
Sesampainya di depan pintu, Sherina berhenti karena Marvin juga berhenti tepat di depan pintunya. Pria itu menyandarkan tubuhnya di tembok, dan mengisyaratkan Sherina untuk segera masuk.
"Masuklah, ini sudah terlalu larut. Aku minta maaf karena membawamu hingga malam," ucap Marvin dengan tulus yang langsung diangguki oleh Sherina.
"Kau tidak akan mampir terlebih dahulu?" tawar Sherina yang sudah berhasil membuka pintunya.
Marvin menggeleng. Pria itu segera mendorong tubuh kecil Sherina dengan perlahan, lalu membalikkan tubuh wanita itu.
"Tidurlah dengan lelap. Sampai jumpa besok." Dengan tangan yang mengelus puncak kepala wanita itu, Marvin tersenyum tipis.
Sherina mengangguk dan hendak masuk. Tapi tiba-tiba dirinya dicegah oleh Marvin. Pria itu menatap Sherina dengan wajah datarnya. Sherina bertanya-tanya, apa yang terjadi sampai Marvin menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Ada apa?" tanya Sherina dengan nada bingungnya, sembari membalikkan tubuhnya menghadap Marvin.
"Kau sudah menahan rokokku. Dan sekarang kau tak memberi gantinya, padaku?" Dengan wajah memelas, pria itu menatap Sherina dengan tujuan yang tersirat.
Sherina mengernyit. Apa yang dimaksud dengan gantinya, oleh pria itu. "Gantinya? Apa maksudmu?"
Marvin tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya pada Sherina. Wanita yang tingginya tak lebih dari pundak Marvin itu, sampai memundurkan wajahnya karena Marvin yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.
"Cium aku. Sebagai ganti karena kau mengurangi jatah merokok ku." Sherina terbelalak ketika mendengar ucapan Marvin.
__ADS_1
Dengan segera wanita itu memundurkan tubuh Marvin sembari menggelengkan kepalanya. Dengan cepat dia mengeluarkan dua benda milik Marvin itu, dan hendak memberikannya.
"Jangan bercanda, Vin. Kau ambil saja ini. Aku tak memaksamu, aku hanya memberi saran." Sherina menyodorkan kedua benda itu ke hadapan Marvin.
Marvin dengan cepat langsung menolak, dan tertawa tipis. Sherina menatap pria itu dengan wajah yang ditekuk. "Tidak, Sayang. Aku hanya bercanda. Aku senang melihatmu dengan wajah seperti tadi."
Marvin mengacak rambut sebahu milik wanita itu, lalu kembali tertawa. Sementara Sherina, dengan tatapan senangnya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Marvin.
"Kemarilah, berikan aku satu pelukan." Marvin meminta Sherina memeluknya sembari merentangkan kedua tangannya.
Sherina menatap Marvin sejenak, lalu mendekat dan memeluk pria itu. Marvin yang saat ini berhasil mendekap tubuh Sherina itu, mengecup puncak kepala Sherina berulang kali.
Sherina mengelus punggung kekar milik pria itu, sembari memejamkan matanya. Sherina sadar, dia akan sangat bodoh jika sampai kembali pada pria seperti Ivander. Ia bahkan sekarang diberikan pria seperti Marvin, yang memiliki segala yang dia butuhkan.
Pria yang menjadikannya sebagai prioritas, bukan pilihan. Pria yang menghormatinya, dan memperlakukan dia dengan begitu baik, padahal dulu dia tinggalkan. Dia akan sangat beruntung nantinya jika memang benar, Marvin lah yang akan bersamanya.
"Istirahat ya, Sayang. Sampai jumpa besok. Aku mencintaimu."
****
Pagi harinya, Ivander yang memiliki agenda untuk ke dokter kandungan bersama dengan Nessie itu, tiba-tiba mendapat pesan dadakan, jika dirinya memiliki rapat dadakan dengan perusahaan Sherina.
__ADS_1
Dengan berat hati Ivander mengatakan hal tersebut pada Nessie. Meskipun pada awalnya Nessie menolak, tetapi dirinya tahu, dari hal itulah masa depannya dan juga keluarganya bisa terjamin.
Setibanya Ivander di kantor Sherina, dirinya langsung berjalan menuju ruang rapat direksi. Ketika dirinya tiba di sana, Sherina dan yang lain ternyata sudah tiba di sana.
Beberapa dari mereka yang sudah berada di ruang rapat itu, masih belum mengerti megapa mereka harus menghadiri rapat dadakan ini. Termasuk juga dengan Sherina, dirinya juga dikejutkan dengan agenda rapat dadakan ini.
Beberapa saat kemudian, pemilik perusahaan pun tiba di ruangan. Semua orang bangkit dan menyambut kedatangan pria tersebut.
Pria yang tak lain adalah pemilik perusahaan itu, tahu jika dirinya terlalu terburu-buru mengagendakan rapat ini. Tapi mau bagaimana lagi, hal itu adalah permintaan dari orang utama yang saat ini tengah ditunggu kedatangannya olehnya.
"Sebentar lagi kita akan kedatangan investor baru kita. Aku minta maaf karena sudah membuat kalian harus menghadiri rapat dadakan ini. Dan Bu Sherina, saya mohon pimpin rapat ini dengan baik." ucap pria itu dengan nada yang penuh dengan kewibawaan, dan bergumam kecil sambil menolehkan kepalanya untuk berkata pada Sherina..
Ivander yang mendengar hal tersebut, menatap Sherina dengan tatapan menyelidiknya. Sementara Sherina, wanita itu benar-benar terkejut dengan adanya berita ini. Bagaimana bisa dia memimpin rapat dadakan ini tanpa bahan yang matang. Meskipun dia sudah pernah melakukan hal ini sebelum-sebelumnya, tapi dirinya selalu mematangkan semuanya.
"Baik, Pak." Meskipun sedikit gugup, Sherina mencoba memantapkan dirinya. Ini adalah tanggung jawabnya, dan hanya dia yang dapat melakukannya.
Setelah beberapa saat menunggu, semua orang dibuat menolehkan kepalanya ke arah datangnya seseorang dari pintu utama. Sherina dan Ivander yang melihat siapa orang itu, saling melempar tatap.
Sherina terdiam beberapa saat, dan menatap pria yang juga tengah menatapnya saat ini. Dengan langkah besarnya, pria itu mendekat dan tersenyum tipis di hadapan semua orang. Pria itu menjabat tangan dari pemilik perusahaan, sambil menatap Ivander.
"Inilah beliau. Pak Marvin, calon investor di perusahaan kita, yang akan bergabung dengan kita semua."
__ADS_1