
“Lepasin! Lepasin!”
Gadis itu meronta-ronta dalam keadaan digendong di punggung Ryan secara terbalik,posisi kepala gadis itu berada di bawah dan kakinya berada di atas. Tas ransel yang digendongnya sangat berat dan menimpa kepalanya bagian belakang. Maya merasakan dirinya langsung mual dan kepalanya berkunang-kunang,pandangannya pun menjadi samar-samar.
“Turunin Ryan! Kamu jahat ih!”
Maya berteriak-teriak sambil memukul punggung Ryan yang berjalan dengan sangat cepat layaknya orang sedang berlari. Posisinya yang digendong terbalik membuat mukanya memerah dan pandangangannya menjadi kabur.
“Bruuk…”
Tubuh Maya dihempaskan di atas jok bagian depan dengan posisi terduduk.Gadis itu merasakan dunia berputar,kepalanya langsung vertigo.
Nyaris kepala gadis itu terantuk pintu mobil karena bentuknya memang sangat rendah.
“Aduh….Ryan apa-apaan nih!Darah rendahku jadi kumat!”erangnya sambil menangis dan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Sorry…Yuk aku anterin ke dokter!”
“Gak perlu! “
“Wah judes amat…”
Ryan menundukkan kepalanya untuk memasang seat belt di kursi Maya, pipi Ryan hampir menyentuh pipi ranum nan putih milik Maya.
“Lumayan juga bisa deket-deket lagi sama ini cewek,”batinnya sambil memasang seat beltnya dan mengemudikan mobilnya menembus keramaian kota.
Maya yang sedang rebahan merasakan perutnya mual, benar-benar darah rendahnya makin parah.
“Kita langsung ke rumahmu,May?”
“Iyalah…”
“Gak makan dulu nih?Udah lama gak makan bareng?”
“Gak ah..Kepalaku pusing.”
“Justru itu,May. Abis makan enak,pasti sembuh kok. Ayolah!”
Gadis itu tak mempedulikan lagi pertanyaan Ryan, dirinya cuma ingin rebahan.
Si ganteng pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi melalui jalan tol, menyalip beberapa mobil di depannya.
Maya tertidur di mobil dan takt ahu kemana Ryan mengajak dirinya untuk makan-makan.
Tangan kekar milik Ryan masih memegang kemudi dan memainkan kepiawaiannya mengemudi di jalan raya hingga mereka memasuki suatu kota yang benar-benar baru dilihat oleh Maya
“Bangun,May!”
Tangan kekar milik Ryan menggoyang-goyangkan tubuh Maya yang tertidur pulas.
“Kita udah sampai.Bangun,May!”
__ADS_1
Maya membuka matanya yang terasa berat, matanya menyipit ketika melihat cahaya menyilaukan memasuki retina matanya.
“Kita dimana Ryan?”
“Bandung.”
“Hah? Gila ya! Besok kan kita sekolah.”
“Iya. Abis ini kita balik ke rumah.”
“Buat sekedar makan kenapa harus sejauh ini?”
“Aku mau tunjukin sesuatu yang baru buat kamu. Kota kembang. Aku mau cari bunga edelweiss buat kamu,May.”
“Buat apa? Di Jakarta juga banyak.”
“Aku udah pesan online tadi. Sekalian cari suasana baru,May.”
Ryan memainkan ponselnya mengirim pesan untuk seseorang dan memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah pertokoan.
Tak lama kemudian, seorang perempuan muda dengan rambut dikuncir satu dalam balutan t shir warna putih dan celana jeans warna hitam datang mendekati mobilnya.
Ryan menurunkan jendela mobil sebelah kanan, dan memberikan sebuah amplop putih berisi uang tunai.
“Ini,Mas. Hand bouquetnya. Coba cek lembaran uangnya.”
“Bagus kok. Makasih,Mbak.”
“Oh gausah,Mbak. Ambil aja kembaliannya.”
“Wah…Terima kasih,Mas. Hati-hati di jalan ya!”
Cowok keren itu memberikan hand bouquet untuk gadis kepang dua yang duduk di sebelahnya.
“Bagus banget Ryan..Terima kasih. Tapi kenapa harus ada uangnya?”
“Anggap aja itu upah kamu ngajarin les buat aku bulan ini.”
“Tapi kebanyakan Ryan. Upah les gak sampai sebanyak ini.”
“Udah..Ambil aja,May. Yang penting bunga edelweiss-nya pertanda cinta aku abadi buat kamu.”
Maya tersenyum malu-malu, pipinya yang putih kembali memerah. Dipandanginya hand bouquet besar dengan lembaran uang kertas sebanyak 50 lembar uang US $ 100.
“Kira-kira tujuh puluh juta? Wow…Bisa bantu mama buat uang kuliahku kelak,”gumam Maya.
Gadis itu sangat senang dengan pemberian Ryan sekaligus bingung karena diselipkan uang dalam nominal yang menurutnya sangat banyak.
“Abis ini kita makan di mall sana,May.”
Maya masih terbengong-bengong, baru kali ini ia melihat lembaran uang dollar Amerika dalam jumlah banyak.
__ADS_1
Mobil memasuki pelataran parkir dalam gedung sebuah mall paling besar dan paling megah di kota itu. Sejumlah pengunjung yang sedang berjalan turun dari mobil menuju area mall melirik takjub melihat mobil mewah milik Ryan yang tergolong langka.
“Yuk…Buruan turun!”
“Tapi kita masih pakai seragam. Apa boleh masuk?”
“Tuh di belakang ada t shirt baru buat ganti. Pakai aja di dalam.”
Ryan melepas kemejanya dan yang tertinggal adalah t shirt bergambar tokoh kartun. Ia membalikkan tubuhnya agar Maya bisa mengganti seragamnya dengan t shirt yang sudah ia siapkan sebelumnya.
“Kita kembaran Ryan..”
Keduanya pun tertawa terbahak-bahak dan memasuki area mall yang megah.
Ryan menggandeng tangan Maya dan berjalan berkeliling mall dari lantai dasar ke lantai paling atas menuju food court yang dipadati pengunjung.
Si ganteng menarik tangan Maya ke sebuah restoran Jepang yang berada dalam sebuah outlet cukup luas dan nyaman. Harganya relative mahal sehingga jumlah pengunjung di sana tak terlalu banyak.
“Bisa kami bantu? Untuk berapa orang?” sama seorang waitress berpakaian geisha menyambut dua remaja di pintu masuk.
“Dua orang,Mbak. Private room ya!”
“Yang ada karaoke?”
“Oh boleh.”
Kemudian waitress menunjukkan sebuah ruangan di belakang yang tertutup dan lumayan luas dengan sebuah televisi layar datar cukup besar.
Ruangan itu bernuansa Jepang yang sangat kental dengan ornament unik khas Jepang yang dan bantal-bantal kecil di lantai sebagai kursi duduk. Dua buah meja kotak dari kayu yang sangat besar berwarna hitam mengkilat melengkapi ruangan yang sejuk dan tertata rapi. Di dinding terdapat lukisan-lukisan dengan tulisan Jepang yang sangat indah.
“Kamu pilih sesukanya,May.”
Maya kebingungan melihat menu yang sangat banyak,”Kamu aja yang pilih Ryan.”
“Okelah. Mbak pesan shabu dengan kuah kaldu satu dan kuah tomyan satu,”katanya sambil menyodorkan menu pesanannya.
Kedua remaja itu membakar daging dalam sebuah pemanggang kecil dan memasukkan satu persatu sayuran dan frozen food ke dalam steam boat. Alunan lagu dalam bahasa Jepang menambah nuansa benar-benar serasa di negeri Sakura. Mata cowok itu berbinar-binar bahagia, hari ini dapat membawa gadis pujaannya kembali lagi dalam pelukannya. Meskipun ia harus merogoh kantong dalam-dalam. Tangan kekar milik Ryan kini terampil memanggang daging di atas pemanggang demi menyenangkan hati gadis pujaannya.
“Biar aku aja yang panggang Ryan. Kenapa sih kamu hari ini jadi baik banget?”
“Biar kamu tuh sadar keturunan vampire itu gak ganas.Buat buktiin kalau aku juga manusia.”
Maya menepuk lembut pundak Ryan lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
“Suatu saat kita bakal punya anak,May. Manusia juga kok.”
Pipi Maya langsung memerah karena malu. Tak disangkanya Ryan akan berpikir sejauh itu karena dirinya tak sekalipun berpikir suatu saat mereka akan menikah.
Ryan yang sangat bahagia hari itu dapat membawa Maya jalan-jalan, tak mempedulikan apapun reaksi gadis itu. Hatinya berbunga-bunga dan semangat belajarnya hidup kembali. Ia bertekad akan memperbaiki seluruh ulangan dalam semua mata pelajarannya semester ini agar tidak ketinggalan kelas dan tetap bisa bersama si gadis kepang dua yang telah berhasil merebut seluruh simpatinya.
“Cekrek…cekrek…cekrek…”
__ADS_1
Ryan mengabadikan pose mereka berdua dan mem-postingnya dalam media sosial pribadinya, baik di Instagram maupun facebook sehingga teman-temannya dapat melihat kegiatannya saat itu.