Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 133


__ADS_3

Marvin yang baru saja keluar dari kamar Sherina itu, mengernyitkan keningnya ketika melihat seorang pria yang berdiri di ambang pintu. Tatapannya beralih pada Sherina yang terlihat sedikit canggung, dan menatapnya seolah ingin memberitahunya sesuatu.


Bukannya datang dan menanyai apa keperluan Kevin datang ke rumahnya, pria itu justru berlalu dengan begitu saja dan naik ke kamarnya. Pria itu merasa jika keras kepala yang dimiliki Sherina, selamanya tidak akan pernah berubah.


Sherina yang melihat hal itu, sejenak terdiam. Ada rasa yang begitu menyakitkan ketika Marvin meninggalkannya dengan begitu saja. Ditatapnya pria bertubuh kekar yang mulai berjalan ke atas itu, dengan getaran aneh di dadanya.


Marvin terus berjalan, dan masuk ke dalam kamar. Tangannya dia gunakan untuk menutup pintu, dan menguncinya dari dalam. Sejenak Marvin memejamkan matanya, dan menghembuskan napasnya dengan begitu dalam.


Lelah. Itulah yang pria itu rasakan saat ini. Dia membuka kedua matanya, dan melihat ke sekeliling kamar. Kamar yang tidak pernah dimasuki oleh orang lain kecuali dirinya dan sang istri.


Kantung mata pria itu menunjukkan betapa beratnya pikirannya akhir-akhir ini. Marvin mendekat ke arah ranjang, dan mulai merebahkan tubuhnya. Dia menutup wajahnya dengan sebelah lengannya, dengan hembusan napas panjang.


Jujur saja, dirinya terkejut ketika melihat siapa yang datang ke rumahnya baru saja. Siapa yang tidak mengenal pria itu? Bahkan sekelas orang awam pun tahu siapa Kevin.


"Bersabarlah, Vin. Beri dia waktu." Marvin memutuskan untuk beristirahat. Hal itulah yang juga membuat dirinya ingin segera pulang, yang biasanya dia akan pulang larut malam.


Tidak terasa, air mata pria itu turun membasahi kasur ketika dia mulai terpejam. Marvin masih menahan semua beban berat itu di dadanya seorang diri.


'Lakukan apapun yang kau mau, Sher. Aku tidak akan pernah melarang apapun itu. Hanya ini yang bisa aku lakukan.'


Sementara Kevin dan Sherina yang sudah duduk di ruang tamu itu, mulai bercengkrama santai diluar pekerjaan. "Oh ya, papa menitipkan ini untukmu. Ucapan terima kasih karena sudah kembali ke perusahaan katanya."


Sherina tersenyum canggung dan menerima paper bag yang dibawa oleh Kevin. "Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot untuk melakukan ini, Pak. Saya yang berterima kasih karena masih diizinkan untuk bekerja di perusahaan bapak."


Keduanya kembali berbincang, seolah sudah saling mengenal untuk waktu yang lama. Hak itulah yang membuat Sherina secara tidak sadar mulai menceritakan semua hal tentangnya dan keluarganya ke pria yang duduk di seberangnya itu.


"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa mu. Semoga kau segera kembali benar-benar pulih." Kevin tersenyum tipis melihat wajah tanpa riasan milik wanita yang ada di hadapannya.


Tetapi ketika mengingat apa yang dikatakan oleh papanya, dan pria yang tadi sempat menatapnya, Kevin segera mengingatkan dirinya sendiri.


Lantaran tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Kevin akhirnya berniat untuk berpamitan. Dia diantar oleh Sherina hingga tiba di depan rumah. Wanita tersebut menganggukkan kepalanya setelah kepergian Kevin dari rumahnya.


Sherina menundukkan kepalanya, dan menatap barang pemberian dari atasannya itu. Dia benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk hal ini.


Mengingat hal tersebut, tiba-tiba Sherina teringat akan Marvin yang berlalu dengan begitu saja, tadi. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap kamarnya yang berada di lanta dua.


Entah mengapa, Sherina berpikir untuk datang ke kamarnya dan mencoba untuk berbicara dengan sang suami.


Dia berjalan menuju tangga dan mulai menaiki satu persatu anak tangga yang akan mengantarkannya ke kamar sang suami. Tetapi ketika ingat dengan apa yang sudah pria itu lakukan pada dirinya, seketika itu juga, Sheirna langsung menghentikan langkahnya.


"Tidak. Dia juga melakukan hal ini padaku. Jadi, biar saja. Kita impas, sekarang." Sherina mengangguk dan membawa bingkisan tersebut ke kamarnya.


****


Malam harinya, Sherina yang baru saja selesai memasak itu memanggil kedua putrinya dan juga menatap pintu kamar yang berada di atas, untuk melihat apakah Marvin sudah keluar dari kamarnya atau belum.


Tetapi ketika melihat jika pintu kamarnya belum terbuka, itu berarti Marvin belum keluar dari kamarnya. Hal tersebut nyatanya membuat wanita itu sedikit berpikir, apakah suaminya baik-baik saja.

__ADS_1


"Sayang, kalian makan dahulu. Bunda akan ke atas untuk memanggil ayah kalian," ucap Sherina mengelus puncak kepala milik kedua putrinya, dan berjalan mendekati tangga untuk melihat kondisi sang suami.


Setelah dirinya tiba di depan pintu kamar milik sang suami, wanita itu mencoba membuka. Tapi kening wanita itu mengernyit ketika tahu jika pintunya dikunci dari dalam.


Dia sedikit ragu apakah harus memanggil sang suami atau tidak. Jika tidak, ini sudah terlalu lama sampai-sampai Marvin belum juga keluar dari dalam kamarnya. Yang wanita itu takutkan adalah bagaimana jika sesuatu hal terjadi pada Marvin dan dirinya telat mengetahuinya.


"Marvin, apa kau masih di dalam?" tanya Sherina dengan suara yang tidak terlalu keras, dan belum mengetuk pintunya.


Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mulai mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kamar sang suami.


"Vin! Bisa kau buka pintunya?" Kali ini Sherina memanggil sang suami dengan nada yang cukup tinggi. Yang bahkan berhasil membuat kedua putri mereka menolehkan kepalanya ke atas, melihat sang ibu yang tengah mengetuk pintu kamar miliknya.


Sherina berulang kali memanggil nama Marvin dan terus mengetuk pintunya. Tapi lagi dan lagi tidak ada jawaban, atau bahkan suara kunci yang terbuka dari dalam. Hal tersebut benar-benar membuat Sherina semakin khawatir, dan berniat hendak meminta bantuan pada seseorang untuk membuka pintunya dengan paksa.


Tapi belum berhasil dirinya beranjak dari depan pintu, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dan menampilkan seorang pria dengan mata merah dan wajah lelahnya. Dia menghela napas, dan menelan ludahnya dengan susah payah.


Pria itu menatap Sherina sejenak, lalu kembali berjalan ke kasur dengan langkah beratnya. Dia ambruk dengan begitu saja, dan kembali memejamkan matanya.


Sherina sedikit terdiam melihat hal itu. Suaminya terlihat sangat kacau, dengan wajah gelapnya. Dia berdiri mematung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali menutup pintu.


Sherina bergegas menunggu kedua putrinya selesai makan, dan masuk ke dalam kamar. Setelah menyiapkan semua perlengkapan sekolah kedua putri kecilnya dan mengantarkan ke kamar, Sherina kembali ke ke meja makan dan menyiapkan makanan untuk Marvin.


Meskipun dirinya juga belum makan, tetapi entah mengapa rasa laparnya tiba-tiba menguap dengan begitu saja. Dia membawa nampan tersebut dengan hati-hati, dan perlahan membuka pintu kamarnya.


Dia menatap Marvin yang masih tertidur, lalu meletakkan nampannya di atas nakas. Wanita itu duduk di sebelah sang suami yang masih memejamkan matanya, dan menepuk punggung kekar itu dengan sedikit ragu.


Sherina masih bersabar dan terus melakukan hal itu berulang kali. Tapi karena semakin khawatir dengan kondisi Marvin yang terlihat begitu lelah, dan juga belum makan sedikit pun. Wanita itu segera memegang kedua lengan sang suami, dan mencoba membalikkannya agar dirinya dapat melihat wajah pria itu.


Ketika Marvin mulai terlentang, pria itu menghirup nafas dalam-dalam dan mencoba membuka matanya. Sejenak dia menatap wajah khawatir istrinya, lalu kembali memejamkan matanya. Dia tidak bisa menatap kedua mata istrinya dalam waktu yang cukup lama.


"Bangun sebentar. Aku sudah memasak untukmu. Makan dan kembali istirahat, setelah itu." Sherina menaikkan kedua alisnya ketika Marvin langsung membalikkan tubuhnya, dan memeluk perut kecil miliknya.


Marvin memejamkan matanya erat-erat dan terus memeluk sang istri. Nyatanya hal ini cukup membuat tubuhnya sedikit membaik. "Aku lelah."


Sherina merasa jantungnya berhenti berdenyut ketika mendengar suara lirih suaminya. Dia dapat merasakan jika apa yang Marvin katakan ini, benar-benar berasal dari dalam hati pria itu.


Sherina tidak menjawab. Dia hanya menahan rasa sesak luar biasa yang ada di dalam rongga dadanya. Dia menelan ludahnya dengan susah, lalu mengalihkan pandangannya.


Sherina yang merasa jika suhu tubuh suaminya sedikit panas itu, mengoba mengeceknya kembali dan memang benar, Marvin demam. Wanita itu menahan napas untuk beberapa saat, lalu menggeleng lemah.


"Makan dahulu makanan mu, lalu istirahat. Rasa lelahmu akan berkurang." Marvin diam, tetapi tidak ada penolakan dari ucapan datar istrinya itu.


Pria itu sedikit terbangun ketika Sherina hendak bangkit dari duduknya. Wanita itu hendak bangun dari ranjang, dan meninggalkan Marvin. Tapi dengan cepat pria itu menghentikannya.


"Aku sedang sakit. Tidak sudi kah kau tinggal lebih lama di sini? Setidaknya sampai aku selesai memakan makanan ku." Sherina mendadak berhenti dan memejamkan matanya.


Dia menghembuskan napas dalam-dalam, lalu berbalik dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. "Basuh muka mu terlebih dahulu, aku akan siapkan makanan mu."

__ADS_1


Marvin melakukannya dengan patuh, dan bergegas ke kamar mandi. Ketika kembali, dia naik ke atas ranjang dan duduk bersila di hadapan sang istri.


"Kau sudah makan?" tanya Marvin setelah mengambil sendok.


Sherina mengangguk berbohong dan mengalihkan pandanganya dari sang suami yang terus menatapnya. Dia membiarkan Marvin melahap makanannya, dan terus mengabaikannya.


Tapi nalurinya sebagai seorang wanita menolak. Dia menatap sang suami yang terlihat begitu senang menyantap makanannya. Tatapan dalam itu hanya dapat dirasakan oleh sesama istri, yang tengah menatap suaminya tengah makan.


Dan ketika melihatnya, tidak sadar air mata wanita itu turun dengan begitu deras tanpa perintah. Dia menggigit bibirnya dan melihat semua perubahan pada diri suaminya.


"Ini pertama kalinya kau memasak kembali untukku. Ini sangat en-" Marvin langsung menghentikan ucapannya, ketika melihat Sherina yang tengah menangis dan langsung memutus tatapannya dengannya.


Dengan cepat Sherina langsung bangkit dari duduknya, dan keluar dari kamar. Dia tidak bisa terus berada di dalam, dan memperlihatkan kesedihannya pada sang suami.


Sherina berjalan turun ke bawah dan masuk kamar mandi lalu mengunci pintunya dari dalam. Wanita itu meluluhkan tubuhnya ke lantai dan menangis jadi-jadinya. Dia tidak tahu, mengapa dirinya bisa berubah menjadi se emosional ini ketika melihat sang suami.


Di satu sisi dirinya masih merasa marah dengan semua perlakuan sang suami padanya. Tapi di sisi lain, dirinya juga merasa bersalah. Karena bagaimana pun, sang suami pasti membutuhkan perannya dan dirinya sama sekali tidak bisa melakukan hal itu untuk waktu yang cukup lama.


"Maafkan aku. Semua ini karena ku." Sherina terus menangis dan dan memuaskan untuk mengeluarkan air matanya di dalam kamar mandi.


Setelah merasa lebih tenang dan berhasil menata hatinya, wanita itu pun keluar dari kamar mandi. Dirinya menyiapkan kompresan dingin, yang akan dirinya bawa ke kamar sang suami.


Setelah membuka pintu, wanita itu tersenyum tipis ketika melihat jika suaminya sudah kembali terpejam. Dia perlahan masuk dan menyingkirkan piring kotor dan yang lainnya ke meja.


Dia naik ke atas ranjang, dan mulai mengompres kening sang suami. Dia menyugar rambut sang suami ke belakang, dan menempelkan handuk itu di keningnya.


Di kesempatan ini, Sherina berhasil menatap sang suami dengan begitu leluasa. Dia menatap mata dengan bulatan hitam di bagian bawahnya itu, dan turun ke hidung yang sangatlah mirip dengan kedua hidung putrinya. Dengan ragu-ragu, Sherina membawa tangannya, dan mengelus rahang tegas milik pria itu.


Entah apa yang merasukinya, wanita itu mendekat dan mengecup singkat puncak kepala milik sang suami. Dia menahannya sedikit lama, dan memejamkan matanya dengan sangat erat.


"Maafkan aku. Aku bersalah padamu."


Tidak terasa, air mata wanita itu kembali menetes. Sherina akui, dirinya terlalu lemah jika apapun itu menyangkut pria yang sangat dia cintai ini. Dia mengeluarkan sesak yang ada di dadanya dan memeluk sang suami yang sudah tertidur.


Wanita itu turun dan memeluk tubuh kekar milik sang suami sepenuhnya. Dia menangis tanpa suara, yang membuatnya semakin merasa sesak. Dia mencengkeram erat baju milik suaminya, dan menumpahkan semua air matanya di dada bidang milik sang suami.


Marvin yang benar-benar kelelahan itu, sama sekali tidak sadar jika sang istri berada di atas ranjang yang sama dengannya. Dia juga mengompres keningnya untuk mengurangi demamnya. Dan ya, wanita itu bahkan memeluknya dengan begitu hangat, yang mampu mengantarkannya menuju mimpi indah yang begitu menghangatkan dirinya.


Sherina semakin menangis tersedu ketika Marvin memiringkan tubuhnya dan membalas pelukan wanitanya. Dia membiarkan kompresan nya terjatuh, dan terus memeluk Sherina layaknya dirinya tengah diberi sebuah guling untuk menemaninya tidur.


"Kau pria kuat, Vin. Kau bisa bertahan selama ini." Sherina menatap sang suami dari bawah dan menyebutkan bibirnya ketika mengingat semua kejahatan yang suaminya lakukan padanya.


"Andai kau tidak berbuat labil dan meninggalkan ku ketika aku tidak sadar, mungkin hidup kita tidak akan serumit ini. Tapi kau justru memilih opsi kedua dan bahkan membawa mantan sekretaris licik mu itu."


Mengingat hal itu, tiba-tiba Sherina merasa jika ada yang Alissa sembunyikan. Dia mengingat dengan benar, hasil diagnosa itu benar milik wanita itu. Tapi bagaimana dia masih bisa hidup, setelah divonis tidak akan memiliki waktu hidup yang lama?


"Aku harus mencari tahu hal ini."

__ADS_1


__ADS_2