
Malam makin senyap, langit gelap hanya bertaburan bintang-bintang sebagai penerang. Hanya ada suara jangkrik dari kejauhan. Papa mondar-mandir di depan pintu kamar Alisha. Sebuah pintu kamar yang terbuat dari kayu jati berukir, yang tiap dibuka tutup akan terasa berat dan menimbulkan suara berdebum. Mama membuka pintu kamar, mengenakan lingerie three pieces panjang berwarna merah maroon,berdiri terpaku menatap suaminya. Wajahnya tanpa polesan namun tampak cantik alami dengan sulam alisnya yang nampak natural.
“Papa belum tidur?”sapanya pada laki-laki paruh baya bergaris rahang tegas dan dada bidang yang tampak gelisah.
“Gimana bisa tidur,Ma? Papa sedang berusaha memenuhi janji pada terhadap Alisha.”
“Janji yang mana sih,Pa?”
“Masa kamu lupa,Ma? Janji buat sembunyiin mobil BMW putih milik anak kita,Ma.”
“Oh itu…Yuk kita selesaikan dalam kamar aja,”ajak mama sambil merangkul bahu papa ke dalam kamar.
“Tapi…Ah..Papa gak tega kalau belum lapor ke Alisha.”
“Anak itu pasti sudah tidur,Pa. Lihat ini sudah jam 11 malam.”
Akhirnya derap kaki mereka terendus oleh Alisha yang ternyata masih terjaga. Besok adalah ulangan Biologi sehingga gadis itu berjuang mati-matian agar nilainya bagus sesuai harapan kedua orang tuanya.
“Papa…”seru Alisha ketika melihat sosok papanya berbalik dari depan pintu kamarnya dan berjalan kembali ke kamar kedua orang tuanya.
“Belum tidur,Nak?”
Langkah papa terhenti dan berbalik ke kamar Alisha diikuti sang mama.
“Bentar lagi,Pa. Jadi mobil yang itu masih di rumah ini? Bagaimana kalau polisi tiba-tiba mengecek kemari?”tanya sang putri dengan raut wajah cemas.
“Sudah diinfokan ke semua satpam untuk tidak sembarangan terima tamu kalau mama papa gak di rumah. Lagian BMW putih udah dikunci di garasi.”
“Tapi itu belum aman juga,Ma.”
“Itulah..Papa sedang cari cara agar mobil itu dibawa jauh dari rumah kita.”
“Udahlah.Kamu tidur aja. Besok jangan terlambat ke sekolah. Urusan mobil serahkan ke mama papa. Okay?”
__ADS_1
Alisha mengangguk dan menutup pintunya kembali. Di dalam kamar sejuta perasaan gundah gulama berkecamuk jadi satu.
“Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan ketahuan juga. Ini yang menakutkan,”batin Alisha sambil membenahi buku-buku yang berserakan di atas meja belajar.
Di kamar papa..
“Kita harus cari cara, Ma. Kalau mobil itu tetap di sini anak kita bisa masuk bui.”
“Mama banyak anak buah yang bisa urus supaya anak kita bisa tetap bebas,Pa.”
“Tapi untuk itu mama harus keluarkan uang ratusan juta!”seru papa sambil *******-***** jari jemarinya sendiri sambil terus berpikir keras.
Mama berusaha menenangkan pikiran papa dengan memijit pundak laki-laki yang telah menemaninya hidup hampir dua puluh tahun lamanya.
“Papa yang sabar ya! Pasti ada solusinya. Gak perlu dengan marah-marah.Ingat kita makin tua,Pa.”
Papa berusaha untuk tersenyum lalu meraih tangan mama dan mendudukkannya dalam pangkuannya. Mereka masih romantis di usia yang makin menua meskipun siang harinya mereka sangat sibuk. Malam pun makin larut dan udara di dalam kamar semakin dingin. Papa mamanya Alisha akhirnya mengambil keputusan untuk tidur dan melanjutkan rencananya esok pagi.
Di ruang makan keluarga Alisha…
“Mengapa kau berkelit dari komitmenmu sendiri,Nak?Kita kan sudah janji.Sampai masalahnya selesai,”kata sang papa sambil mengelap sendok dan bersiap sarapan.
Mama memberi kode agar para art menyingkir,wanita itu merasakan bakal ada percakapan pribadi akan berlangsung di meja makan. Wanita itu tampak cantik meskipun belum mengenakan polesan apapun di wajahnya. Tubuhnya masih dibalut pakaian harian berbentuk piyama dan belum menggantinya dengan pakaian kerja. Sementara papa sudah tampak rapi mengenakan kemeja lengan panjang lengkap dengan dasi,wajahnya yang ganteng sangat mirip dengan Alisha, tulang hidungnya sangat tinggi khas wajah Eropa.
Alisha nampak menunduk dan memilin-milin ujung kain serbet yang menutupi pangkuannya agar makanan tak terjatuh berceceran ke lantai, raut wajahnya yang cantik tampak takut-takut menatap wajah sang papa yang garang.
“Alisha ingin bebas,Pa. Pulang sekolah pengen main dulu ke mall sama Niken dan Sandra.”
Papa hanya menatap wajah Alisha nyaris tanpa senyum, sehingga gadis itu tak berani menanyakannya lagi.
“Mobil BMW putih mau disembuyikan dimana,Pa? Semalam kita belum selesai berdiskusi,”kata mama sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
“Barusan mau papa bahas. Kita bawa ke kontrakan si Beno. Karyawan kita yang rumahnya di luar Jakarta.”
__ADS_1
“Bukannya dia kontrak tanpa garasi,Pa?”tanya mama dengan wajah keheranan, sepasang alis matanya dinaikkan.
“Maksud papa, nanti kita bayar rumah di sebelahnya lalu kita jadikan garasi dan si Beno yang bertugas mengawasinya tiap hari.”
“Boleh juga kalau begitu,Pa.”
“Sampai kapan mobil Alisha harus begitu,Pa?”tanya Alisha dengan raut wajah sendu.
“Ya..Sampai kamu lulus sekolah atau sampai kita bisa ganti plat nomornya.”
“Yakin Alisha bakal aman,Pa? Alisha gak mau masuk bui lagi seperti dulu,”rengek gadis itu sambil menyudahi makan pagi dan menyilangkan sendok dan garpu secara terbalik di atas piring makannya.
“Kamu juga harus berubah,Nak. Watakmu yang kau perbaiki. Orangtua tak selamanya hidup dan bisa mendampingimu. Paham?”seru mama dengan tegas yang mengagetkan Alisha.
Selama ini gadis itu mengira kedua orangtuanya akan meluluskan apa saja yang ia mau tanpa sekalipun memprotesnya. Namun sekarang mama telah menganggap selama ini kelakuannya keliru dan ia harus mengubahnya.
“Alisha memang gak pernah sempurna di mata kalian!”seru Alisha sambil melemparkan serbet di atas piring lalu kabur tanpa pamit.
“Alisha! Tunggu! Dengarkan penjelasan dari kami,”cegah mama sebelum Alisha naik ke atas mengambil tasnya.
“Alisha mau buru-buru ke sekolah,Ma. Naik taksi aja!”teriaknya dengan suara ketus pertanda gadis itu sedang marah.
“Berangkat sama papa ajalah! Kan kita satu arah.”
“Gak mau! Pokoknya Alisha mau naik taksi online aja. Kalau papa mengancam,Alisha gamau sekolah nih,”ancam gadis itu yang membuat kedua orangtuanya pasrah.
Sepuluh menit kemudian,datanglah supir taksi dengan diantar satpam rumah menghadap papa. Tak lama kemudian Alisha turun dan berlari mengikuti supir taksi itu, gadis itu benar-benar marah dan sengaja tak mau berpamitan pada kedua orangtuanya. Alisha memang gadis sombong dan bebal, semua yang dia lakukan salah ataupun benar, selalu benar di mata dia dan sama sekali tak mau dikritik.
“Papa mau ke kantor dulu,Ma. Nyetir sendiri bawa si Beno. Kalau pakai supir takut kebanyakan omonglah,”bisik papa ke telinga mama takut para art atau satpam mengetahui tempat persembunyian BMW milik Alisha.
Kendaraan yang biasa dipakai papa adalah sebuah Alpard warna hitam keluaran terbaru.
Mas Beno adalah salah seorang karyawan papa di bagian kontraktor yang tinggal di sebuah rumah kontrakan berjejer di daerah Bogor bersama istri dan ketiga anaknya.
__ADS_1
“Yaudah…Yang penting papa nyetirnya hati-hati dan konsentrasi ya!”sahut mama sambil membetulkan letak dasi yang dipakai papa dan mengenakan jas warna hitam yang sedari tadi belum dikenakannya.