Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 6


__ADS_3

Ivander dan Nessie yang mendengar ucapan bernada mengejek dari Sherina itu pun saling melempar pandang. Ivander benar-benar merasa sedikit asing dengan sifat Sherina yang sekarang.


"Aku sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Kau bisa mengatakan kepada mama dan papa dengan begitu mudahnya, bukan? Lalu apa yang kau maksud dengan berita terbaru dariku?" ujar Ivander dengan nada yang dirinya buat sedikit bingung, yang berhasil membuat Sherina tertawa sumbang.


"Kau masih bisa berdrama seolah kau sendiri tak mengetahui berita apa yang sedang membicarakanmu? Hei Tuan Ivander, aku rasa kau tak sebodoh itu sampai kau tak mengetahui apa yang sebenarnya ku maksud," jawab Sherina dengan sisa tawanya yang membuat Ivander dan juga Nessie terdiam.


Tangan besar milik laki-laki itu terkepal erat saat mendengar jawaban yang keluar dari bibir Sherina. Ivander merasa bahwa kini Sherina bukanlah wanita biasa yang dapat dia permainkan seperti dahulu. Ivander merasa bahwa dirinya juga harus merasa waspada dengan setiap pergerakan santai dari Sherina.


"Berapa lama kau akan pergi di dinas luar kotamu? Siapa tahu nanti aku masih bisa berbaik hati padamu, lalu menjawabnya kepada mama dan papa." Pertanyaan yang kembali Sherina lontarkan dengan nada yang begitu rendah.


"Satu minggu. Aku akan kembali ke kota setelah satu minggu. Sudah cukup karena kau mengganggu waktuku?" jawab Ivander sembari menahan sebuah rasa yang bahkan tak dapat laki-laki itu deskripsikan sendiri apa artinya.


"Kau memerlukan waktu satu minggu untuk perjalanan dinasmu itu? Baiklah, selamat bekerja untukmu dan juga rekan bisnisamu. Aku harap sekretarismu itu tak berbuat macam-macam padamu, ya? Satu pesanku, aku juga berharap besar agar kau tak menjumpai paparazi yang nantinya akan membuat skandal antara kau dan dia semakin runyam."


Setelah mengatakan hal tersebut, Sherina pun segera mematikan sambungan telepon antara dirinya dan juga Ivander. Wanita yang sudah dibuat emosi dengan permainan bodoh dari suaminya itu, segera melepaskan air pods yang sedari tadi menempel di telinganya.


"Bagaimana bisa laki-laki itu bertindak sok bodoh hanya untuk menutupi skandalnya yang sudah menyebar luas. Aku juga tidak habis pikir mengapa mereka juga bisa melakukan permainan bodoh seperti sekarang ini. Tanpa dijelaskan pun, aku bahkan sudah mengetahui bahwa mereka tengah pergi bersama." Sampai tak habis pikir, Sherina sampai dibuat geleng geleng kepala dengan kelakuan sang suami.

__ADS_1


Tak lama setelahnya akhirnya Sherina telah tiba di kantornya. Benar seperti dugaannya, mama mertuanya sudah kembali telepon dan menanyakan di mana keberadaan anka sululngnya itu.


"Ivan sedang ada dinas luar kota, Ma. Kemungkinan Ivan akan pulang satu pekan kemudian. Itu yang Sherina tangkap tadi," ucap Sherina kepada sang mertua yang hanya disambut oleh deheman dari mama Ivander.


Jangankan Sherina, bahkan mama kandung Ivander saja sedikit tak terima jika anaknya pergi dinas keluar kota. Terlebih lagi kini Sherina tengah mengandung, pikir mereka.


****


Lima hari telah berlalu, malam itu Sherina yang sudah bersiap untuk tidur merasakan suatu hal yang tidak seperti biasanya. Entah apa yang akan terjadi, tapi firasat wanita itu selalu tertuju pada suaminya.


Ingin menelepon sang suami pun, sama sekali tak terpikirkan oleh wanita itu. Wanita itu hanya berjalan di balkon kamarnya dengan perasaan ketakutan yang selalu mencuat.


Wanita berusia 22 tahun itu mencoba memastikan kembali, apakah nomor yang baru saja mengubunginya merupakan nomor pribadi milik sang suami atau bukan. Wanita itu lebih kebingungan saat mengetahui bahwa nomor tersebut sudah dia simpan di kontak dengan nama suaminya. Lalu mengapa suara yang baru saja mengajaknya bicara, bukanlah suara sang suami?


"Benar, dengan saya sendiri. Bisa saya tahu, mengapa Anda membawa ponsel milik suami saya? Di mana suami saya?" Dengan sedikit ragu, wanita itu mencoba bertanya alasan laki-laki itu sampai bisa membawa ponsel sang suami.


"Sebelumnya, saya meminta maaf jika saya lancang mengubungi nomor Anda. Saya salah satu petugas rumah sakit, yang bertugas untuk memberi kabar kepada Anda bahwa seorang laki-laki bernama Ivander telah dilarikan ke rumah sakit karena sebuah kecelakaan." Kabar tiba-tiba yang disampaikan oleh laki-laki itu, berhasil membuat Sherina terkejut.

__ADS_1


"Bagaimana hal itu bisa terjadi?! Di mana suami saya berada sekarang?!" Entah mengapa, rasa khawatir seketika memenuhi rongga hati Sherina.


"Posisi suami Anda sendiri, sekarang berada di rumah sakit kota. Saya akan menunggu kedatangan Anda untuk proses selanjutnya." Sherina yang tahu pun bergegas untuk segera pergi ke rumah sakit.


"Saya akan segera datang ke sana. Saya ucapkan banyak terima kasih karena Anda sudah memberitahu saya," ujar Sherina kemudian mematikan panggilan keduanya.


Dengan cepat, wanita itu mengganti pakaiannya dan bergegas keluar dari kamarnya.


Dan tak membutuhkan waktu lama, mobil mewah berwarna hitam metalic itu melesat menjauhi rumah yang sudah setahun ini menjadi tempat tinggalnya.


Setelah beberapa saat, Sherina akhirnya telah tiba di rumah sakit. Dengan segera Sherina melangkahkan kaki kecilnya menuju lobi rumah sakit. Meskipun malam hari, tetapi rumah sakit kota itu sama sekali tak terlihat sepi.


Wanita itu terus melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis. Tujuan wanita itu sekarang adalah menyocokkan identitas sang suami dengan korban yang dimaksud. Akhirnya setelah bertemu dengan petugas yang tadi menghubungi Sherina, didapatkan hasil bahwa benar, laki-laki yang mengalami kecelakaan itu adalah suaminya.


"Apakah saya sudah bisa menemui suami saya, sekarang? Jika sudah boleh, di manakah ruangannya?" tanya Sherina dengan keringat dingin yang sudah membasahi kedua telapak tangannya. Kegugupan wanita itu sama sekali tidak dapat dibohongi.


"Untuk kedua korban, masih berada di ruang UGD. Anda bisa menunggu di sana," jawab sang resepsionis wanita yang seolah paham dengan apa yang Sherina rasakan.

__ADS_1


"Dua? Jadi yang kecelakaan bukan hanya Ivander? Atau jangan-jangan Nessie?" lirih Sherina kepada dirinya sendiri, dengan jantung yang berdegup dengan kencang.


Dengan perasaan yang benar-benar sudah ketakutan, Sherina melangkahkan kakinya menuju ruang UGD yang ada di rumah sakit tersebut. Wanita itu duduk di kursi tunggu yang ada di ruang UGD dengan perasaan yang harap-harap cemas.


__ADS_2