Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 58 : First Kiss


__ADS_3

Maya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya,”Pukul sebelas lewat lima menit.”


Gadis itu tersentak kaget, acara belum selesai juga meskipun malam kian larut.


“Yuk kita pulang,”pinta Maya dengan suara manja.


“Palingan jam dua belas usai. Toh besok hari Minggu,May.”


“Aku ngantuk. Gak enak juga sama mama pulang kemalaman.”


“Yaudah kita pamit dulu,”sahut Ryan terkekeh.


Cowok itu sadar Maya adalah gadis lugu dan sederhana, berbeda dari mantan-mantannya terdahulu di sekolahnya yang rata-rata adalah party girl malah sering mengajaknya dugem bila malam minggu tiba. Kini Ryan mencoba menjadi laki-laki baik-baik mengikuti selera gadis pujaan hatinya.


Ryan menggandeng tangan Maya dan mendekati Alisha bersama kedua orang tuanya.


“Alisha…Tante…Om…Kami pulang duluan,”pamit Ryan serempak dengan Maya.


“Hati-hati di jalan,Nak.”


Kedua orang tua itu melambaikan tangan, Alisha hanya tersenyum dan meneruskan acaranya.


Ryan melirik ke arah Maya ketika keduanya telah siap melaju dengan seat belt yang telah terpasang. Cowok itu menebar senyum yang menggoda, wajahnya tampak sangat tampan, siluet wajahnya menampilkan bentuk hidung bangir dengan tulang rahang yang macho.


“Kenapa sih senyum-senyum mulu?”tanya Maya memecahkan suasana.


Bola matanya yang bulat dengan bulu matanya yang lentik tampak bergerak mengamati gerak gerik cowok itu.


Ryan memegang tangan kanan Maya dan meremasnya seolah tak ingin berpisah.


“Kita udah jalan berapa lama,May?”


“Tau ah..Gak ingat,”jawab gadis itu sekenanya.


“Udah enam bulan lebih sayang…”


Maya merasakan bulu kuduknya merinding dipanggil dengan sebutan sayang. Maklumnya Maya adalah seorang bintang kelas yang tergolong kutu buku dan tak terbiasa dengan kehidupan malam apalagi pacar-pacaran.


“Oh begitu ya? Terus?”


“Mmhhhh…”sahut Ryan sambil berpikir.


Maya hanya menatapnya dengan heran sambil membenahi posisi duduknya.


“Boleh gak aku cium kamu?”


Seketika Maya kaget dan jantungnya berdebar lebih keras, telapak tangannya mulai berkeringat dingin.


“Apa harus banget ya?”tanya gadis itu dengan polosnya.


“Ya namanya orang pacaran.”


“Okelah. Tapi jangan lama-lama. Cium dimana nih?”


“Di bibir boleh ya?”


“Ah gamau, Takut. Di kening aja,”seru Maya sambil memejamkan matanya.


Akhirnya Ryan hanya bisa menuruti permintaan gadis itu, diciumnya kening gadis itu. Rambutnya berbau sangat harum, menyeruak hingga ke rongga hidung milik Ryan.


“Peluk boleh gak?”tanya cowok itu lagi.

__ADS_1


“Kok nambah mulu sih?”


“Ya masa pacaran cuma boleh gandengan tangan,May?”


Maya tampak berpikir sejenak lalu berkata layaknya seorang ibu-ibu yang menasehati anak laki-lakinya.


“Boleh. Tapi meluknya biasa aja . Jangan pakai napsu.”


“Siap! Laksanakan!”


Lalu Ryan memeluk gadis itu sebentar, itupun sudah membuatnya bahagia.


Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dilihatnya jalanan yang sudah mulai sepi. Hanya beberapa sepeda motor dan mobil yang lalu lalang. Maya menebarkan pandangan keluar jendela. Dilihatnya beberapa warung tenda masih membuka dagangannya, ada penjual aneka rasa indomie, roti bakar, sate,maupun jajanan lainnya.


“Kalau kita udah lulus SMA. Boleh gak cium di bibir.”


Maya seolah tak mendengar pertanyaan Ryan, sehingga cowok itu mengulangi sekali lagi pertanyaan yang sama.


“Kalau kita udah lulus SMA. Boleh gak cium di bibir.”


“Harus banget ya?”sahut Maya dengan wajah kekanakan.


Ryan terkekeh mendengar jawaban gadis itu yang benar-benar masih polos.


“Yaudah,May. Nanti aja kalau kita udah nikah. Gimana?”


Maya tertawa dengan wajah kemerahan menahan malu.


“Oh ya…Tadi kamu liat Alisha kerasukan? Jangan-jangan dulu ia sejahat itu juga sedang kerasukan,May?”


“Entahlah. Wajahnya juga gak keliatan. Cuma suaranya mirip. Gak berani nuduh itu Alisha.”


“Terus hubungannya apa,May?”


“Aku lagi mikir. Kalau kembar satu telur itu pasti kembar identik semuanya nyaris sama.”


“Lalu?”


“Kita harus cari tau dulu siapa kembaran mama Alisha. Mungkin ada hubungan sama kasus Alisha.”


“Pusing,May. Biarlah itu jadi urusan mereka.”


Maya mengangguk-angguk, kasusnya udah hampir tiga bulan belum juga ketahuan siapa pelakunya.


Ryan membetulkan letak spion tengahnya, lalu sekilas mengamati wajahnya dalam cermin. Ada sebuah mobil menyalip di depannya dan menancap gas dengan kecepatan sangat tinggi.


“Busyet nyetirnya kayak orang mabok aja,”cowok itu menggeleng-gelengkan kepala.


Maya tampak terkantuk-kantuk di mobil, bulu matanya yang lentik bernaung di kelopak matanya yang kini mulai menutup.


Ryan mengelus rambut gadis itu, baru kali ini ia benar-benar sayang dengan seorang cewek. Maya yang baik hati, penolong, sabar dan tidak murahan.


Dua tahun lagi bukan waktu yang lama, Ryan pasti akan meninggalkan gadis itu. Sang papa sudah merencanakan kuliah Ryan di Amerika.


“Di sana pasti banyak cewek cantik. Banyak bule pula. Tapi gadis ini beda,”gumam Ryan.


“Pokoknya aku bakal minta papa melamar Maya sebelum aku pergi,”batin Ryan sambil menatap jalanan.


Sebentar lagi sampai di rumah Maya,namun gadis itu belum juga bangun.


Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Maya, sang mama sudah mengintip dari balik korden. Tante Wulan sudah membukakan pintu, tubuhnya dibalut daster panjang dengan motif bunga-bunga dan rambut diikat ke atas.

__ADS_1


“May…Bangun!”


Digoyang-goyangkannya tubuh gadis itu, namun ia hanya terdiam dan malah mendengkur.


“Kasian, Mungkin Maya terlalu lelah siang tadi.”


Ryan membuka pintu mobil dan terpaksa menggendong tubuh gadis itu. Tante Wulan membantunya membawakan tas milik Maya.


“Maaf,Nak Ryan. Kami telah merepotkan.”


“Oh gak apa-apa Tan,”sahut Ryan sambil menurunkan tubuh gadis itu dan merebahkannya di sofa ruang tengah.


Ryan tak enak hati untuk menurunkan Maya hingga ke kamar gadis itu.


Dilihatnya Maya menggeliat dan mulai membuka matanya yang tampak kesilauan.


“Eh,,Aku dimana? Tau-tau udah di rumah aja,”kata Maya sambil duduk.


“Tadi digendong Ryan dari mobil,”kata mama sambil tertawa.


“Hah? Kenapa gak bangunin aku?”tanya Maya dengan nada meninggi.


“Kamu tidurnya kayak kebo!”seru Ryan sambil terkekeh.


“Ah masa sih..”


“Beneran. Tadi mamamu ikut nyaksiin kok.”


“Yang bener,Ma?”


Mama hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Makasih,Nak Ryan atas bantuannya. Udah nganterin Maya pulang ke rumah.”


“Aku pamit dulu,May. Daag tante…”


Ryan pun membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar.


Maya dan sang mama mengantarkan Ryan hingga ke depan pintu dan mengamatinya hingga mobil yang dikendarainya menghilang dari pandangan.


“Ryan itu anak baik ya,May.”


“Iya,Ma.”


Maya hanya membatin dan tak mau berterus terang bahwa ia merasakan suatu ganjalan yang belum saatnya ia kemukakan pada sang mama mengenai keadaan Ryan sebenarnya yang merupakan manusia setengah vampire. Gadis itu tak ingin mama menganggapnya halu akan keberadaan vampire di era modern yang sudah serba digital seperti sekarang.


“Bisa jadi mama malah shock kalau aku cerita mengenai siapa sebenarnya Ryan,”gumam Maya sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Gadis itu membersihkan bekas make up-nya dan mencuci muka. Kini wajahnya kembali segar dan matanya sulit terpejam. Ia telah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Maya bersiap tidur dan mematikan lampu kamar serta menggantinya dengan lampu tidur.


“Drrtt..”


Sebuah pesan singkat yang masuk melalui sms. Diraihnya ponsel itu dan dibukanya.


“Gue tunggu lo di jembatan dekat sekolah jam 1 siang,”begitulah pesan dari sms barusan.


Nomor ponsel yang ta kia kenali, bisa jadi orang iseng.


Maya tak menggubrisnya dan menutup telinganya dengan bantal agar lebih cepat tertidur.

__ADS_1


__ADS_2