Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 35 : Di Peternakan


__ADS_3

Maya membuka jendela mobil dan mencari-cari minimarket yang buka di sepanjang jalan menuju peternakan sapi perah milik Om Robert,papa Ryan. Di kanan kiri jalan banyak pepohonan dan rumput hijau. Perumahan penduduk terlihat berjarak, bukan berhimpitan seperti layaknya perumahan di kota. Masih banyak binatang ternak seperti :ayam,bebek, dan kambing yang berkeliaran di sekeliling rumah. Gadis itu memejamkan mata dan membiarkan udara segar masuk ke dalam mobil.Meskipun hari telah siang,namun udara tak terasa panas. Mentari tampak bersembunyi di balik awan.


“Gausah buka,May. Debu masuk lho,”tegur Ryan lalu kembali fokus di belakang kemudi.


“Kacanya gelap. Gak keliatan kalau gak dibuka,”sahut gadis itu sambil menutup kembali jendela mobil.


“Kita cari warung makan aja. Minimarket agak jarang di sini. Tuh..di depan ada warung makan.”


Di sisi kanan jalan terdapat sebuah warung makan yang bersebelahan dengan sebuah warung sembako. Dindingnya terbuat dari batu bata yang telah diplester aci putih dan sebagian lagi masih berupa dinding kayu, sementara itu lantainya berupa ubin tegel polos.


“Aku sendirian aja ya..Cuma bentar kok.”


“Jangan lama-lama,May!”


Maya nampak mencari-cari siapa pemilik warung sembako yang sedang berjaga.


“Assalamualaikum….”sapanya.


Tak ada jawaban dari dalam meski telah menunggu lima menit. Nampaknya sang pemilik sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Warung sembako tampak sepi, gadis itu melangkah ke rumah sebelahnya yang berupa sebuah warung makan. Hanya ada beberapa piring lauk pauk sederhana yang berada di etalase kaca warung makan.


“Wa'alaikumussalam” jawab seseorang dari dalam.


Maya penasaran dengan pemilik warung ini yang tak menampakkan diri, sementara lehernya sudah terasa kering.


“Bu…Pak…Saya mau beli air mineral botolan,”teriaknya agar didengar dari dalam.


Maya semakin tidak sabar ketika taka da jawaban dari pemilik warung. Diketuk-ketukkannya sekeping mata uang logam ke sebuah toples berisi bungkusan kacang goreng sehingga menimbulkan bunyi nyaring.


“Ting…Ting….Ting…”


Tak lama kemudian muncullah suara seperti bunyi sandal diseret,”Srek..Srek…”


Seorang ibu tua bertubuh kurus dalam balutan kebaya kutu baru berwarna kuning gading dengan rambut tertutup kain muncul dari dalam. Wajahnya penuh dengan lipatan keriput yang sangat dalam,tangannya nampak berkeriput dan urat-urat tangannya terlihat menonjol. Ia menyerahkan sebuah botol air mineral dengan merk tak biasa.


“Ini uangnya Bu,”katanya sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan.


Maya berlari buru-buru ke mobil, namun ibu tua itu berteriak mengembalikan kembalian uangnya.


“Ambil aja sisa uangnya,”teriak gadis itu sambil menengok ke belakang.


“Kok lama banget sih?”tanya Ryan sambil mengrenyitkan alis.

__ADS_1


“Iya ibunya lama banget,mungkin mulai berkurang pendengarannya.”


“Oh..Yaudah. Cepetan masuk.Kita hampir sampai kok.”


Mobil melaju dengan kecepatan sedang,Ryan nampak sangat menikmati alunan musik seorang penyanyi barat yang diperdengarkan dalam mobilnya. Kepalanya tampang bergerak mengikuti irama lagu dan mulutnya ikut mengumandangkan syair lagu. Gadis itu hanya tersenyum melihat kelakuan cowok di sebelahnya. Tak terasa mobil memasuki area peternakan yang sangat luas ditumbuhi dengan aneka pepohonan dan padang rumput luas menghijau. Dari kejauhan tercium bau ammonia, suatu hal yang biasa bila berada dekat dengan kumpulan binatang dalam jumlah sangat banyak.


“Yuk,May. Memang agak bau kalau di peternakan sapi. Ditahan aja jangan sampai muntah,”ledek Ryan sambil tertawa.


Maya hanya menatap dengan kesal. Gadis itu mengikuti langkah Ryan yang lebar-lebar dari belakang. Mereka melintasi kendang-kandang dan berhenti pada kendang yang berada di tengah.Si ganteng menarik tangan Maya untuk melihat kumpulan sapi itu dari jarak dekat.


“Ini namanya sapi Friesian Holstein. Ukurannya hampir sama dan warnanya item putih.”


“Iya..Persis seperti dalam iklan susu di televisi.”


“Hati-hati,May. Sebentar lagi mereka akan dimandikan.”


Seorang penjaga membawa gulungan pipa air dan menariknya secara memanjang sehingga pipa warna hijau itu menjulur panjang. Lalu ia menyalakan keran air dan menyemprotkannya kepada sapi-sapi itu satu persatu sehingga jalanan dekat kendang menjadi basah.


Ryan berjalan di depanMaya dengan langkah cepat sehingga gadis itu tertinggal di belakang.


“Buruan,May! Sebentar lagi mereka akan diperah susunya,”seru Ryan sambil terus berjalan.


“Ryan tolong aku!”pekik Maya tiba-tiba.


“Ups…”


Gadis itu berhasil ia selamatkan. Kini Maya yang nyaris terjerembab berbalik jatuh dalam pangkuannya, sehingga gadis itu menatap dengan takjub ke arah Ryan, matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Si cogan tertawa lalu menurunkan gadis itu di tanah yang kering.


“Sungguh ajaib! Barusan aku jadi seperti pemain sirkus,”seru Maya dengan bola mata berbinar.


“Itulah keajaiban,”sahut Ryan sambil terkekeh.


Gadis itu merasakan ada sesuatu yang istimewa dari Ryan yang membedakannya dari manusia lain, entah mengapa ia makin merasa kalau cowok itu adalah sosok idamannya, bertanggung-jawab dan melindungi. Maya tak lagi peduli akan sisi misterius dari Ryan, bukan ketampanan atau keindahan fisik cowok itu yang memikatnya namun karena cowok itu berkali-kali berhasil menyelamatkannya.


“Udah deh naksirnya. Jangan liatin aku macem itu ah..”ledek Ryan.


Maya pun menimpuk bahu cowok itu dengan tangan kanannya, namun Ryan dengan gesit telah berlari sehingga terjadi kejar-kejaran.


“Ryan…Awas ya kalau tertangkap!”teriak Maya sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya.


Langkah Ryan terhenti sejenak dan kembali meledek gadis itu dari kejauhan.

__ADS_1


“Ayo kejar kalau bisa,”katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan larinya.


Gadis itu terus mengejar dengan sekuat tenaga dan berbelok di tikungan.


“Bruuk…”


Maya jatuh terduduk menabrak seorang laki-laki yang membawa ember berisi mesin pemerah susu sapi.


“Aduh…”seru Maya sambil memegangi lututnya yang terantuk batu.


Laki-laki itu mengangkat wajahnya,”Maafkan aku,Neng.”


“Mas Budi?”seru Maya sambil meringis menahan sakit.


“Neng Maya main ke peternakan?”tanyanya keheranan.


Ryan pun tersadar ia kehilangan jejak Maya dan menghentikan langkahnya. Si ganteng berlari ke arah pertama ia kejar-kejaran dan celingukan mencari Maya.


“May…Maya kau dimana?”teriaknya.


Dari kejauhan ia melihat gadis itu masih terduduk sambil meringis. Di dekatnya ada karyawan sang papa sedang memungut sebuah benda yang terjatuh dan memasukkan ke dalam ember.


Ryan memapah tubuh Maya untuk bangkit dan memperhatikan luka-luka di lutut Maya.


“Lukanya gak sampai berdarah kok,May. Cuma tergores.”


“Mas Budi kerja di sini?”tanya Maya pada Mas Budi.


Laki-laki itu menganggukkan kepala sambil tersenyum,”Iya,Neng. Kapan-kapan main ya ke kontrakan saya. Wati kebetulan ada di rumah,cuti kerja dua hari.”


“Jadi kalian sudah saling kenal?”tanya Ryan sambil mengangkat alisnya.


“Dia mantu Pak Suminta yang nolongin aku pas jatuh ke jurang,”ungkap Maya sambil memandang wajah Ryan.


“Oh begitu. Yaudah Mas,saya mau obati luka Maya dulu,”pamit Ryan pada Mas Budi.


Laki-laki itu menganggukkan kepala dan kembali berjalan ke arah kendang untuk memerah susu sapi.


Ryan membawa Maya kembali ke mobil dan membuka kotak P3K untuk mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan luka tergores di lututnya.


“Kita ke rumah Mas Budi besok lagi aja,May. Takut kemalaman,”kata Ryan.

__ADS_1


Maya mengangguk sambil meringis menahan sakit.


__ADS_2