
Pagi harinya, Sherina bergegas memasuki mobil yang akan mengantarkannya ke bandara. Wanita itu menatap sang suami dan juga Nessie yang bahkan sudah bersiap dengan baju pernikahan mereka.
"Berangkat sekarang ya, Pak." Sherina menghembuskan napasnya dengan begitu berat, sembari mengalihkan tatapannya dari sang suami.
Mobil yang pergi lebih dulu dari jalanan rumah itu, menarik atensi dari Nessie dan Ivander yang masih sibuk menyiapkan semuanya.
"Kau benar-benar membiarkan istrimu itu pergi dahulu, Sayang? Kenapa kau tak mengajaknya datang ke pernikahan kita saja? Bukankah itu terlihat lebih menyenangkan?"
Ivander yang mendengar ucapan dari calon istrinya itu, sama sekali tak menyahut. Nessie yang tak digubris oleh Ivander pun hanya terdiam.
Keduanya pun segera berangkat ke tempat di mana pernikahan mereka akan dilangsungkan. Memang tak mengundang banyak orang, selain karena waktunya yang begitu singkat, keluarga Ivander pun tak akan menyetujui jika mengetahui Ivander menikah kembali.
Sementara Sherina, wanita yang sejak tadi menggenggam cincin pernikahannya itu, perlahan meneteskan air matanya. Entah mengapa, pilihan yang dia ambil kali ini terasa begitu menyesakkan hatinya.
Dia mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor seseorang. Selama panggilannya masih berdering, tangan mungil itu semakin kuat menggenggam cincin pernikahannya dengan sang suami.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Sapaan di seberang sana berhasil membuat Sherina menghembuskan napasnya dengan begitu panjang.
"Pagi, Pak. Saya ingin mengonfirmasi atas permintaan saya kemarin. Tolong segera proseskan penggantian nama hak waris di surat-surat yang sudah saya kirimkan, menjadi nama suami saya. Jika memerlukan tanda tangan saya, kabari saja. Saya akan mengirimkan soft filenya kepada Anda.".
Wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya saat mengambil keputusan yang sangat besar itu. Dia memutuskan untuk mengembalikan apapun yang bukan menjadi haknya.
"Apakah Nona yakin tuan besar tidak akan marah? Lalu apa yang harus saya katakan pada beliau, jika beliau menanyakan tentang keberadaan Nona?" Pria itu mencoba meyakinkan Sherina, apakah keputusannya itu sudah sangat mantap atau belum.
"Saya sudah memikirkan hal ini matang-matang, dan saya menyerahkan semua ke bapak. Saya minta tolong agar bapak tidak menyebarkan nomor baru saya ke keluarga suami saya, nantinya." Sherina benar-benar mengharapkan kerjasama dari pengacaranya ini.
"Oh ya, Pak. Jangan lupa ajak papa dan mama saya ke tempat acaranya. Biarkan mereka menyambut menantu baru mereka. Bagaimanapun, Nessie lah yang akan melahirkan penerus di keluarga Ivander. Jadi dia juga harus diterima dengan sangat baik di keluarga suaminya."
"Lalu bagaimana dengan tuan besar jika mnegetahui semuanya, Nona? Apa yang harus saya jelaskan pada beliau?" tanya pria yang tak lain merupakan pengacara Sherina.
Sherina tahu apa yang dia lakukan ini dapat membuat kecewa kedua mertuanya. Tapi rencana yang sudah dia rancang sendiri ini, pasti akan lebih baik untuk semua pihak.
__ADS_1
Kedua mertuanya akan segera mendapatkan cucu dari Nessie, suaminya akan bahagia dengan wanita yang dia cintai, dan suaminya itu tak perlu lagi takut jika dirinya akan menjadi ancaman atas warisan papanya.
"Saya sudah memikirkan semuanya dengan begitu matang, Pak. Saya bersedia menanggung semua risiko untuk kedepannya. Dan untuk berkas pengajuan perceraiannya, saya minta agar bapak mengantarnya dengan segera. Agar saya nantinya dapat lebih tenang untuk menjalani hidup baru saya."
Sherina tahu, apa yang dia lakukan ini tidak sesuai dengan rencana awalnya untuk mempertahankan rumah tangganya. Tapi entah mengapa, dia tidak akan smapai hati jika anak yang Nessie kandung itu tidak mendapat apa yang seharusnya dia dapat dari kedua orang tuanya.
"Baiklah, sebagai tanda pengabdian saya kepada Nona, saya akan melakukannya. Apakah ada yang lain lagi, Nona?" Pengacara itu mau tidak mau menuruti apa yang Sherina minta.
"Sementara itu saja. Terimakasih banyak atas bantuannya, Pak."
Setelah mematikan panggilannya dengan sang pengacara, Sherina menatap jalanan yang belum terlalu ramai di depan.
Tangannya mengambil tiga tiket yang sudah suaminya pesankan untuknya, dan menatapnya sejenak. Lalu dengan segala keyakinannya, wanita itu merobek ketiga tiket itu dengan mantap.
"Selamat tinggal, Van. Aku berharap semoga apa yang kau pilih akan menjadi yang terbaik untukmu."
__ADS_1
Setelah membuangnya keluar jendela, wanita itu mengeluarkan satu tiket lain dengan senyum tipisnya.
"Aku datang, Jerman."