Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 73: Kejujuran


__ADS_3

Maya membelalakkan matanya ketika Ryan menunjukkan proses pembuatan susu rasa watermelon dan dragon fruit yang biasa ia minum.


“Hoeks….”


Gadis itu berlari sambil menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“May…Tunggu!”


Ryan mengejar Maya yang menuju toilet di pabrik susu milik papa Ryan, Om Robert.


“Sumpah..Baru kali ini aku melihat darah sapi dicampur susu,”batin Maya sambil menyeka mulutnya dengan tisu.


Ditatapnya wajahnya di muka cermin yang tampak pucat, keringat dinginnya mengalir dan kakinya gemetar.


Jari jemarinya yang lentik bersandar di atas permukaan wastafel, ia bingung menatap masa depannya dengan manusia setengah vampire yang rutin minum susu bercampur darah binatang.


“Kadang aku lupa kalau Ryan itu manusia setengah vampire, kadang aku juga jijik melihatnya minum susu campur darah sapi. Bagaimana anak keturunanku nanti?”


Maya melangkahkan kaki keluar toilet sambil menghela napas panjang. Kini ia benar-benar menghadapi dilema karena hati kecilnya berkata, ia juga mencintai Ryan. Cowok itu punya hati yang tulus bahkan kebaikan hatinya melebihi manusia lain.


“May…Maafin aku kalau udah bikin kamu illfeel,”kata Ryan yang tiba-tiba muncul di balik pintu.


Ternyata Ryan menunggunya di depan toilet karena kuatir akan terjadi sesuatu dengan gadis itu.


“Bukan illfeel,Ryan. Wajarlah, manusia mana yang peminum darah binatang,”sahutnya pelan.


“Kan aku udah bilang,May. Tanpa minum darah pun tetap hidup normal.”


“Kenapa tetap kamu lakuin?”


“Sama seperti manusia juga,May. Guna susu untuk melengkapi kebutuhan nutrisi yang gak kita dapat dari makanan sehari-hari.”


“Aku cuma bingung. Suatu saat pasti mama tau soal ini.”


“Biar aku yang jelasin soal ini,May?”


“Hah?”bola mata bulat milik Maya melotot saking kagetnya.


Gadis itu tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan sang mama andaikan Ryan benar-benar menjelaskan keadaan sebenarnya.


Sepulang dari kunjungan ke pabrik, Ryan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.


Mama telah menunggu mereka di depan pintu. Maya membuka pintu dengan tangan bergetar, mulutnya seakan terkunci, tak mampu berkata-kata bahwa hari ini Ryan akan menyatakan sebuah kejujuran mengenai keberadaan dirinya.


“Oh..Kalian sudah datang? Yuk makan malam bareng dulu.”

__ADS_1


Nampaknya mama sudah bekerja keras untuk menyiapkan makan malam. Ryan tak kuasa untuk menolaknya, ia ingin menghargai Tante Wulan dan menyenangkan hatinya.


“Wah…masakan tante sungguh enak. Gurame asam manisnya benar-benar crispy. Ayamnya juga empuk banget. Gak kalah dengan menu restoran ternama,”puji cowok itu sambil meneguk jus mangga sebagai hidangan penutup.


Mama tampak tersenyum bangga dan menyodorkan pudding dua lapis buatannya untuk Maya dan Ryan.


“Aduh…Banyak banget makanannya,Tan. Ryan susah jalan nanti,”selorohnya sambil tertawa.


Maya menatap keduanya sambil tertawa, lesung pipitnya mempermanis wajahnya yang imut.


Bola mata bulatnya terus memperhatikan suapan terakhir pudding yang dimakan Ryan. Entah mengapa jantungnya berdebar makin kencang ketika mereka selesai makan. Gadis itu tak sabar menunggu apa reaksi mama ketika Ryan membuka jati diri sebenarnya.


“Ma..Ryan…Maya ijin naik ke atas dulu,”pamit gadis itu sambil membalikkan tubuh.


Keduanya tampak tersenyum dan makin asyik mengobrol di ruang televisi. Langkah kaki Maya menaiki anak tangga menuju kamarnya sengaja diperlambat. Gadis itu seakan ingin memotong waktu dan tak ingin menyaksikan reaksi sang mama mengenai cowok yang kini jadi kekasih hatinya.


Memasuki kamarnya yang nyaman dan sejuk,Maya sengaja berlama-lama ketika selesai menggunakan toilet di dalam kamarnya.


“Sikat gigi udah. Cuci tangan udah. Menyisir rambut udah..Apa lagi ya?”gumamnya sambil memandang wajahnya di depan cermin.


Maya berharap pengakuan mengenai kisah hidup Ryan akan selesai begitu ia sampai di lantai bawah. Nyatanya, mereka masih tertawa dan menonton televisi bersama.


“Gak ada reaksi mengejutkan dari mama?”tanyanya dalam hati sambil memandang heran ke arah mereka berdua.


“Sini lho,May. Katanya Ryan mau menceritakan sesuatu yang penting,”ajak mama sambil menyeret tangan Maya untuk duduk di tengah-tengah.


Ryan tampak menegakkan posisi duduknya, tubuhnya yang atletik tampak gagah dalam balutan t shirt merah marun bergaris hitam yang dipadukan dengan celana panjang warna putih yang senada dengan sneakers yang dikenakannya.


“Jadi tan..Rencana semester depan, papa akan datang kemari untuk melamar Maya?”


“Hah?”ujung mata Maya melirik ke arah Ryan dan bibir mungilnya terbuka lebar.


“Kok malah mangap?”sindir Maya.


Gadis itu sengaja menginjak pelan ujung sepatu Ryan dengan kakinya.


“Duh…Gimana sih malah ceritanya beda!”gerutu Maya dalam hati.


Ryan sama sekali tak menceritakan kalau dirinya manusia setengah vampire,melainkan rencananya melamar Maya sebelum mereka berpisah untuk meneruskan kuliah masing-masing.


“Bukannya kamu mau cerita ke mama kalau sebenarnya kamu itu manusia setengah vampire?”


Bagai petir yang menyambar di malam hari, gadis itu sangat berani membuka jati diri Ryan tanpa seijinnya.


“Hah? Vampire?”tanya mama sambil tergelak.

__ADS_1


Ryan ikut tertawa. Mama malah makin tidak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya.


“Kamu becanda aja,May.”


Ryan pun hanya terdiam sehingga Maya tak berani menjelaskan lebih lanjut.


“Jaman modern begini. Udah gak ada vampire,May. Itu dongeng lama. Ratusan taun lalu,”papar mama panjang lebar.


“Tapi,Ma. Kalau benar Ryan itu vampire kayak di film-film. Reaksi mama gimana?”


“Ya gak bakal adalah,May. Lagian kamu juga liat Ryan itu manusia. Gak punya taring panjang dan gak kebakar kalau kena matahari,”sahut mama.


Maya hanya terdiam karena gadis itu tak punya argumentasi lain mengenai per-vampire-an.


Ryan tampak menghela napas panjang dan merasa lega. Kehadirannya tak mengundang kecurigaan Tante Wulan sedikitpun.


“Tapi,Nak. Melamar Maya di usia seperti sekarang apakah tidak terlalu dini? Perjalanan kalian masih panjang.”kata mama sambil membenahi letak kacamatanya.


“Tidak,Tan. Itu kemauan Ryan sendiri dan papa menyetujuinya kok.”


“Kamu sendiri gimana,May?”


“Maya malah gak tau soal beginian,Ma.”


Mama hanya tersenyum mendengar jawaban lugu putrinya.


“Oh ya, Tan. Saya mau minta ijin. Sehabis kenaikan kelas 12 nanti. Ryan mau ajak Maya fisioterapi biar jalannya kembali balance.”


“Oh… Terima kasih,Nak Ryan,”sahut mama sambil menyeka air matanya karena terharu.


Wanita itu telah lama berharap untuk mengobati kaki putrinya agar bisa berjalan dengan seimbang lagi seperti sebelum terjadinya kecelakaan.


“Tapi udah lama banget,lho. Apa masih bisa sembuh?”tanya Maya dengan tatapan penuh keraguan.


“Kita coba aja,May. Kalau perlu kita berobat keluar negeri.”


“Apa gak berlebihan sekali,Nak? Nanti Maya akan menghabiskan uang banyak,”kata mama.


“Oh gak apa-apa,Tan. Ryan udah ijin papa kok. Kata papa, boleh. Ajak aja Tante Wulan buat nemenin Maya selama berobat.”


“Wah…Tante ikut jalan-jalan dong?”tanya mama dengan sorot mata berbinar-binar karena bahagia.


“Manusia gak ada yang perfect,Tan. Kita hanya bisa berusaha untuk menjadi lebih perfect. Yang Maha Sempurna hanya milik Allah.”


“Cowok itu ternyata bijaksana juga,”gumam Maya sambil tersenyum.

__ADS_1


Hatinya berbunga-bunga mendapat harapan baru dari kekasih hatinya yang mencintainya dengan tulus meskipun banyak perbedaan di antara mereka.


__ADS_2