
Di ruang tengah, Ryan belum tidur meskipun hari sudah malam. Si ganteng sedang menikmati cemilan ringan sambil menonton televisi seorang diri.
“Praaang….”
Tiba-tiba gelas berisi air mineral yang diraihnya dari atas meja,meleset dan terjatuh. Pecahannya jatuh berserakan. Ryan berjinjit untuk menghindari pecahannya untuk meraih sepasang sandalnya dan mengetuk-ngetuknya ke atas lantai untuk membuang serpihan beling.
Cowok itu berlari ke belakang dimana kamar art berada dan mengetuk pintu kamar mereka.
“Tok…Tok…Tok….”
“Mbak….Bangun! Tolong sapu lantai. Gelas pecah,”teriak Ryan dari balik pintu.
Tak ada jawaban dari dalam kamar, cowok itu mengetuk pintu sekali lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara saklar lampu dinyalakan.
“Ceklek..”
Seraut wajah art muda dengan rambut acak-acakan dan mata menyipit karena silau membuka pintu dan menjulurkan kepalanya keluar.
“Eh…Maaf tuan. Iya sebentar saya sapu,”sahut Nurmah sambil mengikat rambutnya.
Diambilnya sapu dan pengki dari balik pintu dapur, kemudian ia berjalan ke ruang tengah.
“Sreek…Sreek…”
Suara pecahan beling beradu dengan sapu ijuk terdengar jelas di malam yang sangat sunyi. Maemunah keluar kamar dan ikut melihat ke ruang tengah.
“Pecah gelas? Wah pertanda kurang bagus,”celotehnya sambil berlalu.
“Maksudnya apa,Mbak?”tanya Ryan penasaran.
“Anu…Tuan. Kalau di kampung, itu pertanda kejadian buruk akan terjadi,”sahutnya sambil membalikkan badan menghadap tuannya.
“Oh…”
Hanya sebuah kalimat yang keluar dari mulut Ryan, segera ia tersadar sudah tiga jam berlalu namun Pak Kardi belum kembali dari Solo sedangkan perjalanan malam hari biasanya hanya memakan waktu dua jam pulang pergi.
Ryan berusaha untuk berpikiran positif, ditariknya napas dalam-dalam, sembari menarik selimutnya untuk tidur. Waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi ketika Ryan terbangun untuk ke kamar kecil.
“Kriing…Kriing…”
Terdengar dering telpon melalui ponselnya, Ryan mengacuhkannya karena enggan mengangkatnya.
“Siapa sih malam-malam mengganggu orang tidur,”umpatnya sambil merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Kriiing…Kriing…”
Kembali bunyi telpon mengganggunya, cowok ganteng itu menutupi telinganya dengan bantal.
Namun lagi-lagi suara telpon mengganggu tidurnya. Kini perasaannya mulai kurang enak terlebih setelah mengingat perkataan Maemunah mengenai makna gelas pecah. Buru-buru pikiran kotor itu ditepisnya.
Ryan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, persis di sebelah kanan tempat tidurnya.
“Halo…Selamat malam,”sapa Ryan sambil menempelkan ponsel itu ke daun telinganya.
“Malam…Benar ini rumah Tuan Ryan?”ucap suara dari seberang sana.
“Benar. Ini darimana?”
“Dari kantor polisi.”
“Hah? Ada kejadian apa ?”
“Benar Pak Kardi supir anda?”
“Benar,Pak. Dia terjerat kasus apa?”
Pikiran Ryan mulai campur aduk, rasa cemasnya membuat telapak tangannya berkeringat dan jantungnya berdetak makin kencang, lututnya pun terasa bergetar saking takutnya.
“Pak Kardi luka parah. Dia ada di rumah sakit ABC sekarang. Penumpang di belakangnya hanya luka sedikit di dahi.”
“Mobil bapak ada di kantor polisi. Bemper depan rusak parah.”
“Baiklah saya ke rumah sakit sekarang.”
Ryan menutup telponnya dan berteriak memanggil salah satu art untuk menemaninya ke rumah sakit. Cowok ganteng itu memesan taksi online menggunakan ponselnya dan membuat pesan singkat untuk memberitahu pada papa.
Ryan turun dari taksi dengan tergopoh-gopoh, menuju ruang reseptionist dan meminta data ruang perawatan Pak Kardi dan Maya.
“Bapak Kardi ada di ruang ICU, sedangkan Maya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap di lantai dua,”papar seorang perawat dengan panjang lebar.
Ryan mengajak sang art yang ikut serta malam itu ke ruang ICU. Maemunah, sang art paling senior itu memandang dengan wajah cemas tubuh dan wajah Pak Kardi yang penuh dengan luka. Di hidung terdapat selang alat bantu napas sedangkan di pergelangan tangannya tertancap jarum infus. Kondisi Pak Kardi sadar namun ia masih shock dan sulit diajak bercakap-cakap. Bibirnya tampak membengkak dan empat gigi bagian atasnya tanggal terkena benturan yang sangat keras, sedangkan tangannya mengalami luka-luka yang ringan yang membutuhkan sedikit jahitan di sana sini. Maemunah menatap Pak Kardi dengan tatapan penuh keprihatinan. Kemudian Ryan menemui dokter jaga dan menanyakan keadaan Maya. Dokter itu menyarankan untuk keluar ruangan ICU dan berjalan lurus sampai mentok kemudian berbelok ke kanan.
Maya dirawat di ruang VVIP nomor 2 yang terletak paling ujung, seorang perawat wanita mengantarkan mereka ke sana. Gadis cantik itu tampak terlelap dalam tidurnya. Perawat mengetuk pintu agar gadis itu tidak kaget. Maya membuka matanya dan melihat ke semua yang masuk ke kamarnya. Pakaiannya telah berganti dengan seragam biru rumah sakit. Kondisinya baik-baik saja , hanya keningnya dibalut perban.
“Ada benturan keras mengenai kepalanya. Tapi tidak ada yang retak di tengkorak kepalanya,”papar perawat itu sambil membawa map biru berisi medical record pasien.
Ryan mengangguk tanda mengerti, ia mengambil kursi dan mendekatkannya pada tempat tidur Maya. Gadis itu memandangnya dengan tatapan kosong seakan tak mengenali Ryan.
“May…Ini aku,Ryan.”
__ADS_1
Ryan menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Maya, hatinya sangat cemas, takut gadis itu mengalami kebutaan.
Bola mata gadis itu bergerak dengan normal, tatapannya masih bersinar seperti dahulu.
“May…Kamu dengar?”
Maya mengangguk dan mulai membuka mulutnya,”Kamu siapa?”
Ryan membelalakkan matanya, mulutnya sedikit terbuka, bagaikan dihantam pukulan keras yang bertubi-tubi. Jiwanya seakan rapuh dan hancur seketika ketika dilihatnya gadis itu tak lagi dapat mengenalinya.
“Zus…Zuster…Kenapa dia tak mengenaliku lagi?”
Perawat itu mendekati Maya dan berbisik, namun gadis itu hanya menggelengkan kepala.
“Sebentar saya panggil dokter untuk visit.”
Ryan hanya mengangguk sambil bersikap setenang mungkin. Diamatinya wajah dan tubuh gadis itu.
“Tak ada luka yang berarti selain luka kecil di kepalanya,”batin Ryan sambil menunggu kedatangan dokter yang merawat kekasihnya.
Maemunah duduk terdiam di sofa sambil memandang ke arah Maya.
Tiga puluh menit berlalu…
Seorang dokter laki-laki masuk ke dalam kamar, berkacamata dan berusia sekitar 30 tahun, ukuran tubuhnya sedang dan gaya bicaranya sangat jelas dan sopan. Ia mengeluarkan sebuah senter kecil dari kantong jas kerjanya yang berwarna putih. Kemudian memeriksa kondisi mata milik Maya, lalu mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa tubuh gadis itu.
“Kenalkan saya dokter Boy. Anda tunangannya?”tanya dokter itu sambil memasukkan stetoskop ke dalam kantung jas putihnya.
Ryan mengangguk dan tersenyum,”Benar,Dok.”
“Ada sesuatu hal buruk terjadi. Kemungkinan besar akibat benturan keras di kepalanya.”
“Maksud dokter?”
“Diagnosis kami mengarah pada amnesia retrograde. Dia kehilangan ingatan mengenai masa lalunya secara temporer,”kata dokter itu .
“Masih ada harapan untuk sembuh,Dok?”
“Kita berdoa saja. Nanti kami berikan terapi okupasi untuk membantu proses penyembuhan.”
“Terima kasih,Dok.”
Dokter dan perawat berlalu dari ruangan itu, Maemunah pamit keluar ruangan karena tidak tahan menyaksikan gadis itu. Art itu terus-menerus meneteskan air mata karena dilanda kesedihan, teringat akan anaknya yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas tahun lalu. Usianya hampir sebaya dengan Maya. Kini tinggallah Ryan berdua dengan Maya di ruangan itu. Cowok tampan rupawan itu menggenggam erat tangan Maya, yang menatapnya tanpa ekspresi. Gadis itu hanya merasakan kepalanya sakit dan ia beberapa kali meminta dokter untuk melepaskan perban di keningnya dan menggantinya dengan plester biasa yang lebih ringkas.
“Maya…”
__ADS_1
“Namaku Maya?”
Ryan mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang menangis, seolah kesedihan datang dalam hidupnya silih berganti.