakkan kepalanya, dan hanya menunjukkan senyum tipisnya. Bagaimana pun, ucapan yang tadi Ivander dan kedua orang tuanya katakan berhasil membuat wanita itu berpikir berulang-ulang.
"Ada apa? Kenapa melamun, hm?" tanya pria itu, lalu duduk di sebelah Anne.
Anne tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dan terus memikirkan apa yang sudah dirinya pikirkan sejak tadi.
"Van... Aku sudah memikirkannya. Dan-"
"Tidak sengaja mendengar?" bisik Ivander yang tidak dijawab oleh Anne.
"Kita bicarakan nanti malam saja. Jangan terlalu banyak berpikir." Ivander mengelus punggung Anne dan mengecup keningnya dengan begitu lembut.
"Bisa carikan baju santai untukku? Aku tidak akan kembali ke kantor." Ivander merebahkan tubuhnya ke kasur, dan memeluk pinggang kecil milik Anne dari belakang.
Ivander menyembunyikan wajahnya sejenak di punggung kecil wanita itu, dan menghirup aromanya dalam-dalam. "Jangan tinggalin aku ya, Ann? Aku akan berusaha sebisa mungkin."
Sore harinya, Sherina yang baru saja pulang dari kantor itu berpapasan dengan Marvin yang juga baru saja tiba di rumah. Pria itu segera keluar dari mobil dan menatap Sherina sejenak, sebelum akhirnya pergi masuk ke dalam rumah lebih dulu daripada wanita itu.
Sherina sedikit bingung dengan sikap Marvin. Tapi berhubung dia tidak ingin ambil pusing, dia hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh, dan ikut melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Wanita itu berjalan masuk ke kamarnya yang berada di atas, hanya sekedar untuk mengambil pakaian santainya. Dan lagi-lagi dirinya harus berpapasan dengan Marvin yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi.
"Sherina, aku ingin bicara denganmu sebentar." ucap pria itu menghalangi jalan Sherina, yang membuat wanita di hadapannya tersebut menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Vin, aku lelah. Kau tahu jika aku baru saja tiba di rumah, bukan? Jadi ku mohon, jangan ganggu aku terlebih dahulu." ucap Sherina datar, lalu menyingkir dari hadapan Marvin dan segera mengambil bajunya.
Wanita itu bergegas keluar dari kamarnya, dan sebisa mungkin berniat untuk menghindari Marvin dalam keadaan apapun itu.
Sherina membasuh wajahnya dengan air dingin dan menatap pantulan wajahnya di cermin besar yang ada di hadapannya. Tidak bisa berbohong, wanita itu menangis dan memejamkan matanya untuk beberapa saat.
__ADS_1
Dia lelah seperti ini. Dia tahu ini semua tidak lain adalah logikanya yang terus menuntut agar dirinya melakukan semua ini. Tapi tidak dengan hatinya. Selama dirinya menghabiskan waktu dengan pria itu, dia tidak akan bisa mendiamkannya dengan begitu saja.
"Apa yang harus aku lakukan?" Sherina menundukkan kepalanya dan membiarkan air matanya terus berjatuhan.
Wanita itu terlalu asyik dengan dunianya, hingga tidak sadar jika Marvin masuk ke dalam kamar mandi dan menatap wanita itu dari belakang. Lama dia menatap, namun pria itu tidak dapat menahannya lagi.
Dia menarik tubuh Sherina dan mendekapnya dengan begitu erat. Rasa takut itu benar-benar menjalar dengan begitu cepat ke seluruh nadinya. Dia memejamkan matanya dan terus meyakinkan jika istrinya ini akan selamanya terus bersamanya.
"Maafkan aku... aku tidak ingin seperti ini. Aku butuh kamu, Sher." Marvin berucap dengan suara yang begitu berat.
Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, dan tidak ragu menunjukkan air mata dan tangisannya di hadapan Sherina. Dia benar-benar menyesal dengan semua kesalahan yang pernah dirinya lakukan.
"Kau bilang kau mencintaiku, bukan? Tapi kenapa kau berbuat seperti ini? Aku sakit ketika kau terus menerus mendiamkan aku seperti ini." Marvin kembali menangis di dekapannya istrinya.
Berbeda halnya dengan Sherina. Wanita itu seolah telah mati rasa dengan semua yang suaminya lakukan pada dirinya. Yang ada dipikirannya hanyalah, apa yang dilakukan oleh Marvin ini semata-mata hanya untuk tameng agar dirinya tidak terlihat salah dan di maafkan.
"Siapa yang mengatakannya? Aku tidak mencintaimu. Aku membencimu."
Sherina mencoba melepas pelukan erat suaminya yang ada di tubuhnya. Tapi tenaganya yang tidak sebanding dengan pria itu membuatnya hanya bisa pasrah.
"Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Apapun itu." Marvin menjadikan bahu istrinya sebagai tumpuan dagunya, dan menciumnya dengan begitu hangat.
"Asalkan kau berhenti bekerja. Dan tetaplah di rumah. Aku tidak ingin kau bekerja lagi. Tetaplah di rumah dan mengurus anak-anak kita. Aku mohon," imbuh Marvin dan langsung disambut dengan tawa ringan Sherina.
"Wow... jadi aku harus di rumah, tidak memiliki pendapatan dan entah bisa mengandalkan mu atau tidak di masa depan. Sementara kau bebas pergi ke kantor dan bertemu dengan siapa saja? Ternyata kau sangat licik, ya."
Marvin menarik tubuhnya dan tidak berekspresi ketika menatap Sherina. Dia melepaskan tangannya dari tubuh Sherina, dan membawanya masuk ke dalam saku celana.
"Baiklah. Lakukan semua yang kau mau. Aku tidak bisa melarangnya, dan aku tidak bisa marah akan hal itu. Nyatanya, akulah yang gagal dalam mendidik istriku sendiri." Marvin tersenyum licik, yang langsung ditanggapi oleh Sherina.
"Oh, tentu saja ini salahmu! Kau gagal mendidik istrimu ini karena terlalu fokus dengan cinta lamamu. Dan itulah yang benar!"
Tak menunggu lama, Sherina segera pergi dari hadapan Marvin. Dia menahan amarahnya dan bergegas keluar dari rumah.
Tidak ada yang menginginkan keluarganya menjadi berantakan seperti sekarang ini. Tapi apa boleh buat, Sherina tidak bisa hanya mengalah dan bertingkah seolah sudah melupakan semua yang sudah terjadi pada dirinya selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Tepat saat dirinya membuka pintu, langkah wanita itu seketika terhenti. Dia membeku ketika melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu, dengan bingkisan besar yang ada di kedua tangannya.
"Pak Kevin?"