
Tengah malam mereka baru sampai di kos. Maya menurunkan tas ranselnya di depan pintu. Langit yang gelap dengan bintang-bintang kecil bertebaran di langit, udara malam yang dingin menusuk tulang. Semua penghuni kos telah rebah di peraduannya masing-masing, rumah-rumah sekitarnya pun tampak sepi, menyisakan suara jangkrik yang berbunyi di sela-sela rerumputan. Gadis itu meletakkan tas ranselnya di atas kursi besi yang terletak di teras, persis di sebelah kanan pintu masuk. Sementara Ryan baru saja mengunci pintu mobil dan berjalan memasuki halaman rumah kos itu.
“Tok..Tok…Tok…”
Tak ada sahutan dari balik pintu, gadis itu memilin ujung kaosnya sambil termenung di depan pintu.
“Belum dibuka juga? Besok malam kita naik pesawat ke Jakarta,May.”
“Nanggung ya..Harusnya aku gausah balik ke kos kalau begini,”sahut Maya sambil menyandarkan punggungnya di dinding .
Ryan mengangkat bahunya,”Terserah kamu sih. Barangkali mau ambil pakaian yang lain.”
“Ceklek…”
Bunyi anak kunci dibuka, art menjulurkan lehernya dan muncullah kepalanya dari dalam pintu, rambutnya acak-acakan dan matanya menyipit. Art itu mengenakan daster bermotif daun warna hijau yang telah using.
“Oh…Mbak Maya. Silakan masuk,”sapa sang art.
“Maaf kemalaman,Mbak. Sekalian mau pamit ke ibu kos. Besok aku mau balik ke Jakarta,”ucap Maya sambil mengangkat tas ranselnya.
“Aku balik dulu,May.”
__ADS_1
“Hati-hati lho. Udah malam soalnya. Jalanan gelap,”saran Maya sambil berdiri di depan pintu.
“Hati-hati lho,Den. Takut ada begal tengah malam,”nasehat art dengan wajah serius.
“Yang bener,Mbak? Masa ada begal di daerah Jawa?”tanya Ryan dengan alis dinaikkan.
“Iya..Denger-denger dari orang di pasar sih,”sahut art sambil menaikkan dasternya yang sedikit melorot karena kebesaran.
“Yaudah. Aku jalan dulu,May. Besok siang aku udah jemput kamu di sini,”ujar Ryan sambil membalikkan badan.
Maya melepas kepergian kekasihnya sambil melambaikan tangan.
“Hehehehe…Terima kasih,Mbak. Tapi kok banyak bener?”
Maya hanya tertawa dan enggan menceritakan hal sesungguhnya yang terjadi. Ia takut sang art berprasangka macam-macam.
“Oh ya…Mbak gak mudik selama lebaran?”
“Enggak. Abis kasian sama ibu. Dia kan gak punya anak, suami sudah meninggal,anak juga gak ada,”sahut art dengan wajah memelas.
“Yaudah. Jaga Ibu Laksmi baik-baik. Ini ada sedikit uang untuk beli baju lebaran,”ucap Maya sambil mengeluarkan tiga lembar uang kertas berwarna merah.
__ADS_1
“Wah..Banyak bener. Terima kasih,Mbak. Saya udah beli , yang ini buat ditabung boleh?”tanya sang art dengan mata berbinar.
“Boleh..boleh....”
Maya tertawa mendengar keluguan sang art, lalu berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Maya menaiki tangga, suasana kos mulai sepi karena beberapa penghuni telah mudik. Hanya terdengar sebuah suara mencicit dari token listrik yang habis dari kamar bawah, suaranya mirip dengan alarm jam. Kamar Wulan di sebelahny juga tampak gelap, sandal yang biasa terletak di depan pintu kini sudah tidak di tempat. Itu pertanda gadis itu telah mudik, pulang ke rumah orang tuanya untuk merayakan lebaran. Kini Maya sudah yatim piatu, paman dan bibinya jauh di luar kota dan mereka sibuk dengan keluarga besarnya. Maya hanya bisa mengucapkan selamat lebaran melalui pesan di whatsapp-nya. Gadis itu hanya bisa merayakan lebaran bersama Ryan dan calon mertuanya di Jakarta.
“Syukuri aja semua. Mama dan papa juga kini telah bahagia bersama di Surga,”batinnya sambil menitikkan air mata.
“Ceklek…”
Pintu terbuka, semua barang di kamarnya masih tampak rapi seperti biasanya, penduduk kampung belakang juga sudah sunyi senyap.
Gadis itu membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, agar esok pagi bisa mempersiapkan kopernya untuk pergi ke bandara.
Maya menarik selimutnya hendak tidur, tiba-tiba sebuah dering telpon malam hari membuatnya kembali terbangun.
“Ryan? Ada apa dengan dia? Jangan-jangan ketemu begal di jalan?”
Peringatan dari sang art membuatnya gundah gulana.
__ADS_1