Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 50


__ADS_3

Wanita yang sejak semalam belum memejamkan matanya itu, mulai menelan salivanya. Perlahan dia menolehkan kepalanya ke samping, menatap pria yang saat ini tegah memeluknya dengan begitu erat.


Sherina sudah lelah menangis. Wanita itu mencoba untuk bangun, meskipun dirina merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Ringisan kesakitan wanita itu sempat membuat Marvin bergerak. Tapi dengan segera Sherina langsung mengatupkan bibirnya.


Setelah berhasil turun dari atas ranjang, Sherina segera mencari pakaian yang ada di almari pria itu, dan menjumpai pakaian lamanya di sana.


Dengan cepat Sherina memakainya, dan mengemasi barang-barangnya. Dia sempat menatap pada Marvin yang masih bergelung di bawah selimut, sebe;um akhirnya dia keluar dari kamar milik pria itu.


Sherina memesan taksi yang akan menjemputnya tepat di depan rumah Marvin. Tatapan kosong wanita itu, mengatakan jika kini dia benar-benar merasa kecewa dengan pilihannya.


"Kau terlalu naif, Sher. Kau salah menilai pria itu," lirih Sherina begitu menyesal yang langsung disusul dengan air matanya.

__ADS_1


Tak lama setelahnya, taksi yang tadi dirinya pesan, telah tiba. Sherina segera masuk, dan menatap rumah berwarna putih dengan dua lantai itu.


Dia meminta driver taksi tersebut untuk mengantarkannya ke apartemennya. Selama perjalanan kembali ke rumahnya, Sherina menggenggam cincin pemberian Marvin yang masih terpasang di jari manisnya.


Setelah tiba di depan apartemen, wanita itu segera turun. Dia berjalan dengan wajah sembabnya, sembari menundukkan kepalanya.


Selama di dalam lift, wanita itu kembali menitikkan air matanya. Dia tak menyangka jika apa yang seharusnya dia berikan pada suaminya, kini direnggut oleh pria lain.


Setelah keluar dari lift dan hendak berjalan menuju unitnya, dari kejauhan dia melihat Ivander yang sudah berdiri tepat di depan pintunya.


"Sher, aku ingin meminta maaf padamu. Aku mabuk, semalam. Aku benar-benar tidak sadar jika sudah melakukan hal itu padamu. Aku minta maaf," ucap Ivander penuh penyesalan sembari menatap kedua mata milik Sherina.


Tidak ada emosi di dalam tatapan wanita itu. Hanya sebuah tatapan kosong yang dirinya dapatkan saat menatapnya.

__ADS_1


"Sher, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melelehkanmu," imbuh pria itu lagi dengan tatapan penuh harapnya.


Sherina tak menjawab. Dia hanya menatap kedua manik mata milik Ivander dengan rasa kecewa yang begitu besar. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca.


'Andai saja kau bisa menerima pernikahan kita, dan belajar mencintaiku. Andai saja kau memberikan kesempatan padaku untuk membuatmu jatuh cinta. Dan andai saja kau tak menghamili Nessie, maka aku tidak akan bercerai denganmu! Semua ini tidak akan terjadi padaku!'


Sherina berteriak dengan putus asa dalam hatinya. Dia lelah dengan takdir yang selalu menghajarnya. Dan semua ini terjadi padanya, atas andil suaminya.


"Sherina?" Ivander mencoba menyentuh bahu Sherina, tapi dengan segera wanita itu langsung menangkisnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Sherina langsung masuk ke dalam rumahnya. Ivander yang melihat guratan kekecewaan dalam diri wanita itu, hanya bisa menghembuskan napasnya.


"Aku memang bodoh!" Sesal Ivander sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.

__ADS_1


Setelahnya, pria itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dia yang belum menjumpai Nessie pulang sejak semalam itu, sengaja mengganti pin rumahnya. Berharap agar wanita itu tidak dapat masuk ke dalam.


"Kau pikir aku tak tahu dengan apa yang kau lakukan, hm?"


__ADS_2