Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 100: Mimpi Terbang


__ADS_3

Ryan mengamati dengan takjub sosok sang papa dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Papa?” serunya sambil memeluk erat sang papa.


Rasa kangen pun memuncak meskipun mereka baru berpisah beberapa minggu lamanya.


“Papa tau pasti terjadi sesuatu denganmu,Nak. Untuk itu papa datang kemari,”kata papa sambil mengelus puncak kepala Ryan.


“Sepertinya aku lebih baik pindah apartemen. Mereka bukan teman-teman yang cocok untukku,”kata Ryan dengan wajah kecewa, bibirnya membentuk lengkungan ke bawah.


Robert Sanders terdiam sejenak,alisnya dinaikkan karena keheranan, namun akhirnya ia maklum.


“Jadi…Kau ingin tinggal di apartemen sendirian aja?”


“Lebih baik begitu,Pak.”


“Dasar keturunan vampire!”seru sang papa terkekeh.


Ryan pun ikut tergelak, matanya menyipit hingga air matanya keluar saking kegelian.


“Omong-omong,papa bawain Ryan susu warna merah lagi kan? Apakah Ryan masih bisa berlari menemui Maya?”


“Bisa. Tapi butuh energi yang sangat besar dan tak boleh terlalu sering,”sahut papa sambil merapatkan tubuh ke dinding di lorong itu.


“Alasannya apa,Pa?”


“Karena kamu sudah mendekati manusia. Lakukan hanya dalam keadaan mendesak.”


“Papa pamit dulu. Besok papa carikan apartemen baru dekat kampus yang one bedroom,”pamit sang papa sambil melesat pergi.


Ryan belum sempat mengucapkan salam perpisahan, papa sudah menghilang dari pandangannya. Cowok itu kembali ke apartemennya, membersihkan badan dan menarik selimutnya.


Pagi harinya, Ryan membuka matanya setelah di luar kamar terdengar suara riuh rendah dari teman-temannya. Ia membuka pintu sedikit dan mengintip dari balik pintu. Dibukanya daun telinganya lebar-lebar, terdengar percakapan Tyo dan Jeff dalam keadaan setengah mabuk.


“Memuakkan!”pekik hati Ryan sambil menutup pintu pelan-pelan agar tidak ketahuan dua temannya.

__ADS_1


Cowok itu sungguh tak tahan lagi tinggal bersama dua cowok yang sama-sama menyukai dunia malam. Dirinya sungguh tak terbiasa dengan kehidupan macam itu meski ia termasuk bukan cowok alim, terkadang badung dan cuek. Ryan masuk ke kamar mandi dan mencuci muka, ditatapnya wajahnya yang memucat. Bergegas ia teringat kiriman susu dari sang papa, dibukanya kulkas kecil yang terletak di sudut kamarnya. Diambilnya dua sachet susu warna merah yang masih dingin, dibukanya tutupnya dan diminum sampai habis.


“Segarnya…Rasanya tubuh ini makin kuat dan bersemangat,”batinnya sambil membuang bekas pembungkus susu ke dalam tong sampah kecil di dekat pintu kamar mandi.


Diliriknya jam dinding yang terletak di dinding, “Jam lima pagi. Whoam…masih ngantuk.”


Ryan pun tertidur kembali, dalam lelap tidurnya ia bermimpi berkelana dengan terbang menjelajahi aneka negara dari angkasa. Ia terbang di antara awan-awan putih yang bergumpal-gumpal di angkasa, kemudian ia melesat ke bawah dan dilihatnya burung camar yang terbang dengan mengepakkan sayapnya lebar-lebar, datang lagi burung camar yang lain yang terbang di sekeliling tubuh Ryan. Ditebarkannya pandangan ke bawah, dilihatnya atap-atap gedung yang menjulang tinggi ke angkasa, stasiun pemancar, landasan helicopter, danau, lautan, sungai, gunung yang nampak biru kehijauan, pepohonan, dan manusia yang nampak sangat kecil. Ia teringat Maya, kekasihnya yang mungkin saat ini sedang disibukkan dengan kuliahnya.


Dikerahkannya seluruh tenaganya untuk terbang lebih jauh lagi melintasi benua, kepalanya terasa pusing ketika melewati samudera yang sangat luas. Ada perasaan takut terjatuh dan tenggelam karena ombak yang sangat besar di dalamnya. Ryan memejamkan mata dan terus terbang menggunakan kekuatannya. Hingga dirasakannya udara di sekitarnya makin panas, rupanya hari makin siang dan ia memasuki daerah beriklim tropis. Dibukanya matanya, di bawah dilihatnya puncak Tugu Monas yang berkilat ditimpa cahaya mentari. Emas di atasnya berkilau-kilauan dilihat dari angkasa.


“Itulah kebanggan negeriku!”pekik Ryan.


Sejenak ia teringat kini kekasihnya sudah berada di kota lain, Ryan pun meneruskan terbang ke Jogja. Dilihatnya gadis itu masih berada di kamar kosnya siang itu, mungkin ada jeda waktu sehingga ia bisa kembali ke kos sebelum melanjutkan mata kuliah berikutnya.


“Tok…Tok…Tok…”


Ryan mengetuk kaca jendela kamar kos milik Maya yang berada di lantai dua. Namun gadis itu masih berkutat dengan laptopnya. Rupanya Maya sedang mengamati modul baru yang dikirimkan melalui website kampus. Ryan pun mengulangi ketukannya dengan suara yang lebih keras.


“Tok…Tok…Tok….”


“Kreek…”


Daun jendela pun dibuka, Ryan masuk melalui jendela itu, di depan kamar Maya ada sebuah balkon kecil tanpa pintu, hanya ada sebuah jendela berbentuk persegi panjang yang sangat tinggi sehingga sekilas bentuknya mirip sebuah pintu kaca yang sangat panjang.


“Ryan? Betulkan itu kamu? Bagaimana caranya kamu sampai kemari?”tanyanya keheranan sambil tertawa.


“Aku…Aku terbang melintasi benua,May.”


“Yang benar?”


Ryan hanya menganggukkan kepalanya, wajahnya tampak makin tampan,kulitnya semakin terang dan bola matanya bersinar indah dinaungi sepasang alis yang lebat.


Mereka pun berpelukan dengan sangat erat melepaskan kerinduan yang selama ini mereka rasakan. Maya melepaskan pelukannya, lalu mempersilakan Ryan duduk di kursi meja belajarnya, sementara itu ia duduk di tepi tempat tidurnya. Ryan memandang wajah kekasihnya, masih seperti dulu,nyaris tanpa polesan namun tetap cantik alami.


“Bagaimana kuliahmu,May?”

__ADS_1


“Baik…Lancar kok. Hanya belum lama ada kejadian kecil di kos. Ada teman yang keserempet mobil sepulang kerja.”


“Kuliah sambil kerja? Padahal FKU kan padat kuliahnya.”


“Begitulah. Dia anak Bidikmisi.”


“Oh..Kasian ya. Semoga cepat sembuh.”


Maya berjalan ke arah meja kecil yang terletak di sebelah lemari pakaiannya, diambilnya sebuah botol kecil berisi air mineral dan diberikannya pada Ryan.


“Minum dulu. Pasti kamu kehausan. Mau aku pesankan makanan?”


“Terima kasih,May. Aku gak lapar kok. Cuma kangen pengen liat kamu.”


Maya tersenyum dan tertunduk malu, pipinya semburat kemerahan.


“Trap…Trap….Trap…”


Terdengar suara ayunan kaki yang mengenakan sandal jepit beradu dengan lantai keramik di depan kamar.


“Itu pasti art kos sini. Aduh… Ada larangan memasukkan laki-laki ke dalam kamar,”seru Maya.


Ryan kaget sehingga tersedak ketika sedang minum air dari dalam botol. Cowok itu buru-buru menutup mulutnya agar suara yang keluar bisa tertahan. Maya buru-buru menarik tangan Ryan dan menyuruhnya bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ryan pun membungkukkan badan untuk bertiarap masuk ke bawah tempat tidur.


“Duuk…”


Cowok itu meringis sambil memegangi kepalanya yang terantuk bagian bawah tempat tidur kayu yang keras itu, rupanya kolong tempat tidur itu terlampau pendek sehingga terlalu sempit untuk dimasuki tubuh manusia.


“Sstt…Lewat sini aja. Buruan,”bisik Maya sambil menyeret Ryan ke arah jendela.


“Yaudah kalau gitu aku balik ke Amerika lagi aja deh,”bisik Ryan melangkahkan kakinya keluar balkon.


Sayangnya ia tergelincir karena terburu-buru, dan Ryan terjatuh ke atas rerumputan.


“Bruuk…”

__ADS_1


Ryan mengaduh dan membuka matanya, matanya menerawang langit-langit kamar di apartemennya.


__ADS_2