Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 83: Diagnosis


__ADS_3

Hari pertama masuk sekolah…


Udara pagi masih segar, masih terlihat tetesan embun di atas dedaunan hijau, suara burung bernyanyi riang menyambut hangatnya sinar mentari yang terbit di ufuk timur.


Wali kelas 12 Biologi 5 adalah Bu Rita yang hanya memberikan kata pengantar dan perkenalan untuk beberapa guru yang baru bergabung dengan yayasan, gambaran kelas 12 dan bimbel tambahan yang akan diadakan 3 bulan sebelum UN. Tahun ajaran ini, Ryan terpisah kelas dengannya. Cowok itu kini berada di kelas 12 Biologi 3, sementara Alisha dan Affandra berada di kelas lain yang berbeda pula.


“Teng…Teng…Teng….”


Bel tanda pelajaran usai berbunyi saat waktu tepat menunjukkan pukul 10 pagi. Maya mulai menyalakan ponselnya, diraihnya tas dan digendongnya di punggung.


“Dring…Dring…”


Suara pesan masuk via whatssup, gadis itu membukanya.


“Tunggu aku di gerbang sekolah,May.Kita pulang sama-sama,”bunyi pesan singkat Ryan membuatnya semangat hidupnya bangkit kembali.


Semalaman Maya galau, tidurnya sangat gelisah memikirkan nasib sang mama dan vonis yang akan beliau terima nanti sore.


“May…Aku di sini!”teriak Ryan ketika gadis itu berjalan ke arah gerbang sekolah.


“Cepat masuklah! Biar kita bisa ke rumah sakit agak siangan.”


Maya mengangguk, jantungnya berdebar tak karuan akan mendengar diagnosis dokter beberapa jam ke dapan.


“May..Kita mampir makan bakso langganan yuk!”


Gadis itu hanya menganggukkan kepala, tak kuasa menolak ajakan Ryan yang telah banyak membantu dalam semua persoalan hidup yang dialaminya.


Di rumah makan khusus aneka jenis bakso….


Maya menyendok bakso dalam mangkok tanpa semangat.


“Udahlah,May. Berpikir positif aja. Gimana yang jadi aku sejak bayi gak punya mama.”


Sontak gadis itu tersadar, ia jauh lebih beruntung daripada Ryan, diangkatnya dagunya untuk menatap cowok itu dan tersenyum. Kini semangatnya pulih kembali.

__ADS_1


“Semua yang ada di dunia,kelak akan kembali ke penciptanya,May. Kita harus tetap tabah menjalani hidup,”papar Ryan panjang lebar.


Kadang cowok itu tampak acuh tak acuh, tapi di lain kesempatan terlihat sangat dewasa dan matang, Maya sangat bersyukur bisa mendapatkan cinta dan kasih sayangnya. Sosok lelaki yang bisa melindunginya dan memberikan perhatian yang selama ini hilang dari sosok sang papa.


“Aku takut kehilangan mama,”kata Maya sambil meneguk air mineral dari dalam botol.


“Mama pasti sembuh,May. Kalaupun hal terburuk terjadi, kan masih ada aku.”


“Tapi kelak kau kuliah jauh di negeri orang. Aku di sini sendirian. Mana biaya kuliah di FK kan mahal,Ryan.”


“Aku dan papa akan selalu membantumu,May.”


“Mama bilang dia masih ada asuransi jiwa sebagai warisan untukku. Kalau kurang jual aja rumah dan beli yang lebih kecil.”


“Jangan lakukan itu,May! Disewakan aja. Papa udah bilang kok, dia mau dukung kamu sampai lulus jadi dokter,”kata Ryan sungguh-sungguh.


“Terima kasih,Ryan. Tapi itu terlalu berlebihan dan belum waktunya,”sahut Maya dengan mata berkaca-kaca.


“Gak,May. Sebelum ujian akhir, aku akan minta papa untuk melamarmu.”


“Hah? Tapi kita masih sekolah,Ryan.”


Maya tersipu malu, wajahnya menunduk menatap bakso dan mangkok yang berada di hadapannya.


“Ayo senyum! Biar tambah cantik. Aku pengen liat lesung pipitmu.”


Maya memberikan senyuman termanis,namun kemudia gadis itu kembali terisak dalam tangisnya.


“Udah ih..malu. Jangan nangis di sini!”kata Ryan sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Siang itu mama ke rumah sakit kembali dengan diantar Maya dan Ryan. Seperti biasa,mereka harus melalui antrean panjang di depan ruang periksa. Maya menutup mata dan berdoa, demikian pula sang mama. Wajah ketiganya berubah sendu selama menunggu, dan hanya sesekali membuka ponsel sambil mendengarkan music melalui headset.


“Siang,Dok.”


“Siang. Jadi ini hasil tes darah dan biopsinya…”

__ADS_1


“Apa hasilnya dok?”buru-buru mama memotong pembicaraan saking tidak sabarnya.


“Maaf,Bu. Tenangkan diri dulu. Diagnosisnya adalah cancer rahim stadium 3.Tapi lebih baik ibu konsultasi lagi ke spesialis onkologi untuk memastikan.”


Bagai disambar petir siang hari,tubuh Maya lemas seketika, jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya pucat pasi. Sang mama pun langsung menahan isak tangis, suaranya berubah parau.


“Baiklah,Dok. Terima kasih.”


Ryan memandang keduanya dengan wajah cemas. Maya menangis terisak di ruang tunggu sehingga cowok itu menariknya ke arah resto terdekat yang lumayan sepi.


“Udahlah. Lebih baik kita cek sekali lagi ke spesialis onkologi.”


Kembali ketiganya menuju ruang pendaftaran dan berlama-lama menunggu demi sebuah kepastian.


Entah berapa jam sudah mereka habiskan di rumah sakit itu, hingga vonis dari dokter spesialis onkologi pun sama, mama mengidap kanker rahim stadium 3, mendekati kegawatan level tertinggi.


“Tetaplah bersikap tenang, untuk mempercepat penyembuhan,”pesan dokter sebelum mereka keluar ruangan.


Sejak itu tekad Maya untuk menjadi seorang dokter spesialis kandungan semakin kuat, dirinya semakin rajin belajar untuk dapat membanggakan sang mama dan mewujudkan cita-citanya, termasuk menemukan cara-cara paling efektif untuk mencegah penyebaran kanker rahim bagi seseorang yang memiliki riwayat sakit kanker secara genetik.


“Hidup memang tak selalu sempurna,May. Manusia tak akan pernah sempurna,”nasehat Ryan ketika mereka sudah sampai di rumah Maya.


Mama mulai saat itu lebih banyak beristirahat dan mempekerjakan tiga art,dua art untuk pekerjaan laundry dan Wati yang sekarang ditugaskan mengurus pekerjaan rumah tangga menggantikan peran mama. Ryan ikut prihatin dengan masalah yang dialami orang tua satu-satunya bagi sang kekasih. Di tengah perekonomian keluarganya yang serba pas-pasan, sang mama harus menanggung penderitaan yang tentunya membutuhkan dana sangat besar.


“Uang pertanggungan asuransi kesehatan milik mama cuma 500 juta,”kata Maya ketika mereka berada di teras depan rumah.


“Bisa abis 1-2 M lho. Nanti aku coba minta tolong papa untuk cari solusi.”


“Uang sebanyak itu. Bagaimana cara aku menggantinya?”tanya Maya sambil menahan tangis.


“Udah…Jangan terlalu dipikirkan. Papa bilang kalau kamu mau serius menerima lamaranku. Uang gak ada artinya,kelak kau akan jadi ibu anak-anak kita. Kamu membayarnya dengan jasa yang jauh lebih berharga, perjuangan nyawa.”


Gadis itu menatap cowok yang duduk di hadapannya, masih dibalut seragam putih abu-abu, terkesan tak peduli namun karakter aslinya sangat dewasa melebihi usianya. Maya sangat beruntung bila kelak dapat berjodoh dengannya.


Gadis itu menyeka air mata dengan punggung tangannya, bukan karena sedih tapi terharu bahagia, dirinya sama sekali belum memikirkan pernikahan atau lamaran, tapi kesempatan datang begitu cepat dan dirinya tak mampu menolaknya, terlebih kondisi mama saat ini benar-benar terjepit.

__ADS_1


“Kamu harus kuat,May! Suatu saat kita harus hidup mandiri tanpa orang tua. Berikan yang terbaik untuk mereka selagi masih hidup.”


Maya mengangguk, dan menatap ke langit senja yang semburat kemerahan. Masa depan akan indah pada waktunya, dan hidup tak akan selamanya lurus, akan banyak kerikil-kerikil kecil dalam kehidupan. Manusia harus selalu tabah dan tawakal menjalaninya.


__ADS_2